Sigit Pramono: Mantan Bankir Pengabdi Seni, Sosok di Balik Festival Jazz Gunung

Entah sebutan apa yang cocok untuknya. Yang pasti, Sigit Pramono adalah bankir yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama BNI (2003-2008). Dan, kini namanya melekat erat dengan kegiatan musik jazz yang populer disebut Jazz Gunung. Dialah salah satu penggagas terselenggaranya kegiatan musik di alam terbuka bersama seniman nyentrik Djaduk Ferianto (alm.) dan kakaknya, Butet Kartaredjasa --putra seniman Yogyakarta, Bagong Kussudiardjo.

“Kami pelopor pementasan jazz di alam terbuka,” ungkap Sigit. Ia senang idenya semakin banyak ditiru oleh penyelenggara kegiatan musik. “Semua mengikuti konsep yang kami usung, yakni menyelenggarakan pementasan musik di tempat terbuka, khususnya pementasan jazz,” katanya. Ia bangga dengan hadirnya jazz pantai, jazz hutan, dll.

Menurut Sigit, perhelatan musik jazz di sebuah panggung/pelataran terbuka ibarat merayakan kebebasan jiwa dengan kearifan alam pegunungan yang telah menjadi simbol budaya asli di Nusantara. Musik jazz hadir sebagai kekuatan yang diharapkan mampu mendorong dialog kemanusiaan yang memperkaya peradaban Indonesia. “Dengan menghidupkan musik jazz, berarti merayakan jazz sebagai sebuah kegembiraan,” ungkap Sigit yang ingin hidupnya lebih seimbang.

Diakuinya, Jazz Gunung yang terselenggara sejak 2009 tidaklah serta-merta sempurna. Awalnya adalah niat meramaikan resor miliknya di Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang dinamai Java Banana. Kompleks resor berkontur indah ini, selain terkenal dengan kopi dan pisang gorengnya, juga bisa digunakan untuk melangsungkan pertunjukan festival luar ruang.

“Kebetulan, saya senang musik Jazz. Jadi, saya ingin konsep festival jazz, tapi mengusung jazz dengan nuansa etnik,” cerita Sigit. Ia pun kemudian mengajak Djaduk yang memiliki kelompok musik Kua Etnika.

Pada saat yang sama, Sigit juga bermaksud me-rebranding Bromo yang selama ini hanya “menjual” matahari terbit. “Bahwa Gunung Bromo bukan cuma destinasi untuk tempat melihat matahari terbit yang paling indah di dunia,” ujar Sigit tampak kesal. Menurutnya, kalau hanya dikemas sebagai tempat untuk melihat matahari terbit, pengunjung Bromo hanya datang semalam. Mereka akan datang di sore hari, masuk ke hotel, kemudian tidur, dan pukul tiga pagi dibangunkan untuk melihat matahari terbit. Kemudian, pagi-pagi pukul 8 mereka sarapan dan checkout dari hotel, kemudian pulang. Mereka hanya menghabiskan waktu semalaman di Bromo.

Jika hal itu dibiarkan, tetesan ekonomi untuk masyarakat di sana tidak banyak. “Kami harus melakukan rebranding Bromo yang telanjur salah dikemas hanya sebagai tempat melihat matahari terbit dan semalam. Sementara, di sektor pariwisata, ada konsep untuk bisa menahan wisatawan agar mereka memperpanjang masa tinggalnya. Karena, semakin lama tinggal, dia akan membelanjakan uangnya lebih banyak,” Sigit memaparkan.

“Itu menjadi alasan mengapa kami menyelenggarakan jazz di gunung. Supaya wisatawan bukan hanya melihat matahari terbit, tetapi juga datang ke Jazz Bromo sambil menikmati alam terbuka,” kata penggemar fotografi ini. Dari situlah, lahir Jazz Gunung. Sigit ingin memanggil orang ke Bromo dan tinggal lebih lama di kawasan sekitarnya. Jazz Gunung menjadi sarana untuk memanggil orang beramai-ramai ke Bromo. “Selain menikmati panorama sekitar Bromo, orang diajak selama dua hari menikmati musik,” katanya mantab.

Dari menggagas Jazz Gunung di Bromo dan Ijen, kini Sigit semakin mantap dengan kegiatan barunya sebagai penyelenggara event musik. Dalam waktu dekat, ia akan mengangkat musik jazz di tataran yang berbeda, yakni mengadakan festival musik jazz di ruang terbuka dan alam. Tujuannya, selain mengajak menikmati musik jazz, ia juga ingin mempromosikan destinasi tempat diselenggarakannya fastival jazz tersebut.

“Jika diselenggarakan di Ijen, kami akan mempromosikan Ijen dan Banyuwangi. Nanti, ketika kami menyelenggarakan Jazz Burangrang, kami akan mempromosikan Lembang dan sekitarnya” ia menjelaskan.

Bagi pria kelahiran Batang, Jawa Tengah, 14 November 1958 ini, festival musik di pelosok Tanah Air sesungguhnya bisa menjadi bagian dari menggalakkan pariwisata. Ia mencontohkan, Jazz Bromo sudah masuk dalam kalender event Kementerian Pariwisata. “Betapapun, event tersebut sudah diakui dan untuk mengangkat destinasi pariwisata di Indonesia,” Sigit menandaskan.

Maka, ia pun memanfaatkan konsep Jazz Bromo untuk menyelenggarakannya di tempat lain, yakni Gunung Burangrang. “Tinggal bagaimana kami bisa menghadirkan suasana etnik di tempat-tempat tersebut,” ujarnya.

Di Bromo, pihaknya bisa menggabungkan musik modern dengan musik tradisional Jawa Timur. Sementara di Banyuwangi, bisa berkolaborasi dengan musisi lokal. Adapun di Gunung Burangrang, akan dihadirkan budaya Sunda, dan di Gunung Toba, akan dihadirkan etnik Toba. “Sehingga, kita semua mendapatkan banyak manfaat. Untuk masyarakat, pemusik atau musisi, mereka juga mendapatkan limpahan untuk menampilkan diri,” Sigit menjelaskan.

Menurutnya, pertunjukan musik yang diselenggarakannya tidak hanya menampilkan musik, tetapi ada konsep yang menonjolkan nuansa etnik di setiap penyelenggaraannya. Kebetulan, jazz termasuk musik yang longgar, yang bisa digabungkan dengan apa saja, misalnya dengan keroncong atau berkolaborasi dengan Didi Kempot. “Musik apa pun bisa masuk ke dalam jazz, sehingga kami sebagai penyelenggara acara bisa bergerak terbuka dan tanpa sekat,” katanya.

Dalam pandangan Sigit, jazz tidak memiliki sekat apa pun dan tidak eksklusif. Jazz sangat inklusif, penontonnya dari anak muda sampai sangat senior. Dari segi gender juga seimbang. “Kami sangat terbuka dan jazz sendiri sangat terbuka. Kami tidak membuat festival ini eksklusif, namun karena tempatnya terbatas, jumlahnya juga jadi terbatas,” Sigit meyakinkan.

Sejauh ini, diakuinya, penyelenggaraan kegiatan di Gunung Bromo dan Gunung Ijen masih dilakukan sendiri karena kebetulan tempat yang digunakan untuk event adalah milik sendiri. Di kawasan Bromo, Sigit memiliki resor Java Banana. Adapun di kawasan Ijen, mempunyai Jiwa Jawa Ijen. Dibangun di lokasi yang dekat dengan destinasi wisata, resor ini dikenal berwawasan lingkungan; lanskap dan taman dibangun dengan mengedepankan tanaman asli (endemik) di daerah setempat. Jiwa Jawa Ijen menggabungkan destinasi wisata alam dan seni budaya.

Baik di resor Bromo maupun Ijen dibangun galeri seni dan amfiteater terbuka. Juga ada penyelenggaraan acara kesenian kontemporer dan seni budaya tradisional setiap Minggu. “Setiap tahun, di Ijen, kami juga menyelenggarakan pentas Tari Gandrung dan di Bromo kami menyelenggarakan Tari Jaranan, Festival Lembah Ijen dan Sendratari Legenda Gandrung, Festival Jathilan Bromo, Jazz Gunung dll.,” ungkap Sigit yang rutin mengunjungi resor-resornya yang terus dikembangkan.

Ke depan, Sigit tidak menutup kemungkinan bekerjasama dengan pihak lain. “Selama ada kesamaan visi, kami akan berkolaborasi. Tujuan kami, membangun tempat wisata yang dijadikan tempat perayaan festival yang menjadi daya tarik wisata, sehingga lebih dikenal di (tingkat) nasional dan internasional,” katanya tandas. Ia  mencoba menyiasatinya dengan memperbanyak tempat penyelenggaraan.

Rencananya, untuk tahun 2020 ini telah disiapkan beberapa rangkaian kegiatan. Pertama, 24-25 Juni, diselenggarakan Jazz Bromo. Kemudian, 21 September, dilaksanakan Jazz Gunung Ijen. Dan, November 2020, akan diselenggarakan Jazz Gunung Burangrang dan Gunung Slamet untuk pertama kalinya. Selanjutnya, Sigit akan membuat Jazz Gunung Series yang dibuat satu rangkaian.

“Kami harapkan bisa membuat itu di tempat-tempat yang bisa dikunjungi sebagai tempat wisata, khususnya gunung. Indonesia memiliki 127 gunung aktif, sehingga kami melihat masih memiliki peluang untuk memaksimalkan ini,” katanya. “Tahun 2021, kami akan membuat Jazz Gunung Toba,” ujar Sigit yang sudah dipenuhi jadwal acara.

Untuk festival semacam itu, menurut Sigit, memang tidak menargetkan penonton sebanyak-banyaknya. Yang lebih penting, mendapatkan penonton loyal sehingga acaranya dapat dikemas berkelanjutan. Jazz Gunung Bromo, misalnya, setiap kali penyelenggaraan ada sekitar 4 ribu lebih penonton. “Itu pun sudah sangat bagus, karena kami menyelenggarakan festival jazz yang lebih kecil, 800-2 ribu pemnonton,” ujarnya. Bahkan, di Jazz Gunung Ijen, hanya 800 orang pengunjungnya,” ujarnya lagi.

Bagi Sigit, yang terpenting adalah memperbanyak destinasi atau tempat penyelenggaraannya. “Kami tidak membesarkan kapasitasnya, tapi lebih ke penyelenggaraan di tempat yang lain,” ungkapnya. (*)

Dyah Hasto Palupi dan Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)