Rendra Darmakusuma, Pilot Penyayang Keluarga

Profesi pilot pesawat komersial memang menjanjikan uang melimpah. Semakin banyak terbang, rekening sang pilot juga makin gendut. Tapi, mereka mesti rela berpisah lama dengan keluarga. Apalagi, jika jadwal terbang tengah padat seperti saat libur hari raya Lebaran dan Tahun Baru. Inilah yang membuat Rendra Darmakusuma memilih beralih ke profesi pilot private jet sejak 2011 lalu.

“Kelebihan pilot private jet adalah tidak banyak terbang, sehingga punya banyak waktu di rumah bersama keluarga. Penumpangnya kalangan middle up dan jumlahnya tidak sebanyak penumpang komersial. Pilot komersial cenderung jadwal terbangnya padat,” katanya.

Selulus dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, ia bergabung dengan Riau Airlines di tahun 2001-2009. Di tahun 2011, ia hijrah ke Pegasus Air Service dan pada 2015 bergabung dengan Jet Aviation. Meski terbangnya tidak terjadwal dan tidak padat, bapak tiga anak ini harus siap setiap saat. Ia juga harus menyiapkan kondisi pesawat, mempersiapkan dokumen penerbangan, dan lain-lain dalam waktu maksimal 4 jam.

Rendra Darmakusuma, Pilot Private Jet Rendra Darmakusuma, Pilot Private Jet

Menurut dia, pilot private jet juga punya pengalaman lebih luas karena tidak hanya klien domestik, tetapi juga klien internasional. Pilot private jet untuk berkesempatan mendapatkan lisensi Airline Transport Pilot License (ATPL) yang dikeluarkan oleh Federal Aviation Administration (FAA) dari Amerika. Saat ini, bapak tiga anak ini telah memiliki 2 sertifikat ATPL, yakni ATPL FAA dan ATPL DGCA (Directorate General of Civil Aviation).

“Untuk menerbangkan pesawat dengan lisensi dari Amerika, pilot harus punya ATPL FAA. Jika pesawat berlisensi dari Indonesia, ATPL DGCA saja cukup. Namun, klien lebih percaya pesawat dari Amerika dan lebih mudah untuk bepergian ke luar negeri,” katanya.

Dia menjelaskan, jumlah pilot private jet di Indonesia tidak lebih dari 200 orang. Tapi, yang punya lisensi ATPL FAA tidak sampai 100 orang. Dengan dua lisensi yang dimilikinya, pria kelahiran Banyuwangi, 31 Januari 1975 ini berulang kali mendapat tawaran menggiurkan dari head hunter untuk ditempatkan di sejumlah negara seperti Malaysia, Hong Kong, China, Turki, dan Kamboja. Semua itu ditolaknya karena jauh dari keluarga. Ia memilih tinggal di Singapura agar lebih dekat ke rumahnya di Jakarta.

“Rata-rata mereka menawarkan kenaikan gaji hingga 10%. Struktur gaji pilot private jet ada gaji, uang makan saat bertugas, tunjangan kesehatan, dan asuransi. Yang berbeda dengan pilot komersial adalah ada gaji pokok dan gaji berdasarkan jam terbang di pilot komersial. Gaji untuk pilot private jet sekitar Rp 100 juta,” ujar dia. (Reportase: Maria Hudaibyah Azzahra)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)