Sosok di Balik Wajah Baru Bandara Sultan Thaha

Kerja keras mengantarkan Achmad Syahir menjadi General Manager termuda di antara 13 bandara yang dibawahi oleh Angkasa Pura II. Sejak bergabung di Angkasa Pura di tahun 2007, ia banyak melalui berbagai macam tantangan dan porsi kerja yang berbeda. Tidak pernah diduga oleh pria berdarah Ambon ini untuk mengemban amanah sebesar itu oleh menejemen Angkasa Pura II. Apalagi ia merasa dirinya tidak memiliki latar belakang operasional dan teknik yang biasanya dibutuhkan oleh pemimpin operasional bandara pada umumnya. Meski demikian, ayah dari dua anak ini tetap meyakini bahwa ini merupakan kehendak dari Yang Maha Kuasa sebagai suratan hidup.

"Sebetulnya saya cukup kaget dan mencoba berpikir dari sisi manajemen sembari bertanya kenapa saya. Saya tidak punya latar belakang operasional dan teknik yang paling dominan di bandara," tutur Achmad tentang alasannya dipilih sebagai GM di BUMN itu.

bandara

Walaupun tidak punya latar belakang teknik dan operasional, pengalamannya di Angkasa Pura II cukup membantunya, terutama dalam hal pengambilan keputusan. Baginya, kepemimpinan adalah soal pengambilan keputusan. Untuk itu, ia harus melihat masalah secara utuh. Hal tersebut kemudian membuat Achmad tidak pernah merasa tidak yakin. Ia selalu berpikir bahwa sebuah amanah harus dijalankan dengan baik dan bertanggung jawab. "Saya benar benar belajar dari proses, bukan dari sistematika atau teori. Saya berprinsip bekerja secara optimal dan sebaik mungkin, sembari memohon pertolongan dari Yang Kuasa," ujar Achmad.

Kondisi Bandara Sultan Thaha saat diserahkan kepada alumni Hukum Bisnis dari Universitas Islam Bandung (UNISBA) ini tergolong jauh dari ekspektasi. Ia hanya diberikan waktu satu bulan untuk melakukan relokasi dan pengoperasian dari bandara lama ke bandara baru. Ia bertekat untuk memenuhi tantangan tersebut. Ia rela mengambil risiko bekerja sepanjang waktu tanpa mengenal libur selama satu bulan penuh. Ia tidak hanya bekerja selayaknya GM, namun merangkap sebagai mandor untuk mengawasi penyelesaian pembangunan bandara. Baginya, jik hanya bekerja seperti biasa, akan mendapatkan hal yang biasa saja. maka dari itu ia bertekad untuk melakukan hal yang lebih.

Kerja kerasnya pun terbayar. Pada Desember 2015, Bandara Baru Sultan Thaha resmi beroperasi. Meski demikian, perjuangan ayah dua anak ini tidak sampai di sini. Masih banyak lagi yang harus dibenahi dan ditambahkan di Bandara Sultan Thaha baik dari segi infrastruktur maupun frekuensi penerbangan.

"Selama ini saya selalu berada di unit yang membutuhkan legacy. Saya juga selalu bikin breaktrough. Contohnya, saya diberi waktu selama satu bulan untuk mengoperasikan bandara baru. Padahal saya lihat di sini kondisinya sangat tidak memungkinkan. Tapi saya punya tekad, kalau kerja seorang diri hasilnya akan ordinary. Maka dari itu tiap hari dalam sebulan saya masuk untuk perpindahan dan pengoperasian. Jam kerjanya dari pagi hingga pukul 1dini hari," kenangnya.

Ketika ditanya mengenai kunci suksesnya dalam mengelola dan mengoperasikan terminal baru Bandara Sultan Thaha di usia yang relatif muda, ia menyatakan bahwa pengalaman  memegang kunci penting. Dari semua bidang yang dilaluinya sejak 9 tahun di Angkasa Pura II, Achmad melihat benang merahnya terletak pada human capital. Bagaimana mengatur dan menuntun orang sesuai dengan tujuannya, yakni bisa bekerja dengan pola dan target yang serupa. Memang jadi tantangan tersendiri dibandingkan ketika dia menjabat PR Manager sebelumnya.

Pekerjaan PR memang lebih spesialis, sedangkan saat menjadi GM lebih umum dan merangkup semua hal. Demikian pula dengan tanggung jawab mengelola staf dengan jumlah lebih banyak. Menghadapi hal tersebut, Achmad mengaku selalu menjadikan managing human capital sebagai pedoman dan patokan.

"Saya mengelola karyawan dengan pendekatan pada karyawan. Saya percaya setiap orang punya kelemahan dan kekuatan. Saya lebih mengoptimalkan kekuatan dari para staf. Caranya, saya dekati satu persatu untuk menyinergikan tim. Saya sebagai dirijen harus mampu mensinergikan plus minus karyawan," kenangnya

Selama dipercaya mengelola Bandara Sultan Thaha, Achmad menemukan banyak pengalaman menarik, baik dari sisi penumpang maupun internal. Ia merasa terkesan ketika beberapa karyawan yang tadinya yang tidak punya semangat kerja jadi punya motivasi. Selain itu, dari sisi kultur juga demikian. Saat ini banyak penumpang maupun pengantar yang tidak patuh terhadap standar bandara. Banyak di antara mereka yang duduk di pelataran lantai, parkir di drop zone, serta membuang sampah sembangan. Inilah yang masih menjadi PR bagi Achmad ke depannya.

"Saya rasa di semua wilayah manapun kecenderungan masyarakat Indonesia memang cenderung tidak bisa di atur. Padahal bandara bisa bagus jika perilaku orang orang juga baik. Makanya harus edukasi. Tantangannya bagaimana buat bandara teratur bukan dari segi infrastruktur, tapi dari masyarakat. Karena itulah kami selalu keluarkan peringatan secara rutin dan selalu ada petugas untuk melakukan inspeksi. Mereka harus diedukasi bahwa bandara ini punya masyarakat, jangan harap bisa rapi kalau tidak bisa diatur," tutur pria usia 39 tahun ini.

Target ke depannya, ia akan bisa menjawab tantangan dari direksi untuk menyelesaikan masalah yang ada di Bandara Sultan Thaha. Target pertama sudah tercapai yakni mengoperasikan bandara pada Desember 2015. Sedangkan target berikutnya adalah mengubah Bandara Sultan Thaha dari bandara dengan status bandara rugi untuk bisa mencapai titik impas tahun 2016. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)