Rudiyanto, Ingin Membuat Quantum Leap

Kendati baru dua tahun bergabung dengan PT Panin Asset Management sebagai Head of Operation and Business Development, tapi prestasi Rudiyanto tidak bisa dianggap remeh. Maklum dunia keuangan dan investasi bukanlah hal baru baginya. Pria yang menamatkan pendidikan S1 jurusan Manajemen Keuangan dari Universitas Tarumanagara, Jakarta, ini sebelumnya juga sudah pernah meniti karier PT Infovesta Utama, PT Askes (Persero) dan dosen mata kuliah Keuangan dan Investasi di almamaternya.

Bagaimana perjalanan karier dan upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan performa perusahaan, Rudiyanto berbagi cerita dengan Dadi A.Salim dari SWA Online berikut ini:

Rudiyanto-Panin

Sudah berapa lama kerja di Panin Asset Management (PAM)?

Sebelumnya saya berkarier di PT Askes sebagai Oversight Committee. Hingga kini saya bergabung dengan Panin sudah dua tahun.

Apa saja yang Anda lakukan untuk membenahi PAM?

Di tahun pertama saya bergabung, tugas saya membenahi operasional. Saya ingin operasional yang baik. Kalau kita mau memperluas usaha, operasional kita harus siap. Jadi kalau dapat nasabah banyak tapi kalau operasionalnya tidak sanggup akan ada kekacauan nantinya.

Di tahun ke-2 saya bergabung ke Panin, lebih fokus pada pengembangan jumlah nasabah. Saya merasa sistem teknologi kami sudah canggih, sehingga konsentrasi ke marketing. Misalnya  bagaimana memasarkan produk Panin atau apa rencana ke depan untuk Panin.

Pada tahun ke-3, rencana saya ingin membuat quantum leap. Jadi saya ingin seperti tahun lalu, nasabah kami ada 30 ribu. Itu dikumpulkan selama 16 tahun. Dan target saya, dalam dua tahun ke depan ingin menjadikan jumlah nasabah  100 ribu nasabah.

Strategi apa yang akan dilakukan untuk mencapai hal tersebut?

Kami coba untuk melakukan strategi yang ada lebih intensif dan membuat program literasi keuangan. Selain itu, saya merasa produk kami adalah produk terbaik, sistem terbaik, dan marketing dilengkapi dengan alat-alat atau tools yang lengkap.

Ketika kita dihadapkan dengan nasabah dalam jumlah besar, kita harus punya sistem yang canggih, harus punya marketing yang mumpuni. Jadi dalam dua tahun ini kami mengembangkan sistem dan melakukan planning yang intensif terhadap marketing.

Bagaimana persaingan dengan asset management yang lain?

Pemasaran produk investasi kami cenderung eksklusif. Karena orang yang memasarkan benar-benar paham akan produk Panin dan bisa memberikan yang terbaik untuk nasabah. Saat ini kalau melihat manajemen investasi yang melakukan pemasaran langsung itu tidak banyak. Kami tidak merasa saling bersaing, karena di pasar modal Indonesia yang penduduknya ada 250 juta jiwa itu bukan persaingannya. Dari 250 juta penduduk itu jumlah investor hanya sekitar 200 ribu orang. Jadi pasarnya masih sangat luas.

Lantas, kendala apa saja yang dialami?

Orang Indonesia tidak membeli reksa dana bukan karena mereka tidak punya uang, tapi karena mereka tidak paham. Menurut saya, tantangan paling besar di industri reksa dana itu bukan persaingan antar sesama fund management. Tantangan terbesar itu bagaimana kita mendapatkan pangsa pasar yang belum tergarap ini. Terus terang, saya belum melihat saingan.

Prestasi apa saja yang sudah dicapai selama ini?

Kami mendapatkan 10 ribu nasabah dalam satu  tahun. Saya juga pernah menerbitkan buku tentang reksa dana. Judul bukunya “Sukses Finansial dengan Reksa Dana” pada tahun 2013. Buku saya diterbitkan oleh Gramedia dan waktu itu dicetak sebanyak 5.000 eksemplar. Dan sekarang mau dicetak ulang sebanyak 1.500 eksemplar. (Dadi A.Salim)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)