Strategi Rendhy Ardya Kembangkan SDM Bukalapak

Manajer SDM Bukalapak, Rendhy Ardya Pradhita.

Menjadi salah satu aktor yang berperan dalam pengelolaan SDM di e-commerce Indonesia, Rendhy Ardya Pradhita berhasil membawa nama Bukalapak.com mencuat. Pengalamannya menyusun perencanaan dan strategi korporat di kelompok usaha Triputra berhasil diaplikasikan di tempat ia berkarier sekarang.

Dengan bekal pengalaman pengelolaan SDM di Bukalapak,  Rendhy dapat mengantisipasi perebutan talent di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang terjadi di perusahaan di era digital saat ini. Baginya, tugas utama HR adalah melayani karyawan dengan tulus sehingga pegawai fokus bekerja dan berinovasi.

Praktik ini dterapkan di Bukalapak yang kini menjadi perusahaan startup unicorn dengan valuasi menembus US$1 miliar, atau sekitar Rp13 triliun. Bersama tim HR Bukalapak, Rendhy berusaha mengelola pegawai yang sebagian besar adalah generasi milenial. “Pegawai di Bukalapak yang umumnya di bawah 30 tahun mencapai 80% dari jumlah total karyawan. Dan, kebanyakan adalah tim engineer,” jelasnya.

Strateginya dalam memenangi persaingan perebutan talent dengan menjalankan program Goes to Campus untuk merekrut calon pegawai di perguruan tinggi. Upaya ini sekaligus memberikan added value bagi perusahaan, yaitu menanamkan employer branding kepada mahasiswa. “Sehinga, perusahaan kami menjadi top of mind bagi mereka saat hendak memasuki dunia kerja,” ungkap pria yang kini menjabat sebagai Manajer SDM Bukalapak.

Inovasi dalam pengelolaan SDM Bukalapak diwujudkan Rendhy melalui program yang selaras dengan perkembangan teknologi saat ini. Caranya, menerapkan Human Resources Information System (HRIS) yang terintegrasi dan dapat diakses secara mobile. HRIS layaknya Facebook, hanya saja berisi laporan absensi karyawan, laporan plafon kesehatan, tanya-jawab seputar ketenagakerjaan, form untuk mengajukan pelatihan, database jejak karier, kompetensi karyawan, dan sebagainya.

Berbagai program pengembangan SDM ini setidaknya menekan angka turn over rate pegawai di Bukalapak. “Tiap bulan, kami merekrut pegawai 100-150 orang dan yang resign paling 10 orang,  itu pun disebakan kontrak habis, tidak diperpanjang,” ujarnya.

Selain program Goes to Campus, Build Indonesia Together menjadi andalan Bukalapak untuk mengajak diaspora kembali dan membangun Indonesia bersama-sama. Kelebihan diaspora akan keterbukaan pada teknologi menjadi nilai lebih mereka dan membuka peluang untuk munculnya inovasi baru di dalam negeri, khususnya dalam menghadapi tantangan dari perkembangan teknologi. “Mereka juga memiliki jaringan yang lebih luas dan global, sehingga memberikan kemudahan nantinya,” tambahnya.

 

Reportase: Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)