Reita Farianti, Antara Dosen dan Aset Manajemen

Eksis di dunia pendidikan, begitulah obsesi Reita Farianti. Demi mewujudkan obsesinya, ia harus membagi konsentrasinya. Memimpin CIMB Principal Asset Management, mengajar di kampus-kampus dan mengelola dua sekolah miliknya.

Reita sangat bersemangat saat bercerita tentang profesi sampingannya sebagai pendidik. Kesibukannya sebagai Direktur CIMB Principal Asset Management, sister company Bank CIMB Niaga, tak mau dijadikannya sebagai alasan untuk mengalahkan hasratnya tersebut.

Hampir tak ada waktu luang. Apalagi CIMB Principal Asset Management merupakan perusahaan yang baru dibentuk selama setahun. Tentu membutuhkan ekstra konsentrasi,” ujar Presiden Direktur PT CIMB Principal Asset Management, itu.

Selain sibuk karena menjabat posisi direktur sebuah perusahaan yang baru berdiri, Reita juga sibuk mengajar di Magister Manajemen Universitas Gajah Mada (UGM) dan sebagai dosen tamu di Universitas Moestopo.

Mantan putri kampus se-Jawa Barat ini juga memiliki dua sekolah yakni “TK Ku” dan “Mentari” (paud). “Di TK Ku dan Mentari, saya sebatas menilik saja, tidak ikut mengajar. Untuk Mentari, murid-muridnya adalah anak-anak warga sekitar Cinere yang kurang mampu,” jelas ibu tiga anak ini.

Baginya antara dunia pendidikan dan posisinya sebagai Direktur CIMB Principal Asset Management saling bersinergi. “Sebagai dosen, tentu harus terus meng-update ilmu dan itu otomatis sudah saya lakukan karena posisi saya di CIMB Principal Asset Management.”

Sebetulnya waktu kecil cita-cita Reita bukan menjadi guru, melainkan dokter. Tapi, sejak diminta untuk membedah burung merpati saat pelajaran biologi di kelas 1 SMA, ia mundur teratur. Melihat pisau bedah dan darah, ia jatuh lemas. Karena juga menggemari yang berbau hitungan, seperti matematika dan kimia, selesai sekolah ia masuk ke Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran di tahun 1986 hingga 1990.

Sebelum lulus, Reita terpilih mewakili universitas untuk pemilihan Puteri Kampus Se-Jawa Barat. Ternyata saya lolos jadi runner-up. Kebetulan sponsor acara itu adalah Bank Niaga, dan para pemenang diberi kesempatan bekerja di Cabang Bank Niaga Bandung. Itulah pertama kalinya ibu tiga anak ini bersinggungan dan tertarik dengan dunia finansial.

Selesai kuliah, dia masuki dunia perbankan. Kemudia ia bekerja di Lippo Bank sebagai account officer, lalu naik jadi kepala bagian marketing, hingga ke kepala cabang Lippo Bank yang berkantor di Bursa Efek Jakarta (BEJ), tahun 2004.

Pengalaman sepanjang kariernya yang dianggap paling tak bisa dilupakan adalah saat menjabat sebagai kepala cabang Lippo Bank Ciledug, tahun 1997. Saat terjadi kerusuhan terkena sasaran amuk massa. “Saya ingat, di daerah Ciledug waktu itu terjadi kerusuhan yang cukup parah. Di ruko perkantoran tempat saya bekerja, suasana makin genting dan massa datang mengepung. Anak buah saya semuanya panik. Saya sebagai atasan harus membuat mereka tenang. Akhirnya, saya minta mereka semua, yang kira-kira berjumlah 30 orang, untuk keluar duluan menyelamatkan diri. Tinggal saya sendirian di dalam mengumpulkan dokumen tercecer. Sampai akhirnya satpam teriak-teriak meminta saya keluar karena ruko akan dibakar. Hasil kerja keras saya tinggal puing-puing. Di depan orang-orang yang membakar itu saya menangis. Sekian bulan saya tak punya kantor,” kenang Reita.

Sewaktu menjadi kepala cabang Lippo Bank di BEJ, ia banyak bersinggungan dengan para pelaku pasar modal. Buatnya, ternyata dunia pasar modal lebih mengasyikkan ketimbang perbankan. “Selama 12 tahun saya menjadi bankir. Kemudian di 2004 baru banyak melihat teman-teman di pasar modal, perusahaan sekuritas dan asset management dan saya pikir kok cukup menarik juga untuk melengkapi ilmu perbankan saya dan kemudian saya pikir tidak ada salahnya untuk pindah ke dunia pasar modal,” dia menguraikan.

Pada 2004 ia pindah ke Trimegah Securities sampai awal tahun 2010 dengan posisi terakhir senior vice president asset management. Kemudian pindah ke Ciptadana, sampai akhirnya ditarik ke CIMB Principal Asset Management.

Bekerja di perusahaan CIMB Principal Asset Management yang baru dibentuk setahun, tentu sangat menantang. “Banyak yang harus saya rintis di sini. Tantangannya cukup berat, yakni bagaimana membawa perusahaan ini bisa sama majunya dengan sister company, yakni CIMB Sekuritas, CIMB Niaga Bank ataupun CIMB Niaga Sun Life yang sudah cukup kencang dalam perjalanan.

Dalam 2-3 tahun ke depan, jika perusahaan yang dipimpinnya sudah jalan dan ilmu di pasar modalnya sudah matang, Reita ingin mengurangi porsinya sebagai orang kantoran. Ia ingin lebih banyak bekerja di rumah sambil mengajar. ”Saya suka suka menulis artikel dan menjadi moderator di event pasar modal. Jadi jika ilmu saya sudah banyak dan perusahaan sudah jalan, saya ingin di rumah saja dan menjadi pembicara saja,” ujar wanita manis kelahiran Surabaya, 19 juli ini. (Lila Intana/EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)