Sri Rossa Roslaina Handayani: Berburu Properti untuk Melipatgandakan Aset

Rossa menjaring capital gain 50%-100% dari hasil jual beli rumah. Hasil penjualan diputar sebagai modal membeli apartemen, vila, dan memodali berbisnis karaoke. Apa saja yang dilakukannya dalam memutar asetnya ini?

Sri Rossa Roslaina Handayani, alias Rossa, salah satu artis penyanyi top Indonesia, sadar betul pentingnya berinvestasi. Ia selalu menyisihkan honor dari menyanyi untuk membeli properti. Sebagian besar portofolio investasinya memang berupa properti. Rossa menyebutkan dirinya menekuni  jual beli rumah sejak tahun 2002. Tujuannya untuk melipatgandakan asetnya. Ia membeli rumah di pasar sekunder untuk investasi. “Saya pertama kali membeli rumah di daerah Lebak Bulus. Harganya Rp 350 juta,” kata Rossa. Lalu, penyanyi bersuara sopran ini akan menjualnya lagi. Sebelum dijual, Rossa merenovasinya lebih dulu agar tampilan rumah semakin rapi dan sedap dipandang mata. Dia rata-rata merogoh koceknya sekitar Rp 50 juta untuk biaya renovasi. Perbaikan rumahnya itu  memakan waktu selama 1-3 pekan.

Setelah kelar, maka Rossa menawarkan ke calon pembeli. Dia menggunakan jasa agen pemasaran properti (broker) untuk memasarkannya. Calon konsumen diundang si broker untuk mendatangi rumah ini. Lantaran rumahnya ditata apik, banyak orang yang hendak membelinya. Namun, Rossa memprioritaskan penawaran harga yang sesuai dengan target capital gain. Proses negosiasi yang tidak berlika-liku memudahkan Rossa untuk memberikan sertifikat rumahnya itu ke pemilik baru. “Dalam lima bulan saya berhasil menjual di harga Rp 550 juta,” ungkap artis yang berada di bawah naungan label rekaman Trinity Optima Production ini. Jika dihitung-hitung, Rossa berhasil merebut capital gain sebesar 57,14% dari harga beli. Bagi Rossa, inilah keberhasilan yang pertama kalinya berinvestasi properti.

Ibunda Rizky Langit Ramadhan ini pun semakin kepincut berinvestasi properti. Ia memburu rumah di kawasan tertentu yang menjadi lokasi favoritnya di Jakarta Selatan, yaitu Pasar Minggu, Kemang hingga Lebak Bulus. “Daerahnya strategis karena dikelilingi pusat perbelanjaan, perkantoran, sekolah, universitas dan berdekatan dengan jalan tol. Jadi, saya lebih gampang menjualnya,” katanya. Lokasi itu setimpal dengan harga jual.

Rossa mengincar capital gain di investasi properti. (Foto : Hendra Syaukani/SWA) Rossa mengincar capital gain di investasi properti. (Foto : Hendra Syaukani/SWA)

Sebagai contoh, Rossa membeli rumah seluas 180 m2 seharga Rp 700 juta. “Lokasinya di Pejaten, Pasar Minggu,” lanjutnya.  Dalam tempo 6 bulan, rumah itu terjual seharga Rp 990 juta. Dengan begitu, imbal hasil yang didapatnya mencapai 41,4% dalam tempo yang singkat. Rossa pun bertambah senang lantaran berhasil menjaring untung. “Saya tipenya hit and run, beli rumah dan menjualnya lagi. Saya mengumpulkan sebagian besar keuntungan untuk modal membeli rumah yang lainnya,” ujarnya seraya tertawa ringan.  Penyanyi yang dikenal murah senyum ini senantiasa memburu rumah yang akan memberikan capital gain cukup tinggi. Untuk menghindari risiko, Rossa menggandeng broker properti langganannya. Karyawan perusahaan broker itu akan menyeleksi rumah-rumah yang dijual. Lantas, dia menghimpun berbagai informasi dan mendatangi rumah yang dimaksud.

Setelah mengoleksi data lapangan, karyawan broker properti itu menyampaikannya ke Rossa. Nah, Rossa akan mengolah dan menindaklanjuti informasi tersebut. Caranya, ia menuturkan, adalah meninjau langsung rumah yang akan dijual itu. “Saya melihat-lihat kondisi rumah di seluruh bagian. Kalau harga cocok dan lokasinya strategis, akan dibeli,” dia menjelaskan.  Lagi-lagi, Rossa berhasil mendapatkan buruannya. Rumah itu berlokasi di Pejaten. Rossa menggelontorkan dana sebesar Rp 6 miliar agar si pemilik lama melepas rumah ini.

Setelah transaksi pembelian dituntaskan, Rossa membenahi eksterior dan interior sesuai dengan selera artistiknya. “Saya mengecat ulang, membuat ruangan interior dengan gaya desain minimalis, dan merapikan bagian-bagian tertentu agar semakin indah,” tuturnya.  Itu merupakan gayanya setiap kali membeli rumah. Tiga tahun kemudian, rumah itu dijual seharga Rp 12 miliar atau meraup capital gain sebesar 100%. Tabungan di rekening Rossa pun bertambah gemuk.  “Jumlah rumah yang sudah saya jual sampai saat ini sekitar 12 unit,” ia menambahkan. Kendati demikian, Rossa tidak melupakan kebutuhan rumah bagi keluarga. Dia membeli rumah di Kemang, Jak-Sel sebagai tempat beristirahat dia bersama anak semata wayangnya. Rumah itu dibeli senilai Rp 15 miliar. “Sekarang harganya lebih dari itu, kemarin ada orang yang menawar Rp 30 miliar,” ungkapnya lagi. Meski begitu, ia tidak tergiur untuk melepasnya ke calon pembeli tersebut. “Kalau dijual, saya tinggal di mana dong,” katanya dengan nada guyon.

Berbicara investasi, penyanyi asal Sumedang ini tidak ingin menghambur-hamburkan uangnya yang diperoleh dari honor menyanyi atau duta produk. Dia menyadari karier di industri musik tidak menjamin kepastian dirinya mendapatkan penghasilan saat usianya senja atau ketika sinarnya sebagai diva meredup di masa mendatang. “Maka saya menyisihkan sekitar 50% atau 60% dari penghasilan untuk diinvestasikan,” kata penyanyi yang baru-baru ini merilis single berjudul Jangan Hilangkan Dia. Rossa pun membeli apartemen kelas menengah yang harganya berkisar Rp 200-300 juta. Dia membeli sejumlah unit apartemen di Jakarta. Lokasinya berdekatan dengan pusat bisnis atau berdempetan dengan pusat perbelanjaan, antara lain di Pluit, Jak-Ut dan Seasons City, Jak-Bar. Prinsipnya, tidak membeli apartemen rusunami yang khusus diperuntukkan bagi kalangan berpenghasilan rendah. “Saya tidak mau membeli apartemen rusunami karena itu haknya orang lain,” dia menegaskan.

Seperti halnya rumah, Rossa juga menjualbelikan apartemen. “Saya jual dan mendapat gain Rp 100 juta sampai Rp 200 juta dalam setahun hingga tiga tahun,” ujarnya lagi. Modal  jual beli apartemen ini diperoleh dari keuntungan menjual rumah plus sisa honor menyanyi. Pelantun Ayat-Ayat Cinta ini  mengumpulkan keuntungan untuk berinvestasi di instrumen lainnya. “Dari honor menyanyi saya membeli properti yang kemudian dijual lagi untuk mendanai pembelian vila dan berbisnis karaoke,” ia menjabarkan kiatnya. Di tahun 2008, Rossa membeli satu unit vila di Seminyak, Bali. Harga vila yang diincar Rossa hingga ratusan ribu US$. Saat ini, harga jual vilanya yang di Seminyak itu ditaksir lebih dari US$ 1 juta. Penyanyi mungil kelahiran 9 Oktober 1978 ini menyerahkan operasional dan pengelolaan vilanya kepada Premier, salah satu perusahaan manajemen vila. Dia mendapatkan penghasilan dari hasil sewa vila. “Saya mendapat passive income dari menyewakan vila. Tarif sewa vila saya itu US$ 7-8 ribu per bulan,” ia menguraikan. Dia menambah asetnya dengan membeli resor The Cove di Pulau Yeben, Raja Ampat, Papua Barat. Rossa  bermitra dengan pengembang The Cove, yakni PT Waruna Indah Nusantara. Resor itu diklaim sebagai resor mewah di Raja Ampat. Rossa membelinya tahun lalu. Ia mengucurkan dananya sekitar Rp 350 juta/unit. “Hasilnya belum ada karena baru mulai tahun lalu, nantinya saya akan profit sharing dengan pengembang,” ia menerangkan.

Di samping properti, Rossa menggandakan kekayaannya di bisnis karaoke. Diva Family Karaoke, demikian nama mereknya, telah dirintis sejak tahun 2011.  “Untuk satu gerai saja saya harus mengeluarkan dana Rp 7 miliar.” Bisnisnya kian berjalan mulus lantaran jumlah gerainya bertambah terus. Tahun ini jumlah gerai karaokenya sudah mencapai 49 cabang. Rossa mengatakan, dirinya mendapatkan penghasilan bersama investor yang menjadi mitra Diva Family Karaoke melalui kerja sama waralaba. Beberapa rekan Rossa dari kalangan selebritas menjadi investor untuk membuka cabang di beberapa kota.

Berbicara gaya investasinya, Rossa mengiyakan kalau dirinya tergolong investor yang berani mengambil risiko. “Saya memang risk taker,” katanya singkat. Dia sempat mencoba nyalinya di pasar modal tahun 2010-2011. Namun, dia kapok berinvestasi saham gara-gara merugi US$ 12 ribu dari jumlah total modal sebanyak US$ 20 ribu. “Saya juga pernah rugi berbisnis restoran. Rugi Rp 100 juta karena pengelolaannya tidak bagus,” ia menambahkan. Risiko berinvestasi memang tidak bisa dihindarkan. Dan, Rossa sudah menguji mentalnya sejak masih kuliah di Jurusan Komunikasi Universitas Indonesia. Dia berbisnis kecil-kecilan dengan menjual pakaian bekas tahun 1997-1999. Rossa sempat vakum dari dunia menyanyi pada periode tersebut. “Saya mulai mencoba bisnis pakaian bekas setelah peluncuran album pertama tahun 1996,” ucapnya. Ia memanfaatkan waktu luang untuk berbisnis pakaian bekas yang dibelinya di Cibadak Mall (Cimol).

Tempat ini menyediakan busana yang modelnya tidak ketinggalan zaman dan harganya ramah di kantong konsumen. Hampir semua jenis produk pakaian dijajakan pedagang, seperti kaus oblong, jaket, celana, kemeja, jas, tas hingga jilbab. Di tahun 1990-an,  mayoritas pembeli yang acap kali berbelanja adalah kalangan mahasiswa yang hanya punya anggaran belanja yang minimalis, tetapi ingin tampil modis. Perilaku konsumen yang seperti demikian menginspirasinya. Rossa mengisahkan setiap akhir pekan belanja pakaian di Cimol. Setelah berbelanja bal-balan (karungan), dia membawanya ke Depok, Jawa Barat. “Modal setiap kali belanja di Cimol hanya Rp 500 ribu,” tukasnya. Rutinitasnya itu dilakoni ketika kariernya di dunia tarik suara sempat vakum. Dia selektif memilih pakaian dan aksesori sesuai dengan tren yang digemari konsumen.  Kemudian, pakaian bekas ini diserahkan ke jasa pencucian (laundry) untuk dibersihkan. Barangnya ludes dibeli konsumen yang umumnya teman-teman kuliah. “Saya mendapat untung Rp 3 juta hingga Rp 5 juta,” tuturnya. Jika dihitung-hitung, Rossa menangguk laba hingga 10 kali lipat. Dia menyisihkan keuntungannya untuk disimpan sebagai modal kerja dan dana cadangan.

Pengalaman ini memupuk insting dalam berinvestasi di dunia bisnis. Ke depan, Rossa akan menambah portofolionya di sektor riil. “Saya tahun ini akan merilis parfum bermerek Rossa yang terdiri tiga varian, yaitu My Life, My Love, dan My Music,” ia menjelaskan.  Untuk mengelola aliran uang dari investasinya, Rossa menugaskan asisten pribadi yang menata keuangan pribadinya. “Saya tidak punya ATM dan kartu kredit. Kalau butuh uang saya harus memintanya ke asisten. Saya melakukan cara ini untuk menjaga cash flow dari hasil investasi dan honor menyanyi,” ia menegaskan. (*)

BOKS:
Tip Rossa Menggandakan Aset
Jual beli rumah di lokasi strategis, Jakarta Selatan.
Target capital gain menjual rumah 50%-100%.
Jual beli apartemen.
Target return menjual apartemen Rp 100-200 juta.
Mengumpulkan capital gain dari properti untuk membeli vila dan berbisnis karaoke.
Menyewakan vila US$ 7-8 ribu per bulan.

Mohamad Andoko: Rossa, Risk Taker yang Rajin Mengoleksi Aset Produktif

Meski berani mengambil risiko, Rossa dinilai sebagai investor yang berhasil meracik portofolionya dan pandai menjaga aliran kas. Itu terlihat dari cara Rossa yang memercayakan tenaga profesional untuk mengelola vila, jual beli apartemen, rumah, serta tidak memiliki ATM dan kartu kredit. Dari kacamata Mohamad Andoko, Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning, manajemen investasi Rossa patut diacungi jempol karena membeli aset yang produktif, yakni properti. “Selain properti, bisnis karaoke juga menjadi aset produktifnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menyebutkan properti menjadi sumber penghasilan pasif bagi Rossa ke depan. “Dengan menyewakan vila dan resor, Rossa sepertinya memahami kalau kariernya sebagai penyanyi tidak menjamin penghasilan di masa depan. Rossa, lanjut dia,  sangat memahami posisinya sebagai investor yang berani mengambil risiko. “Manajemen cash flow-nya tergolong baik, walau investasinya berisiko relatif tinggi,” ucap Andoko menilai.

Menurutnya, Rossa meminimalisasi risiko dengan memilih lokasi rumah dan apartemen di daerah strategis yang berdekatan dengan pusat bisnis atau akses jalan tol. “Wajarlah, dia mendapat capital gain yang lumayan tinggi,” Andoko menambahkan.  Ke depan, Andoko mengimbau Rossa mengkaji perkembangan teknologi yang berdampak ke bisnis karaoke. “Orang-orang kini bisa berkaraoke di YouTube. Nah, ini menjadi tantangan bagi pengelola karaoke,” kata Andoko menganalisis. (*)

Riset : Sarah Ratna Herni

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)