Regi Wahyu Bersahabat dengan Data

Salah satu pekerjaan paling seksi dalam waktu 3-5 tahun mendatang adalah analisis data. Seorang ahli di bidang analisis data (data scientist) akan dibayar sangat mahal karena masih sedikit orang yang menggeluti profesi ini. Profesi ini termasuk dalam kategori pekerja dengan keahlian khusus (specialist worker).

“Bahkan, besaran gajinya bisa selevel dengan direktur. Tapi, tergantung industrinya. Besaran gaji ini ditentukan seberapa besar ia bisa men-generate revenue dan membuat perusahaan lebih efisien,” kata Regi Wahyu, CEO Dattabot.

Regi-Wahyu

Tak hanya di negara berkembang, lanjut dia, ahli analisis dan pengolah data juga sulit ditemukan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa dalam membentuk infrastruktur di big data. Ini dikarenakan ilmu pengetahuan tentang big data masih terus berkembang.

“Semua disiplin ilmu memiliki peluang karier dalam hal big data. Tak hanya seorang ahli komputer, matematika, atau fisika, tetapi semua orang yang punya passion terhadap data. Dia harus punya rasa ingin tahu yang tinggi. Jika tidak, ia akan terseret dan tenggelam dalam tsunami data,” kata pria yang tengah studi di Massachusetts Institute of Technology – Sloan School of Management ini.

Selain itu, mereka juga harus punya kemampuan belajar dengan cepat dalam hal teknologi baru dan algoritma baru. Termasuk, mengafiliasi satu informasi dengan informasi lainnya, mengkoneksikan data yang satu dengan yang lain, serta melihat bagaimana korelasinya.

“Mereka juga harus tangkas karena dalam hitungan hari bahkan jam semua informasi dan skill yang sekarang dimiliki bisa jadi usang dan ketinggalan zaman. Ada 3 ciri di big data yaitu variation,volume, dan velocity. Jika tidak tangkas dan open minded, susah untuk masuk ke dunia ini,” kata Regi yang bergabung dengan Dattabot di tahun 2010.

Seiring penetrasi internet yang tinggi di banyak negara, data dalam skala besar (big data) pun tercipta. Mereka berasal dari industri telekomunikasi, perbankan, Fast Moving Consumer Goods (FMCG), dan lainnya di seluruh dunia.

Semua negara di dunia tengah berusaha mengoptimalkan potensi data yang dimiliki. Defisini big data dan penggunaannya terus berkembang. Data-data, terutama di negara berkembang seperti Indonesia dan Peru masih berserakan, tidak terkoneksi, dan masih dalam dunia offline.

Data yang berserakan, tidak terkoneksi, dan ledakan data yang terjadi saat ini dapat diintegrasikan melalui artificial intelligent technology sehingga tidak terbuang sia-sia. Data adalah komponen penting dalam bisnis. Jika data sudah terkoneksi satu sama lain, ada banyak hal yang bisa dieksplorasi.

“Sekarang, semua berebutan (data scientist). Lengah sedikit saja hilang karena sangat sengit. Perusahaan semakin sadar akan explosion of data. Data adalah keunggulan kompetitif suatu perusahaan yang akan membuat efisien dan efektif dalam pengambilan keputusan,” kata dia. (Reportase: Jeihan Kahfi Barlian)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Etakmir Pelopori Aplikasi Pencari Ustadz di Ponsel

Di Indonesia, ada lebih dari 200 ribu Sarjana Keagamaan yang berasal dari berbagai lembaga pendidikan tinggi, baik dalam maupun luar...

Close