Sony Jethnani Berlabuh di Bidang Life Coach

Terlahir dengan nama Soni Jethnani, wanita berdarah India ini menjalani hidupnya dengan penuh energi. Soni memang bukan direktur, bukan pula top manager. Ia tengah merintis kariernya sebagai life-coach. Dunia tersebut memang yang paling sesuai untuk seorang Soni. Energinya selalu tercurah untuk bertukar pikiran tentang filsafat kehidupan kepada siapa pun yang dikenalnya.

Di kalangan pebisnis, sosialita, dan ekspatriat, nama Soni cukup dikenal. Wanita kelahiran Malang ini memang kerap menjadi jembatan antara ekspatriat dengan pelaku bisnis ibukota. Kegemarannya menjalin pertemanan dan menyalurkan energi positif melalui buah pikirnya menarik perhatian Mariko Asmara, presiden direktur JAC Recruitment. Soni pun kemudian digandeng bekerja paruh waktu sebagai Associate Consultant JAC Recruitment.

Berbeda dengan sosialita umumnya, Soni bukan tipe wanita karir yang mengejar materi. Wanita yang menguasai 6 bahasa ini memiliki pemikiran yang beda dari sosialita umumnya. Reporter SWA Online, Tika Widyaningtyas, sempat berbincang di tengah kesibukannya usai Social Gathering at British Chamber. Berikut petikan wawancaranya.

Sebelum bergabung dengan JAC, di mana Anda bekerja?

Wah, kalau Anda bertanya pengalaman kerja saya banyak sekali, karena saya change-addicted. Selama 10 tahun, saya bekerja di 10 perusahaan yang berbeda. Saya pernah jadi account officer, personal assistant untuk direktur, PR, dan sebagainya. Mungkin change-addicted itu muncul karena saya hidup berpindah-pindah. Saya lahir di Malang, kemudian pindah ke Jakarta di Pasar Baru. Usia 10 tahun saya pindah ke Jepang, kemudian Dubai, India, kembali ke Jepang lagi, dan sempat di Singapore juga. Ketika usia saya 20 tahun baru kembali lagi ke Indonesia. Nah, sekitar 3 tahun lalu Mariko jadi korban bom kuningan. Dia tidak bisa seaktif dulu, mengikuti banyak kegiatan. Saya bilang, "Kamu harus kurangi kegiatan. Atau wakilkan orang lain untuk datang." Jadilah kemudian Mariko mengajak saya bekerja paruh waktu sebagai account consultant. Momennya pas. Saat itu saya realize bahwa saya harus bisa bertahan.

Anda pernah menduduki berbagai posisi prestis yang berbeda. Sebetulnya apa latar belakang pendidikan Anda?

Itulah uniknya, dan saya bersyukur. Sebetulnya sekolah saya hanya sampai A-Level. Pekerjaan pertama saya sebagai Sales Person Girl (SPG) di Dubai. Jangan bayangkan jadi SPG di sana sama seperti di Indonesia. Di sana uangnya besar, dibayarnya per jam. Yang saya pasarkan juga brand-brand prestis skala internasional. Saya juga pernah bekerja untuk P&G Prestige sebelum perusahaan tersebut hengkang dari Indonesia. Makanya di Indonesia banyak yang mengidentikkan saya dengan Anna Sui.

Anda dipercaya memegang Professional Women Group at British Chamber (PWG) karena dikenal sebagai seorang yang enerjik dan lincah dalam menghubungkan satu orang ke orang lain. Benarkah Anda adalah pribadi yang tidak mengenal lelah?

Orang-orang sering bertanya begitu pada saya. Bahkan saya sampai sering disuruh turn-down karena terlalu enerjik sehingga mereka tidak bisa mengikuti ritme bekerja saya. Pada dasarnya saya bekerja untuk bersenang-senang, bukan untuk uang. Saya membawa energi dan antusiasme dalam bekerja, jadi saya selalu senang dengan apa yang saya kerjakan. Mungkin energi itu yang kemudian membawa saya menjadi asisten pribadi untuk direktur, dan posisi-posisi tak terduga lainnya. Makanya ketika saya tinggal di Jepang saya ganti nama dari Soni menjadi Sony. Soni dalam Bahasa Hindi berarti emas, sedang Sony dalam Bahasa Jepang berarti energi. Sebetulnya saya tidak hanya pegang PWG. Saya juga handle Internation, jejaring sosial khusus expatriat. Setiap bulan kita juga ada gathering seperti British Chamber. Selain itu dibidang coach saya juga sudah tergabung dengan ICF, International Coach Federation. Saya suka quality-crowd, jadi semua saya jalani dengan enjoy dan tidak merasa capek.

Sebagai seorang life-coach, apa hal utama yang ingin Anda bagikan kepada pelaku bisnis sekitar Anda?

Para pebisnis selalu ingin tahu hasil akhir sebelum mereka menjalani prosesnya. Padahal apa yang kita beri itu yang kita dapat. What you bring, what you get. Toh hidup ini selalu ada reaksi ketika ada aksi, equal. Seperti matematika juga sisi kanan selalu sama dengan sisi kiri. Begitu juga dengan hidup. Jadi jalani saja dengan totalitas, maksimalkan energi. Yang penting jangan menyakiti orang lain, koneksikan satu dan yang lain, dan menginspirasi. Itulah kenapa saya salut dengan Mariko dan Chyntia (Business Coach dan Pemilik Action Coach). Mereka bisa memperoleh uang dengan cara yang baik. Mereka melakukan apa yang memang menjadi passion mereka, but they make purpose. Jadi saya tidak heran kalau mereka selalu sukses pada apapun yang mereka lakukan. (Tika Widyaningtyas/EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)