Sancoyo Setiabudi, Insinyur di Balik Perubahan Zurich

Zurich Insurance yang sekarang berbeda dengan Zurich Insurance yang dulu. Adalah sosok Sancoyo Setiabudi yang mengubah fokus bisnis perusahaan asuransi asal Swiss ini bergeser dari segmen korporasi, kini ke segmen UKM dan ritel.

Sancoyo Setiabudi, CEO Zurich Indonesia

Pergeseran target klien ini otomatis menuntut Zurich untuk memiliki infrastruktur yang jauh lebih besar dan pria 52 tahun ini berhasil merintisnya dalam dua tahun lebih kepemimpinan. “Kami butuh mendekati pasar, jumlah pegawai sejak saya pimpin naik tiga kali lipat. Jika sebelumnya Zurich Indonesia tidak memiliki cabang, maka saat ini punya 17 cabang,” kata Sancoyo, Presiden Direktur dan CEO PT Zurich Insurance Indonesia.

Bahkan, dalam waktu empat tahun ke depan atau di 2016, Sancoyo menargetkan 30 kantor cabang baru yang akan tersebar di seluruh Indonesia. “Dengan jaringan yang semakin luas, target saya dan juga perusahaan di 2017 akan mampu menembus top 10 asuransi di Indonesia.

Bagaimana cara mencapai posisi itu? “Tentunya bisa menggunakan banyak cara, kami bisa tumbuh secara organik maupun in organik,” ujar penggemar fotografi yang terobsesi mendokumentasikan kuil-kuil Budha di Buthan ini.

Selain memperbesar infrastruktur, Sancoyo juga aktif menjalin kemitraan dengan berbagai institusi dari beragam saluran distribusi inovatif hingga saluran distribusi tradisional. “Dengan kemitraan, Zurich dapat melayani nasabah lebih luas seperti lembaga pembiayaan kendaraan, perbankan, travel agent, bahkan bermitra dengan jaringan bengkel sepeda motor, telemarketing dan keagenan,” ujar Insinyur lulusan ITB, Bandung ini.

Hasrat ayah dua anak ini dalam memajukan Zurich dan terjun di dunia asuransi tak pernah dibayangkan sebelumnya. Apalagi ia merupakan Sarjana Teknik. Setelah bekerja beberapa tahun sebagai engineer di berbagai perusahaan, ia mulai mengenal asuransi saat bergabung di P&G. Ketika P&G mengirimnya untuk training asuransi di Cina, ia bertemu headhunter yang mencari orang yang memang sudah pengalaman di industri dengan background engineering. “Lalu saya coba, termyata untuk Zurich,” tambahnya.

Awalnya Sancoyo masuk sebagai risk engineer, tepatnya tahun 1993. Kemudian ia dipercaya mendirikan satu divisi yakni risk engineering division. “Divisi ini tidak ada di semua negara. Jadi biasanya divisi ini beroperasi untuk beberapa negara. Kemudian saya mengembangkan divisi ini, mengajak bergabung lebih banyak lagi engineer,” tambah pemilik beberapa kamera canggih, salah satunya kamera dengan resolusi terbesar 36 mega pixel.

Karier Sancoyo kemudian ditentukan pasca krisis moneter 1998. Ia dipindah-pindah ke berbagai divisi. Bertanggung jawab untuk klaim, divisi ritel dan korporasi. Dari krisis, ia berhasil membuktikan kualitasnya dan melengkapi pengalamannya. Akhirnya di tahun 2009, ia diangkat sebagai Presiden Direktur dan CEO.

Menurut Sancoyo, selama memimpin Zurich Indonesia tantangan terbesarnya adalah menyesuaikan sistem dan aturan perusahaan terhadap iklim persaingan di pasar asuransi lokal. “Saya tidak bisa seenaknya banting harga, kalau perusahaan asuransi lain bisa, ya mungkin itu kebijakan mereka. Saya rasa semua perusahaan joint venture merasakan masalah yang sama dengan yang dihadapi Zurich. Apa yang kami hadapi di sini adalah kami harus menghadapi regulasi dan aturan yang berbeda, belum comply,” paparnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)