Rajiv Lamba, Terapkan Gaya Kepemimpinan Mentoring

Rajiv Lamba, Global Managing Director PT Neurosensum Technology International

Dunia riset marketing sudah menjadi jiwa Rajiv Lamba. Pria kelahiran India, 1 Maret 1978 ini menggeluti seluk beluk riset pemasaran sudah 14 tahun lamanya. “Meski latar belakang pendidikan saya teknik, tapi passion saya bidang marketing research,” ujar ekspatriat berkebangsaan India tersebut.

Rajiv bercerita, setamat kuliah S1 Teknik Mesin di Punjab Engineering College, Chandigarh, India tahun 1999, sempat bekerja tiga bulan di Negeri Taj Mahal itu. Lalu, dia melanjutkan kuliah lagi Master in Business Administration di Xavier Institute of Management, Bhubaneswar, India tahun 2001-2004.

Atas ajakan koleganya saat kuliah MBA itulah, Rajiv akhirnya nekat merantau ke Indonesia pada 2004. “Awalnya saya bekerja di salah satu market research multinational company sebagai technical advisor. Saya bertugas men-set up proyek, menganalisa riset, presentasi untuk 15 klien kami,” ucap pria bertubuh ramping ini. Tahun 2005, ia dipercaya sebagai Kepala Divisi Insight Indonesia.

Dengan passion di dunia riset marketing, tak pelak karier Rajiv terus melesat. Tahun 2007, ia pun menjabat posisi direktur di sebuah perusahaan multinasional bidang market research lainnya selama 11 tahun dan berakhir pada tahun 2018, dengan posisi terakhir sebagai direktur pengelola.

Kemudian, tahun 2018 Rajiv kembali menjadi karyawan lagi di posisi eksekutif top. Ia bergabung dengan PT Neurosensum Technology International, perusahaan riset marketing yang berkantor pusat di Singapura. Sejatinya Neurosensum sudah resmi beroperasi pada Juli 2017 di Negeri Jiran itu, namun beroperasi komersial di Indonesia pada Februari 2018.

“Neurosensum adalah bagian dari Sensum Group. Jadi, ada dua anak perusahaaan Sensum Group, yakni Neurosensum yang menangani bisnis marketing research dan Aisensum yang mengelola bisnis Big Data,” kata Global Managing Director PT Neurosensum Technology International, itu.

Mengapa pindah ke Neurosensum? “Di Neurosensum, kami menggabungkan riset dan teknologi. Ini bedanya dengan perusahaan riset marketing lain. Perusahaan marketing research berbasis Neuroscience dan Artificial Intelligence (AI) menggunakan metode baru dengan perangkat biometrik untuk memperoleh respons implisit dari konsumen,” kata Rajiv mengklaim.

Rajiv mengungkapkan, untuk melakukan survei pasar terhadap iklan, produk atau kemasan, Neurosensum menggunakan perangkat EEG (electroencephalogram), eye tracker, virtual reality (VR) dan facial coding.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)