Strategi Ervan Menaklukkan Bisnis Properti

Meksi tengah dihadang kondisi ekonomi yang sulit, namun industri properti nyatanya tetap dicari oleh konsumennya. Peluang psar pun harus digarap sedemikan rupa agar mampu menyerap kebutuhan pasar, sehingga properti bisa laku dan diminati masyarakat.

Ervan Adi Nugroho, Presiden Direktur Paramount Enterprise Ervan Adi Nugroho, Presiden Direktur Paramount Enterprise

Hal itulah yang ditekankan, Ervan Adi Nugroho, Presiden Direktur Paramount Land, perusahaan properti grup Paramount Enterprise. Menurutnya, properti merupakan salah satu dari tiga kebutuhkan pokok manusia selain sandang dan pangan. Properti tidak hanya menjual hunian, namun juga produk dan lingkungan. Makan, makin menarik lingkungannya, akan semakin tinggi pula daya tarik propertinya.

Ia mencontohkan bagaimana kawasan Gading Serpong, Tangerang Selatan, bisa berkembang dengan pesat. Ia sendiri bergabung dengan PT Jakarta Baru Cosmopolitan yang merupakan sinergi dua grup developer: Summarecon dan Paramount. Namun, tahun 1994, kedua grup tersebut belum memiliki bendera sendiri-sendiri.

Baru di tahun 2004 keduanya berpisah dan ia ikut serta dalam pengembangan Paramount Land. Menurut ayah dari 3 anak tersebut, tantangan dalam industri properti adalah bagaimana menyediakan produk yang tepat sesuai dengan kebutuhan konsumen dengan harga yang tepat pula.

Selain itu, momentum pun ikut memiliki peran, sehingga bisa memberikan hasil yang optimal. Oleh karena itu, melihat perkembangan kelas menengah yang cukup pesat, Paramount Land pun memutuskan untuk fokus  menggarap pasar kelas ini. Paramount Land pun mengeluarkan dua variasi hunian yaitu Malibu village dan Amarillo dengan harga mulai dari Rp 700 juta sampai dengan di atas Rp 1 miliar. Menurutnya pasar kelas menengah menyasar rumah dengan harga di bawah Rp 2 miliar di kawasan Gading Serpong.

Untuk memudahkan penetrasi pasar, pihaknya sengaja membuat konsep pemasaran dengan outlet Super Pro atau supermarket property yang tersedia di 100 kota besar di Indonesia. “Orang mau membeli perumahan di kawasan Serpong tidak harus datang ke sini, tinggal datang ke outlet terdekat. Bisa juga membuat website kami karena 80% informasi sudah lengkap disana,” dia menegaskan.

Selain itu,  pihaknya juga ingin membuat aplikasi dan akan diluncurkan pada semester kedua tahun ini. Hingga saat ini seluruh informasi masih dipusatkan di Super Pro dan website Paramount Land. Menurutnya, kawasan gading Serpong, untuk beberapa tahun mendatang, masih akan menjadi incaran kelas menengah.

Bagi pria lulusan ITB tahun 1986 ini, bisnis properti merupakan bisnis dengan siklus yang naik-turun dan cukup spesifik. Satu kawasan menyediakan lingkungan berbeda yang tidak bisa didapatkan di kawasan yang lain. Masing-masing lokasi unik dan tidak bisa di reproduksi sehingga memiliki magnet tersendiri bagi konsumen.

Meski, saat ini Gading Serpong memiliki prospek yang besar, ke depannya mereka harus bisa mengembangkan produk di lahan yang lain.”Suatu saat lahan disini akan habis, jadi kami harus bisa terus melakukan inovasi, salah satunya dengan menyasar ke luar Gading Serpong," ungkap Ervan.

Tak puas hanya berkutat di wilayah Gading Sepong, sejak tahun 2015 Paramount Land keluar kandang. Perusahaan ini ekspansi dengan memasuki wilayah Semarang dan Manado. Di tahun 2016 mulai mengevaluasi lahan yang memiliki prospek tinggi. Pihaknya berencana masuk ke Balikpapan dan Pekanbaru. Ke depannya, Paramount Land juga mengincar kawasan luar pulau Jawa.

Namun, pria Kelahiran Rembang 18 Agustus 1964, ini tidak memiliki ambisi khusus di luar mengembangkan Paramount Land. Saat ditanya mengenai ambisi pribadi, ia hanya tertawa dan menjawab ingin mengantar anak anaknya untuk lulus sekolah dan mendapatkan jodoh. Harapan yang sederhana, tapi mulia. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)