Sang Kreator di Balik Solusi Terintegrasi NEC Indonesia

Michael D. Pratadaja, sosok yang tidak asing lagi di dunia teknologi informasi (TI). Pria kelahiran Jakarta 22 September 1972 itu sekarang menjadi General Manager – System Integration (SI) Solutions Department, Enterprise Solutions Division, PT NEC Indonesia. Sejak usia 12 tahun, dia memang sudah menggemari bidang TI.

Pada saat itu, hobi Michael kecil ditunjukkan dengan sering mengotak-atik komputer miliknya dan membuat program perangkat lunak (software) sendiri. Hingga dewasa, Michael tetap konsisten dengan kesukaannya itu, maka tidak heran jika sekarang dia menjadi salah satu pemimpin divisi solusi terintegrasi NEC Indonesia.

Berikut ini obrolan SWA Online dengan ayah dua anak, yang pernah menetap di Jepang selama 14 tahun, tapi malah lebih menggemari masakan Indonesia yaitu sop buntut.

MIchael D. Pratadaja

Bagaimana latar belakang pendidikan Anda?

Saya lulus program S1 dari jurusan IT Business Administration and Information Sciences dari Chubu University, Jepang. Sedangkan SD sampai SMA saya di Indonesia. Jadi saya berangkat ke Jepang untuk studi, mulai dari tahun 1990 atau 1991, dan setelah lulus saya kemudian masuk ke salah satu big company di sana, yakni Fujitsu.

Soal mencari kerja dan menetap di luar negeri setelah lulus kuliah, sebenarnya saya tidak punya rencana untuk itu, tapi karena waktu itu persis tahun 1997-1998 kan lagi krismon (krisis moneter – red), saya malah disuruh jangan pulang dulu. Jadi kesempatan itu malah baik buat saya. Maka saya coba extent kuliah saya di Jepang, sampai saya dapat kerja di sana. Saya tinggal di sana sampai sekitar awal 2004 atau berarti 14 tahun.

Kenapa memutuskan kembali ke Indonesia pada tahun 2004 itu?

Sebenarnya saya sudah punya izin permanent resident di Jepang, karena saya tinggal lama di sana. Tapi saya memang berniat untuk bisa kembali ke Indonesia dan mengembangkan bidang IT di sini. Maka saya putuskan, pada saat anak kedua saya lahir, saya balik ke Indonesia. Setelah kembali, saya sempat bekerja di perusahaan keluarga yang bergerak di bidang distribusi dan ritel. Makanya saya punya sedikit knowledge dalam bidang distribusi dan sales.

Jadi bagaimana ceritanya Anda akhirnya bergabung dengan PT NEC Indonesia?

Setelah berkontribusi di perusahaan keluarga selama 1,5 tahun, saya bertemu dengan Mr. Yabumoto, dan dia menawarkan saya pekerjaan di NEC. Saya berpikir, karena background saya IT dari dulu, kemudian saya tahu NEC itu perusahaan besar, dan saya diberi kesempatan untuk gabung di sini, jadi kenapa tidak? Sehingga saya kembali ke bidang IT, yang tadinya sudah saya tinggalkan 1,5 tahun. Jadi saya resmi bergabung dengan NEC Indonesia pada tahun 2006.

Yang membuat saya tertarik untuk bekerja di perusahaan ini, juga adalah karena saya melihat background perusahaan ini yang adalah perusahaan Jepang. Karena saya lama (tinggal) di Jepang, dan kemampuan saya berbahasa Jepang juga sedikit banyak membawa pengaruh positif terhadap karir saya di perusahaan ini.

Kemudian, setelah masuk perusahaan ini, saya membina satu divisi yang sekarang menjadi System Integration (SI) Solutions Department. Bidang ini berfokus pada solusi-solusi NEC utk manufaktur, lalu kita masuk ke bidang ritel dari 2009. Sekarang saya memimpin sekitar 50 orang di divisi ini, yang semuanya bekerja di kantor pusat.

Bisa dijelaskan proses awalnya NEC Indonesia masuk ke industri ritel di sini?

Waktu itu kami mendapatkan kontrak dr Seven Eleven (Sevel), dan bantu mereka buka toko pertama, serta bantu untuk mengembangkan sistem mereka di Indonesia. Jadi November 2009, toko Sevel pertama buka, dan dari situ kita mulai berkembang dan masuk ke industri ritel lainnya.

Menurut Anda, apakah ada perbedaan antara industri ritel di Indonesia dengan di Jepang misalnya?

Bedanya ada, cuma masalahnya adalah rentang waktu saja ya. Karena sebenarnya pasar ritel di Indonesia yang berkembang saat ini itu, susah terjadi sejak 30 tahun yang lalu di Jepang. Jadi pada saat mereka beranjak ke PDB di atas US$3000, demand atau karakteristik buyer-nya sudah sama (dengan di sini sekarang). Seperti mereka sudah mulai menginginkan convenience (stores), sedangkan dulunya misalkan jalan 100 meter lebih pun asal murah, mereka mau saja pergi ke toko itu. Tapi mulai waktu itu mereka lebih cenderung tertarik kepada hal-hal yang berbau convenience atau lifestyle. Dan itu juga yang dirasakan saat ini di Indonesia, semua lebih suka hangout (di convenience stores), dan ini sebagai lifestyle mereka juga.

Kata Anda tadi, bahwa Anda yang mengembangkan divisi System Integration (SI) Solutions ini dari awal. Jadi dari waktu itu sampai sekarang, bidang ini sudah berkembang sejauh apa?

Dulu, pada awal saya masuk, (dalam divisi) SI itu hanya ada dua orang (pegawai). Di bidang ini kita mengintegrasikan beberapa sistem, jadi bukan hanya sistem (internal) NEC saja yang sudah terintegrasi, tapi kita juga mengintegrasikan ke luar sistem-sistem yang lain di luar itu. Dari dua orang, lalu menjadi sekitar 20 orang, untuk khusus sebagai SI. Untuk bekerja di divisi ini, seseorang tidak harus punya latar belakang pendidikan di bidang TI kok, tapi dia harus punya sense of TI. Jadi basicly dia harus mengerti proses bisnis secara umum, dan khususnya proses bisnis perusahaan ini.

Target kami di bidang ini, minimal sampai akhir 2013 nanti, adalah kami akan membina awareness masyarakat Indonesia, bahwa NEC itu mempunyai banyak solusi (TI) yang bisa diterapkan di Indonesia. Sementara dulunya mungkin masyarakat hanya mengetahui NEC itu sebagai produsen laptop, panel, atau proyektor, tapi sekarang mereka bisa mengenal NEC lebih dari itu. Lalu, kita ingin mengembangkan beberapa bisnis baru di Indonesia yang ada kaitannya dengan ritel, manufaktur, dan kolaborasi antara kedua sektor tersebut. Juga kita akan mengembangkan lagi (solusi) ke sektor finansial dan pemerintahan.

Kenapa dulu Anda tertarik memilih bidang TI sebagai jurusan kuliah?

Karena saya memang suka (dengan bidang TI). Saya cukup interested dengan programming, bahkan saya pertama kali buat program (komputer) itu sejak usia 12 tahun. Itu sebelum SMP. Jadi waktu itu saya dikasih satu komputer merek Apple, kemudian saya coba-coba (membuat software program) dengan itu, karena kualitas merek tersebut waktu itu sudah lumayan. Saya dulu juga kursus basic languages untuk programming. Dari situ saya terus coba bikin program segala macam, sampai saya akhirnya memilih IT sebagai jurusan kuliah. Jadi saya masuk ke dunia IT, beranjak dari programmer, terus masuk ke system architecture dan integrator, sampai sekarang.

Apa tantangan yang Anda alami selama bekerja di bidang TI ini?

Banyak ya, karena TI itu berkembang, jadi kita juga harus ikut banyak berkembang. Banyak new technologies yang harus kita absorb. Jadi makanya di TI itu kita harus membuka lebih luas penglihatan atau pemahaman tentang kompetitor, juga ke pasar-pasar kita. Apa yang baru di sana, dan apa yang bisa kita gabungkan untuk menciptakan suatu inovasi yang lebih diinginkan para konsumen atau pelanggan kita.

Industri TI sendiri di Indonesia, menurut Anda, sudah mulai berkembang sejak kapan?

Seharusnya sudah sejak lama ya berkembangnya. Memang di Indonesia ini jarang sekali yang bisa melakukan suatu sistem integrasi yang penuh, dari hardware, software, dan network-nya jadi satu. Tapi di NEC, itu jadi kelebihan, karena kita bisa mendukung integrasi semua itu.

Kemudian, bagaimana pandangan Anda soal kepemimpinan Anda selama ini terhadap pegawai? Bagaimana Anda menghadapi mereka?

Saya bukan orang yang strict (terhadap pegawai), “Oke kamu harus ini-ini-ini”, tapi saya lebih based on process and result. Jadi sebenarnya banyak pegawai yang masuk ke NEC, tapi mereka belum tahu bisnis perusahaan ini apa sih. Dari nol kita membina mereka sampai mengetahui dan mengerti alasan pasti mereka bekerja di perusahaan ini. Sehingga mereka memiliki tantangan, kepercayaan diri untuk bekerja di sini. Karena biasanya ketika mereka saya tanya NEC itu jualannya apa saja, mungkin banyak di antaranya yang menjawab “jualan laptop” saja. Padahal sebenarnya NEC juga menyediakan banyak solusi di bidang TI. Jadi setelah mereka masuk, baru tahu apa saja produk-produk lainnya yang dijual NEC.

Bagaimana pendapat Anda soal profesionalisme dalam bekerja?

Pandangan saya terhadap profesionalisme itu adalah integritas, ketepatan waktu, dan dua hal ini yang harus dipertahankan. Pengalaman saya soal tepat waktu, selama bekerja di perusahaan Jepang, yang sangat berbeda sekali ialah kalau kita janji jam 10 tapi datangnya jam 10 pas itu sama saja telat. Kita harusnya datang 15 menit sebelumnya. Jadi kerja dengan mereka itu baik sekali untuk melatih diri sendiri menghormati orang lain. Kalau kita datang telat itu berarti kita tidak menghormati org yang kita kunjungi atau sudah buat janji. Itu (ketepatan waktu) juga kita terapkan ke karyawan, misalnya ada hubungannya dengan deadline sebuah project, kalau kita biasanya tidak anggap itu janji, tapi sebenarnya itu janji untuk pelanggan. Di mana kita bisa memenuhi janji itu dengan tepat waktu.

Bisa diceritakan soal keluarga Anda, serta hobi Anda di waktu luang?

Anak saya dua, yang pertama perempuan, usianya 13 tahun, yang kedua adalah laki-laki dan usianya 10 tahun. Sekarang ini hobi saya golf, tapi kalau Sabtu-Minggu selalu saya habiskan dengan anak-anak untuk main. Dulu hobi saya juga ada yang berhubungan dengan TI, seperti otak-atik komputer, tapi sayangnya sekarang sudah jarang, karena waktunya kurang. Kemudian, saya juga hobi olahraga, yaitu bulutangkis, tenis meja, berenang, dan lain-lain. Saya juga suka kuliner, dan makanan favorit saya adalah Sop Buntut. Masakan Jepang saya suka, tapi (masakan) Indonesia lebih favorit.

Apakah sudah memperkenalkan soal IT kepada anka-anak?

Ya, sudah memperkenalkan (kepada mereka), karena mereka sudah bisa menggunakan komputer, minimal untuk browsing. Tujuannya karena banyak informasi ke dunia maya, tapi kita memang harus mengarahkan ke arah yang tepat, misalnya (situs) Wikipedia, untuk membuat mereka punya pengetahuan di luar sekolah. Tapi untuk peminatan khusus ke bidang TI, sepertinya dua anak saya belum ada yang serius ke sana. Saya sih terserah saja mereka mau kemana, sebagai orang tua kita akan dukung saja.

Apa ambisi hidup Anda ke depan, paling tidak di lima tahun mendatang?

Ambisi saya ke depan yakni retire young, ada keinginan mungkin untuk membuat usaha sendiri atau meneruskan bisnis keluarga kembali. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)