Ratna Somantri Mancicipi Bisnis Teh Putih

Setelahi kerap menjadi pembicara publik, menelurkan beberapa buku seputar teh dan mendirikan komunitas teh, Ratna Somantri akhirnya berencana memulai bisnis teh pertamanya.

IMG_0428 Ratna Somantri (foto by: Lila Intana)

Perempuan kelahiran Cirebon 1978 ini sudah mencintai teh sejak kecil. Kebiasaan minum teh diturunkan dari keluarganya. Sebagai orang Sunda, dia sangat akrab dengan tradisi minum teh. Apalagi dia juga memiliki darah China yang merupakan tempat teh berasal.

Kecintaannya terhadap teh sampai membawa Ratna berkeliling dunia mempelajari minuman ini. Hingga kini sudah 25 negera dia datangi. Dia juga seorang pembelajar teh yang fanatik dengan mengikuti berbagai kursus dengan maestro teh.

Pengetahuannya tentang teh sering dibagi dengan orang lain melalui acara-acara seminar, juga dengan menulis buku. Buku pertamanya berjudul “Kisah dan Khasiat teh”, ini juga merupakan buku pertama di Indonesia yang membahas konsumsi teh dalam konteks gaya hidup modern dan kontemporer.

Kini Ratna disibukkan oleh berbagai kegiatan mencicipi teh. Dia selalu muncul dalam bentuk menghibur dengan gaya story-telling yang menarik serta relevan terhadap gaya hidup di perkotaan. “Topik favorit saya adalah mengombinasikan teh-makanan, budaya minum teh, kesehatan pikiran dan tubuh, serta nutrisi kulit,” kata Ratna.

Ratna gelisah terhadap nasib teh Indonesia, karena belum diapresiasi dengan baik oleh masyarakatnya. Teh dipandang minuman kelas bawah, ditambah tidak adanya tradisi tertentu dalam mengonsumsinya. Padahal, Indonesia memiliki banyak lahan subur untuk tanaman teh bisa tumbuh.

“Sekarang ini beberapa produsen coba mulai membuat produk teh putih. Saya pribadi mau mempopulerkan ini ke pasar lokal. Di Jepang ada teh putih kemasan yang bahannya dari Indonesia. Sayang sekali kan kalau teh putih ini diekspor mentah dan dicap di luar negeri,” ucap penggemar teh Gyukuro (teh hijau Jepang), Lung Ching (teh hijau China) dan teh melati Slawi ini.

Lulusan Diploma bidang French Patisserie dari sekolah memasak tertua di dunia, Le Cordon Bleu, ini membandingkan harga teh putih impor yang di jual di TWG Jakarta, per kilogramnya mencapai Rp 12,6 juta, sedangkan teh putih Indonesia yang kualitasnya lebih bagus harganya seperdelapan kali lebih murah. Teh putih ini berasal dari pucuk tanaman teh yang belum mekar.

“Teh putih Indonesia ini nanti saya akan kemas dengan bagus supaya hotel-hotel, kelas menengah atas mau mengonsumsinya. Jadi teh Indonesia tidak lagi dianggap murahan. Kenapa senang sekali dengan cap asing? Padahal kualitas teh kita sangat bagus. Produk teh putih yang rencananya saya launching ini akan menggandeng berbagai pihak, tapi saya belum bisa bicara banyak saat ini.”

Selain berencana meluncurkan produk teh putih, Ratna juga sedang mengerjakan proyek bersama dengan salah satu hotel di Bali yang akan mendisplay teh-teh terbaik Indonesia. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)