Rian Hafiz, Bangun Passion Bersama Microsoft Indonesia

Rian Hafiz, Business Development Manager Microsoft Indonesia.

Digitalisasi begitu dekat dengan generasi muda, sehingga mampu memberikan nilai lebih di era digital ini. Salah satunya Rian Hafiz (30 tahun), lulusan studi MBA Executive, School of Business and Management ITB ini membangun passion terkait teknologi.

Awal kariernya di Nestlé Indonesia (2011) sebagai Key Account Sales memberikan pengalaman dalam sisi manajerial. Prestasinya membawa Rian menjadi National Account Manager di perusahaan yang sama sebelum akhirnya pindah ke MARS Inc. (2013), perusahaan multinasional asal Amerika Serikat. Bekerja di perusahaan FMCG (fast-moving consumer goods) mengajarkan dirinya lebih dalam mengenai sales, marketing, product development, digital marketing, dan business process.

Tahun 2015, dirinya bergabung dengan Microsoft Indonesia lewat program leadership development bernama Microsoft Academy for College Hire for MBA (MACH MBA) sebagai Business Development Manager. Kesempatan besar datang untuk belajar mengenai leadership dari Microsoft Amerika Serikat bersama peserta program dari 70 negara lainnya. Program ini juga sekaligus sebagai talent pool untuk future leaders Microsoft. Disini ia memperoleh ilmu mengenai enterprise B2B business works dalam bisnis teknologi.

Posisinya saat ini sebagai Business Development Manager Microsoft Indonesia bertugas memimpin timnya menciptakan ide business value proposition bagi pelanggan melalui solusi-solusi karya Microsoft. “Saya juga bertanggung jawab untuk mengidentifikasi kebutuhan bisnis pelanggan terhadap produk Microsoft serta membuat jaringan dengan business executive dan technical expert bersama perusahan-perusahaan di Indonesia,” tambahnya.

Saat ini kebutuhan transformasi digital dalam bisnis diperlukan untuk berkembang di masa mendatang, tak terkecuali bagi Indonesia. Berdasarkan studi Microsoft Asia Digital Transformation 2017, hanya 27% yang menyatakan bahwa mereka telah memiliki strategi digital sepenuhnya. “Microsoft menciptakan inovasi untuk solusi terkait hal ini melalui Microsoft 365 (manajemen TI), Azure Stack (hybrid cloud), dan Microsoft SQL Server 2017 (database relasional),” ungkapnya. Tahun 2017 menjadi tahun ketiga Microsoft masuk kategori leader dalam Gartner Magic Quadrant untuk sistem manajemen basis data operasional.

Sebagai perusahaan yang berinovasi, Microsoft kini juga mengembangkan teknologi Artifical Intellegence (AI). Menurut Rian, kecerdasan buatan menjadi teknologi masa depan yang memiliki dampak besar dalam kehidupan manusia. Agustus 2017, Microsoft Indonesia bekerja sama dengan Line Indonesia memutuskan untuk membawa chatbot berbasis kecerdasan buatan bernama Rinna ke Indonesia. “Rinna dapat berkomunikasi dengan EQ dan IQ sehingga dapat belajar dan beradaptasi dengan kebiasaan pengguna dan mengembangkan preferensi percakapan,” jelasnya.

Melihat dari sisi bisnis, tren pasar di era digital ini menunjukkan hal positif untuk para pelaku bisnis. Berdasarkan data Wearesocial.sg di tahun 2016, pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta dengan penetrasi sekitar 51% dari populasi. Untuk pengguna media sosial aktif mencapai 106 juta dengan penetrasi sekitar 40%, dan pengguna media sosial mobile aktif mencapai 92 juta atau sekitar 35% dari populasi. Kondisi ini diprediksi meningkat di tahun mendatang.

Sejalan dengan kondisi ini, Rian berpendapat bahwa bisnis offline dapat membuat cara untuk mendorong traffic usahanya dengan memanfaatkan sosial media. Facebook dan Instagram Ads. menjadi beberapa platform untuk mewujudkannya. “Kemudahan dengan adanya smartphone dan media sosial memungkinkan mereka menciptakan usaha dan penghasilan. Era internet ini dapat membuka lapangan pekerjaan baru dan menjadi solusi kesejahteraan,” ungkapnya.

Di sela kariernya di Microsoft Indonesia, dirinya juga berusaha membangun passion dengan memanfaatkan teknologi digital dalam bisnis sales yang ia rintis sejak akhir 2016. Sistem dropship menjadi cara bisnisnya yaitu memungkinkan untuk tidak menyimpan stok barang saat mendapatkan pesanan dan meneruskan detail barang ke distributor/supplier/produsen. “Dengan sistem ini, saya tidak perlu melakukan pembelian inventaris dan dapat fokus ke pemasaran digital. Bisnis online dengan cara ini memberikan kesempatan siapa saja untuk menjadi entrepreneur secara online,” jelasnya.

Usahanya ini benar-benar memanfaatkan media sosial, teknologi dan proses automisasi. Timnya tersebar di beberapa titik kota yang bertugas menangani pelanggan di seluruh Indonesia. Customer service, administrasi, dan advertiser bekerja secara remote. Bisnisnya dilakukan secara direct response melalui video di Facebook dan Instagram yang menjual berbagai macam consumer goods. Bisnis ini membantu dan memberikan kesempatan distributor/supplier/produsen yang tidak memiliki SDM digital untuk dapat juga memasarkan produknya secara online.

Menjamurnya bisnis digital saat ini dianggapnya menjadi awal yang sangat baik untuk membuka kesempatan setiap orang untuk membantu mengembangkan ekonomi digital. “Bisnis digital dapat menjadi power horse untuk pengembangan ekonomi Indonesia kedepannya. Dengan base konsumen yang besar, Indonesia merupakan negara yang sangat atraktif untuk para investor dari luar negeri yang ingin berbisnis di sini,” ungkap pria yang pernah menempuh pendidikan di University of Pennsylvania - The Wharton School Executive Education.

Edukasi untuk menumbuhkan awareness tentang bisnis online menjadi target Rian. Ia ingin masyarakat lebih melek teknologi digital, sehingga pengusaha dapat memperbesar skala bisnis pengusaha dan terbuka untuk semua kalangan. Harapannya,  mindset dapat berubah, tidak hanya terus dengan menjadi konsumen, namun juga berpartisipasi menjadi pelaku usaha di digital online itu sendiri.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!