Ratu Tisha Destria: Ratunya Torabika Soccer Championship

Lapangan hijau rupanya tak mengenal perbedaan gender. Buktinya, motor ajang kejuaraan sepak bola Torabika atau Torabika Soccer Championship (TSC) adalah seorang wanita. Bernama Ratu Tisha Destria, sosok cantik ini adalah Direktur Kompetisi dan Operasional PT Gelora Trisula Semesta (GTS) yang bertanggung jawab atas gelaran TCS dari 29 April hingga Desember 2016. Seperti kita ketahui, setelah Indonesia Super League (ISL) dibekukan dan tidak ada lagi liga resmi nasional yang menjadi andalan para atlet, akhirnya klub-klub nasional di Indonesia membuat kesepakatan untuk membuat perusahaan baru dan menggelar kompetisi baru yang dikelola secara profesional lewat GTS.

Wanita kelahiran Jakarta pada 30 Desember 1985 ini ditugasi menyinergikan seluruh elemen terkait untuk menyukseskan kompetisi tersebut. Setidaknya ada 12 elemen yang menjadi perhatiannya. Antara lain, pengawas pertandingan, wasit, kesiapan tim, infrastruktur, tempat, berizinan, penayangan dan jadwal.

Tisha bisa meraih posisi penting dalam kompetisi ini bukanlah tanpa bekal. Pengalamannya di dunia olahraga, khususnya di cabang sepak bola, sudah terasah saat di bangku SMA dan saat kuliah di Jurusan Matematika Institut Teknologi Bandung. Selama kuliah, ia sering melakukan riset tentang statistik olahraga, terutama tentang sepak bola, dengan pendekatan matematika modeling. “Karena jurusan saya di ITB waktu itu matematika dan saya juga cinta dengan dunia sepak bola, saya melakukan riset tersebut di ranah olahraga,” kata alumni SMA 8 Jakarta saat ditemui Majalah SWA di kantornya di Jakarta.

Kecintaannya pada sepak bola ia tunjukkan dengan menjadi bagian dari tim futsal kampus, serta masuk dalam jajaran Perkumpulan Sepak Bola ITB (PS ITB). Sebagai bagian dari PS ITB, Tisha harus tampil profesional mengurus manajerial tim yang saat itu berada di bawah bendera Liga Persib dan Liga Mahasiswa Jawa Barat.

Kesuksesan demi kesuksesan mengurus perhelatan sepak bola dari tingkat amatir hingga profesional, ditambah dengan bekal ilmu akademis yang menunjang kariernya di dunia sepak bola, akhirnya setelah lulus kuliah pada 2008, Tisha dan temannya, Hardani Maulana, mendirikan Labbola.com. Ini adalah perusahaan jasa penyedia data analisis di bidang olahraga, khususnya sepak bola.

Ratu Tisha Destria Ratu Tisha Destria, Direktur Kompetisi dan Operasional PT Gelora Trisula Semesta (GTS)

Dari situlah, nama Tisha semakin berkibar di dunia olahraga, terutama setelah mendapat kesempatan beasiswa kuliah S-2 FIFA Master yang spesifik mempelajari sport humanity dan sport management di tiga negara: London, Italia dan Swiss. “Jadi, selama empat bulan saya di London, empat bulan di Italia, dan menghabiskan waktu selama enam bulan untuk menulis tesisnya di Swiss. Saya terus mengejar apa yang saya cintai, dan saya bersungguh-sungguh mendalaminya sejak duduk di bangku SMA. Meski hanya pertandingan amatiran, saya tetap serius dan sungguh-sungguh menjalankannya,” ujar Tisha mengenang.

Sekarang, ketika ia memegang TSC, banyak dampak positif yang dirasakan. Tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi yang lain. Menurutnya, dampak bisnis yang terjadi dari perhelatan TSC selama satu musim mencapai US$ 40 juta dan berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 38 ribu karyawan. “Jika melihat peran sepak bola bagi ekonomi negara di Amerika, saya kira Indonesia juga bisa mencapainya. Apalagi dengan berbagai potensi yang ada di dalam negeri ini, rasanya tidak mustahil untuk berkontribusi pada perekonomian dalam negeri,” papar Tisha.

Tisha menjelaskan, Indonesia Soccer Championship (ISC) merupakan wadah kompetisi Indonesia yang terintegrasi dari kompetisi profesional berjenjang hingga kompetisi amatir. TSC merupakan strata liga profesional tertinggi yang ada di Indonesia, diikuti 18 klub dari seluruh Indonesia. Selain itu, masih ada kompetisi di bawah ISC yang meliputi banyak strata kompetisi. Sebut saja: ISC-B, Kompetisi U-21, Piala Soeratin U-17, dan Piala Presiden.

Untuk pendanaan, menurut Tisha, pihaknya bekerja sama dengan Grup Emtek yang menggelontorkan dana sebesar Rp 375 miliar. Dan sebagai perusahaan pengelola ISC, GTS memberikan subsidi sebesar Rp 5 miliar untuk setiap klub sebagai basic pendapatan. Termasuk kontribusi lain yang diukur dari fluktuasi pendapatan yang dinilai berdasarkan performa klub dan rating televisi yang mereka peroleh dari perlombaan.

Ukuran kesuksesan sebuah liga bukan dilihat dari kekayaan pendapatan pengelolanya, melainkan dari kesejahteraan para altet dari setiap klubnya,” kata Tisha yang pernah terlibat dalam panitia Euro 2016 di bidang hospitality di Paris, Prancis. Tentang kesejahteraan para altet, hal tersebut telah dicontohkan oleh liga-liga di Eropa dan Amerika. Klub sepak bola di sana adalah klub yang baik dan bisa menyejahterakan para atletnya. Ia pun berharap kondisi tersebut bisa terjadi pada klub-klub di Indonesia.(*)


Syukron Ali dan Dede Suryadi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)