Salman Subakat, Utang Budi dengan Wardah

Pernah merasa punya utang budi kepada seseorang? Entah itu saudara, tetangga, teman, atau bahkan orang yang baru dikenal, karena dia pernah berbuat sesuatu atau pernah menolong kita. Kita pun akhirnya merasa punya utang jasa atau utang budi terhadap orang tersebut. Ini juga yang membawa Direktur Pemasaran Wardah, Salman Subakat, mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Wardah.

Ya, Salman merasa punya utang budi dengan para karyawan perusahaan milik orang tuanya tersebut. Selulus dari Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2002, ia menolak dengan halus tawaran ayah dan ibunya, Subakat Hadi dan Nurhayati, untuk langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.

“Setelah krisis moneter tahun 1998, saya sadar betapa saya bisa kuliah dengan tenang berkat hasil kerja keras seluruh karyawan perusahaan. Saya merasa terpanggil untuk pay back,” katanya.

Tekadnya untuk ikut mengurus bisnis orang tuanya pun diikuti saudara kandungnya Harman Subakat yang juga lulusan ITB, dari jurusan Teknik Kimia. Sementara, tenaga Sari Chairunnisa, sang anak ketiga juga sangat dibutuhkan setelah baru saja menyelesaikan pendidikan spesialis kulit di Universitas.

“Saya menjabat Direktur Marketing, Harman sebagai Direktur Operasional, dan Sari baru mulai masuk perusahaan tahun lalu. Dia lebih banyak memberi edukasi dan memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan pesan,” ujarnya.

salman

Salman mengaku banyak belajar dari orang tuanya. Ia melihat betul proses perkembangan perusahaan yang diawali dari dekat tempat tinggalnya ini. Baik dirinya dan Harman sama-sama memulai kerja dari bawah seperti mengurusi tim marketing, distribusi, dan manufaktur. Seiring berjalannya waktu, kedua menemukan passion masing-masing.

“Harman lebih ke manufaktur. Dia bagus di konsep. Dia juga lebih hati-hati daripada saya. Saya hanya menyeimbangkan saja lewat pengembangan sistem, memahami model bisnis, peta persaingan, dan lainnya di bidang marketing,” ujarnya.

Meski anak pemilik perusahaan, ia tak lantas kaku atau tertutup dengan kritik dan saran yang membangun dari para karyawan dan teman-teman sekantornya. Ia beruntung punya ayah dan ibu yang senantiasa memberi nasehat dan menyediakan waktu untuk berdiskusi tentang berbagai hal.

“Saya juga banyak membaca buku teks psikologi. Banyak sekali nasehat yang bagus selama kita mau mendengar. Saya juga harus siap menerima masukan dari stakeholder demi memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggan,” katanya.

Salman menjelaskan, kunci pengembangan bisnis Wardah adalah inovasi. Perseroan senantiasa menciptakan model bisnis yang unik, produk yang bagus, dan inovasi-inovasi kecil lainnya di bidang produksi maupun pemasaran. Dengan begitu, produk yang dilepas ke pasar bisa memberi banyak nilai tambah untuk pemakainya.

“Saya berusaha tidak menyia-nyiakan kepercayaan besar yang telah diberikan sejak awal bergabung dengan Wardah. Saya benar-benar mempelajari nilai kejujuran, kerja keras, berpikir jauh ke depan, dan tidak berpuas diri yang ditanamkan orang tua saya,” ujarnya. (Reportase: Maria Hudaibyah Azzahra)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)