Sonita Lontoh, Hubungkan Wirausaha Indonesia dengan Amerika

Jangan pernah takut memulai sebuah usaha. Gagal tentu sudah biasa. Tapi, bisnis tak akan pernah bisa besar andai sebelumnya kita belum pernah merasakan kegagalan. Namun, pengusaha di bidang teknologi informasi (IT) kini punya kesempatan meningkatkan kemampuan dan mengembangkan usahanya dengan bantuan dari Silicon Valley, kawasan penghasil industri IT terbesar di dunia. Silicon Valley juga merupakan jantung perusahaan teknologi dunia. Caranya, bisa lewat Silicon Valley Asia Technology Alliance (SVA Technology Alliance), sebuah perusahaan non-profit (LSM) baru yang mencari penghubung antara industri teknologi di California Utara dan Indonesia, dua ekosistem yang selama ini dianggap amat berjauhan.

”Saya banyak membantu menghubungkan Indonesia dengan Silicon Valley melalui nonprofit yang saya kerjakan bersama beberapa teman, Silicon Valley Asia Technology Alliance. Kami membawa top technology entrepreneurs dari Indonesia ke Silicon Valley untuk bootcamps dan juga menghubungkan ekosistem teknologi di Indonesia dengan ekosistem teknologi di Silicon Valley agar terjadi lebih banyak kolaborasi global antarkedua negara,” kata Sonita Lontoh, Co-Founder SVA Technology Alliance.

Sonita Lontoh, Co-Founder SVA Technology Alliance. Sonita Lontoh, Co-Founder SVA Technology Alliance.

Menurut dia, sudah saatnya pemerintah Indonesia memanfaatkan kompetensi yang dimiliki jutaan diaspora yang tersebar di seluruh penjuru dunia dengan mengeluarkan serangkaian kebijakan yang bersahabat. Misalnya, memudahkan investasi di bidang teknologi di Tanah Air yang akan memberi nilai lebih untuk perekonomian domestik, serta membuka lapangan kerja baru, sekaligus mempercepat alih teknologi. Sarannya patut menjadi perhatian pemerintah.

Sonita adalah penyabet penghargaan Diaspora Excellence Award dari pemerintah RI. Dia juga meraih penghargaan sebagai Global Emerging Leader under 40 dan diundang ke Gedung Putih untuk menghadiri acara AAPI Women Champions of Change. Dia juga menjadi pembicara tetap untuk acara Forbes, CNN Money, TIME, Reuters, CBS, The Huffington Post, and stasiun TV dan radio yang lain. Latar belakangnya, yang meliputi dunia startup dan dunia korporasi di Amerika Serikat, membuatnya memiliki kewenangan di bidang inovasi global dan ekosistem startup.

Sebagai seorang Indonesia asli, Sonita pindah ke Amerika Serikat 20 tahun lalu untuk mengejar karir di bidang teknologi ramah lingkungan dan energi pintar. Dia sempat bekerja sebagai eksekutif di beberapa startup asal Silicon Valley, dan saat ini menjabat sebagai Head of Global Corporate Marketing Trilliant, sebuah media komunikasi di industri energi, yang memiliki General Electric (GE) dan perusahaan robotik yang berbasis di Zurich, Swiss, bernama ABB sebagai investor strategis.

Ke depan, ia mesti lincah bermitra dengan berbagai lembaga pemerintah dan pengambil kebijakan dan bersaing dengan perusahaan yang jauh lebih besar dalam memasarkan teknologi b-to-b. Trilliant sebenarnya perusahaan medium-sizedstartup, yang telah meraih investasi hingga Rp 1,5 triliun dari modal ventura dan juga General Electric dan ABB. “Saya sudah empat tahun di Trilliant. Saya menyukai bidang ini karena merupakan irisan dari teknologi, bisnis, dan kebijakan yang berkontribusi lebih pada kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya. (Reportase: Maria Hudaibyah Azzahra)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)