Ratu M. Afifah Fokus Tangani Oral Care Unilever

Ratu Mirah Afifah, dokter gigi yang memilih profesi sebagai Professional Relationship Manager Oral Care PT Unilever Indonesia. Wanita kelahiran 2 Februari ini memilih fokus bekerja di Unilever Indonesia karena sesuai dengan spesialisasi pendidikan terakhirnya di Sydney University yaitu Public Healthy Dentistry.

Ia mengawali karier di Unilever tahun 2008. Dokter gigi lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran ini, menjadi salah satu orang yang berperan dalam penetapan Hari Kesehatan Gigi Nasional yang jatuh setiap 12 September. Untuk mengetahui penjelasan lengkapnya mengenai perjalanan kariernya, berikut penuturan Mira, kepada reporter SWA Online, Destiwati Sitanggang.

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga sekarang?

Saya masuk Unilever sejak 2008, ketika itu memang Unilever membutuhkan seorang dokter gigi untuk fokus mengurus misi sosial dari Pepsodent. Pepsodent sudah puluhan tahun melakukan misi sosial ini. Namun, tetap harus menjangkau lebih banyak orang lagi, sehingga dapat memberikan aksi dan manfaat yang nyata. Kebetulan saat itu, saya baru selesai master di Sydney University dan major saya Public Health Dentistry. Ini cocok sekali, jadi saya bisa mengaplikasikan ilmu saya. Saya senang sekali.

Ratu Mirah Afifah

Sebagai Professional Relationship Manager Oral Care, apa tanggung jawabnya?

Kami ada 10 program, mengajarkan bagaimana edukasi kesehatan gigi itu dimulai di sekolah, selain di rumah. Dengan cara membentuk kader-kader kesehatan gigi dan mulut yang terdiri dari guru-guru di sekolah, baik PAUD, TK, SD.

Bagaimana mereka harus dilatih, bukan semata-mata datang ke sekolah-sekolah untuk mengajarkan mereka sikat gigi. Tetapi bagaimana agar guru-guru dibekali oleh ilmu. Kalau dulu kita sekolah kita dilihat kuku dan rambutnya, sekarang keadaan giginya juga dong. Paling tidak ditanya apakah sudah gigi. Atau kita ajak untuk menyikat gigi bersama. Jadi hal-hal seperti itu yang ingin kami tanamkan dan bagaimana program ini bisa berlanjut.

Pada tahun 2010, kami berpikir bahwa kesadaran masyarakat untuk datang ke dokter gigi masih sangat rendah, jadi kami punya kampanye nasional, yaitu Bulan Kesehatan Gigi Nasional. Kami bekerja sama dengan Fakultas-fakultas Kedokteran Gigi dan Rumah Sakit Gigi Mulut.

Selain itu, melakukan penelitian, untuk mengetahui manfaat dari hal-hal yang kita lakukan, yang dihubungkan dengan indeks kebersihan mulut. Sebelum dan sesudah melakukan training pembentukan kader-kader kesehatan gigi dan mulut, terjadi peningkatan indeks kebersihan mulut sebanyak lebih dari 50%.

Kesulitan saat memutuskan mengelola CSR apa saja?

Kesulitan yang pertama yaitu menyesuaikan diri dengan bekerja di perusahaan. Tapi saya bersyukur sekali karena Unilever merupakan perusahaan yang sangat terbuka. Ibarat kata orang-orang seperti universitas unilever, di mana kita bisa belajar banyak hal. Karena kita sebagai seseorang yang baru selesai studi, itu pasti memiliki idealisme tersendiri, dan Unilever terbuka dengan ide-ide yang saya berikan.

Saya diberi kebebasan unutk mengimplementasikannya. Selain itu, bagaimana meyakinkan pada stakeholder, bahwa kampanye kita ini merupakan kampanye murni untuk meningatkan kualitas kesehatan gigi masyaratakat. Karena terkadang orang berpikir, oh Pepsident mau jualan. Tapi saya seorang gigi, tugas saya bukan untuk marketing.

Tugas saya meyakinkan bahwa semua kampanye yang dilakukan oleh Pepsodent memiliki alasannya. Kita memerlukan stakeholders yang mendukung kita, karena kita tidak bisa bekerja sendiri. Jadi pe-er terbesar adalah bagaimana kita bekerja sama dengan stakeholders itu.

Pencapaian prestasi terbesar apa?

Bisa membuat event nasional. Seperti Bulan Kesehatan Gigi Nasional di tahun 2010 itu sesuatu yang bisa saya banggakan. Di 2011, di tanggal 12 September itu, ditetapkan oleh kementerian kesehatan sebagai hari kesehatan gigi nasional. Jadi setiap tahunnya, sekarang, Bulan Kesehatan Gigi Nasioanal diperingati sebagai Hari Kesehatan Gigi Nasional. Kemudian dari perusahaan sangat mengapresiasi, saya mendapatkan dua director award dan satu CEO award.

Ratu Mirah Afifah1

Apakah itu sudah cukup puas dengan hasil itu? Masih ada target lain?

Target saya bukan penghargaan seperti itu, tetapi semakin banyak orang yang mengubah perilakunya. Bagaimana program yang dijalankan ada manfaatnya. Saya senang ketika mendengarkan pendapat dari para dekan, ketika sudah memasuki bulan September, orang bertanya kapan Bulan Kesehatan Gigi Nasional-nya. Itu yang lebih menyenangkan, disamping penghargaan seperti itu. Ketika yang kita kerjakan bermanfaat bagi orang, pasti awardnya lebih.

Strategi dalam mencapai target tersebut?

Pembentukan karakter sama dengan pembentukan prilaku. Memang harus terus menerus dan dimulai dari usia dini. Oleh karena itu, orang tua sebagai orang yang utama dan pertama ; selain itu sekolah, tempat anak menghabiskan waktunya ; seharusnya mendukung dengan menjadi role model untuk anaknya. Dengan memberikan reward, bukan harus dengan hadiah, dengan pujian, ucapan terima kasih juga sudah merupakan reward.

Apakah membuka praktek juga?

Saya sudah tidak praktek. Saya hanya fokus di Unilever, karena spesialisasinya Public Healthy Dentistry, jadi pasien saya bukan perorangan tetapi masyarakat. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)