Stanley Oktavian, Jeli Melihat Peluang Bisnis Digital

Managing Director LIVI, Stanley Oktavian. Managing Director LIVI, Stanley Oktavian.

Meski tidak berlatar belakang di bidang TI, Stanley Oktavian menemukan minatnya di dunia digital sejak tahun 2012. Tepatnya, setelah mengikuti program JKTFI (Jakarta Founder Institute).

Ia menjadi lulusan pertama dari program inkubator untuk entrepreneur di bidang TI yang dibawa dari Silicon Valley itu. Sejak saat itu ia mulai merintis start up digital dan saat ini sudah meluncurkan aplikasi mobile e-book LIVI yang sudah memiliki inventory satu juta judul buku sejak launching pada bulan Juni lalu.

Berikut adalah petikan wawancara SWA Online dengan pria lulusan Teknik Industri Universitas Pelita Harapan tersebut.

Mengapa Anda memilih merintis usaha start up e-book? Apa latar belakangnya?

Selain karena saya suka membaca, menurut saya e-book nantinya akan menjadi masa depan industri buku di Indonesia. Karena e-book menawarkan cara baca yang lebih mudah dan praktis. Saya sendiri adalah pengguna e-book, saya pun merasakan bahwa setelah menggunakan e-book, saya bisa membaca buku lebih banyak dan cepat. Dari situlah saya melihat bahwa potensi e-book cukup besar. Di negara-negara lain sudah banyak yang menggunakan e-book. Saya ingin memulai itu di Indonesia.

Apakah Livi adalah e-book pertama di Indonesia?
Kami bukan yang pertama di Indonesia, tetapi bisa dibilang saat ini kami yang memiliki inventory e-book paling banyak dengan 1 juta judul. Jadi untuk menjadi market leader saya rasa kami punya potensi.

Siapa saja mitra kerjasama yang sudah bergabung?

Sebagai start up yang bergerak di e-book, tentu kami bekerja sama dengan penerbit. Sudah ada lebih dari 5 ribu penerbit lokal maupun internasional yang bergabung dengan kami. Penerbit itulah yang kami sebut mitra yang paling penting. Walaupun saat ini mayoritas penerbit masih dari luar, tetapi kami sudah bekerjasama dengan top10 penerbit di Indonesia, dengan harapan kedepanya kami akan terus fokus dan memperbanyak konten lokal, bahkan menjadi mayoritas.

Mengapa Anda tertarik di bisnis digital?

Alasannya simpel, saya melihat kesempatan yang besar di dunia digital. Digital adalah bisnis baru yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang pesat di Indonesia. Karena pada dasarnya apapun yang kita lakukan dengan digital itu memberikan solusi/kemudahan untuk kehidupan kita sendiri. Misalnya, LIVI masuk ke dunia digital dengan menawarkan cara membaca yang lebih mudah. Jadi dengan mereka menggunakan LIVI mereka bisa membaca buku lebih banyak.

Lalu bagaimana Anda belajar mengenai seluk beluk dunia digital?

Awalnya, saya mulai masuk ke dunia digital pada tahun 2012. Saat itu saya mengikuti program Jakarta Founder Institute (JKTFI, program semi incubator untuk para entrepreneur di bidang TI) yang dibawa dari Silicon Valley. Jadi disitu saya dan peserta yang lain di training, tentang bagaimana cara mendirikan perusahaan startup digital dari nol sampai release. Saya masuk dengan melalui tes dan disitu juga ada proses eliminasi. Untungnya, saya lolos dan menjadi lulusan pertama. Dari situ saya mulai belajar banyak tentang dunia digital dan akhirnya merasa cocok.

Bagaimana perjalanan Anda dalam mendirikan start up digital ?

Setelah lulus dari JKTFI tahun 2012, saya sempat membuat start up dengan nama Stilomo, sebuah aplikasi mobile yang bergerak di bidang food and promo directory. Hanya saja pada waktu itu kami melihat pasar belum siap, dari sisi merchant pun belum siap untuk bayar, jadi masih terlalu cepat. Hanya berjalan 8 bulan, saya dan tim memutuskan untuk berhenti. Dari situ saya belajar bahwa untuk dunia start up kita harus realistis melihat pasar. Walau pun kita tidak boleh berkecil hati ketika feedbacknya tidak bagus. Baru pada pertengahan tahun 2014 kemarin, saya mulai muncul ide untuk merintis Livi. Berawal dari ngobrol-ngobrol bareng dengan tim, dan pada September kita baru mulai membangun Livi.

Apa hambatan dan tantangan yang Anda alami dalam menjalankan bisnis digital?

Saat ini belum ada platform e-book di Indonesia yang menurut kami standartnya global, jadi kendalanya adalah dari pembuatan produk kami belum punya benchmarking yang kuat khususnya di lokal, kita harus bangun dengan keras lagi, itu adalah tantangan terkait teknis/produk. Tantangan lain dalam hal pasar adalah bahwa e-book sendiri bukanlah hal yang umum di Indonesia, belum banyak orang yang tahu. Selama ini kebanyakan orang hanya tau pdf, padahal keduanya itu berbeda. Kemudian kalau sisi kontenya, semua penerbit lokal tahu tentang e-book, tapi belum banyak penerbit yang mau inves di e-book, jadi tantangannya adalah meyakinkan dan membantu sampai akhirnya mereka siap berjualan dan setelah semua proses itu lewat baru kita masuk pasar.

Menurut Anda, kiat-kiat seperti apa yang harus dilakukan untuk membangun bisnis start up?

Dalam membangun bisnis di dunia digital tentunya kita harus terus cepat adaptasi dengan teknologi, aware dengan hal-hal baru yang bisa menguntungkan bisnis kita, dan yang paling penting jangan pernah berhenti belajar. Apalagi kalau IT, dalam hitungan hari saja bisa ada kompetitor baru.

Bagaimana cara Anda meningkatkan kompetensi?

Terus belajar, memperluas networking, dan rajin baca buku,

Apa target dan rencana Anda ke depan?

Kami ingin menargetkan mayoritas konten lokal Indonesia masuk dulu ke Livi, dengan begitu kita akan penetrasi Livi seluas-luasnya di Indonesia, sehingga nantinya membaca e-book bisa menjadi suatu gaya hidup di Indonesia. Untuk jangka panjangnya, saya berharap Livi dapat berkontribusi dalam mencerdaskan masyarakat Indonesia. Karena baca buku itu sangat berkorelasi positif dengan tingkat kecerdasan masyarakat, jadi harapanya dengan hadirnya Livi yang memberikan akses kemudahan untuk membaca buku, Livi pun dapat turut mencerdaskan masyarakat Indonesia. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)