Sudirman MR, Merangkak dari Bawah Hingga Menjadi CEO Astra Daihatsu Motor

Sudirman MR memulai kariernya di PT Astra International dari bawah sekali pada 1978. Tiga  bulan kemudian diangkat jadi staf. Lalu menjadi supervisor tahun 1978. Menjadi kepala seksi (1982), asisten manajer (1984), manajer (1989), kemudian naik menjadi general manager dan menjadi Direktur PT Gaya Motor (1991), tahun 1998 Direktur Astra Daihatsu Motor (ADM). Lalu tahun 2006 menempati posisi VP Director, dan tahun 2010 menjadi Direktur PT Astra International, tahun 2011 Presiden Direktur ADM dan Direktur Daihatsu Motor Company. Bagaimana lika-liku pengembangan karier Sudirman MR hingga mencapai posisi top manajemen Di Astra Group? Ia menuturkannya kepada Sigit A. Nugroho:

sUDIRMAN (TEGAK)

Apa tips sukses Anda?

Berpikir positif. Karena dalam bisnis, kita berinteraksi dengan berbagai kalangan, seperti principal, partner kerja, pemegang saham dan juga customer. Dengan berpikir positif kita bisa mendengar dan menangkap dengan baik apa keperluan mereka terhadap kita. Selain berpikir positif, saya juga terapkan disiplin. Dari kecil saya ikut Pramuka. Melalui kepanduan ini kita kan diajari disiplin. Displin ini terus melekat.

Apa memang bercita-cita akan menjadi pemimpin di perusahaan otomotif?

Tidak. Tapi memang sejak kecil sudah akrab dengan mobil. Bapak saya dulu punya perusahaan angkutan (truk). Waktu pulang sekolah saya sering melihat sopir melakukan perbaikan mobil. Jadi saya tahu komponen ini-itu. Bahkan saat kelas 5 SD saya sudah dipercaya untuk beli spare part.

Teman saya cerita, katanya dulu saya pernah bilang kalau besar saya akan kerja di perusahaan mobil untuk bikin mobil pengangkutan. Itu teman saya yang mengingatkan. Saya tidak ingat. Rupanya waktu di tingkat SMK saya ngomong begitu. Karena dulu gedung sekolah ada di dua tempat yang jaraknya 1,5 km. Suatu ketika, kata teman saya, saya pernah ngomong begitu.

Cita-cita itu terus dijaga?

Jalan hidup kan mengalir. Saya dulu dari Tasikmalaya ingin ke Jakarta untuk kuliah. Tapi sebelum itu, saya sempat bantu perusahaan ayah saya. Waktu itu truknya dari Tasikmalaya dibawa ke Jatibarang, Cirebon untuk perusahaan rekanan Pertamina. Namun semakin ke sini bisnisnya kurang bagus. Kesehatan ayah saya kebetulan menurun. Akhirnya saya bantu dan berhasil, walaupun aset perusahaannya mulai berkurang. Setidaknya bisnis tersebut bisa jalan lagi di Tasikmalaya.

Setelah itu saya ke Jakarta. Awalnya mau kuliah. Tapi lihat ada lowongan untuk magang di Jepang. Di sana ikut technical training pembuatan plywood. Jadi cita-cita otomotif sudah dilupakan sama sekali. Setelah 1,5 tahun di Jepang, saya bekerja di perusahaan perkayuan di Balikpapan selama 1 tahun. Setelah itu saya kembali ke Jakarta dan bekerja di perusahaan pembuatan plat alumunium. Di sana 1,5 tahun juga. Sebelum akhirnya resign karena melihat lowongan di koran.

Awalnya saya tidak tahu kalau perusahaan yang saya lamar itu bergerak di otomotif. Baru tahu setelah ikut seleksi. Ternyata itu Astra International.

Posisi terakhir di perusahaan alumunium?

Setaraf Department Head di production planing & control.

Karier Anda di Astra kan dari bawah, mulai staf. Apa tidak sayang?

Semua orang yang bilang begitu. Di perusahaan lama saya diantar-jemput sopir. Fasilitas sudah bagus. Tiba-tiba fasilitas itu hilang semua. Tapi saya yakin perusahaan yang lama tidak akan berkembang di jangka panjang.

Orang-orang bilang, apa tidak salah? Hanya satu pikiran saya saat itu. Saya melihat Astra Grup merupakan ladang yang subur. Kalau saya menjadi bibit yang baik, saya punya kans untuk maju bersama perusahaan. Itu tahun 1978. Pemikirannya sesimpel itu.

Sudirman (utama)

Seperti apa masa-masa susah tanpa fasilitas itu?

Dari pemikiran itu, saya bekerja sungguh-sungguh. Datang ke pabrik jam 6 pagi, pulangnya larut jam 10-11 malam.

Saya tinggal di rumah paman saya. Kerja naik vespa. Karena sering pulang malam, saya tidak enak. Akhirnya vespa saya jual. Uangnya untuk kontrak rumah. Dengan tinggal sendiri kan saya bisa mengatur pola hidup sendiri.

Ini juga dilatarbelakangi masa kecil saya. Kelas 3 SMP saya sudah tinggal sendiri karena orang tua pindah dari Kota Tasikmalaya ke wilayah yang jauh dari kota. Jadi saya pisah dari orang tua. Di situ saya belajar hidup. Kalau mau hidup harus makan, kalau mau makan ya harus masak nasi. Harus belajar nyuci baju, bersihin rumah dan lain-lain.

Jadi pola ini terbawa sampai saya kerja. Saya benar-benar merangkak. Di Astra dulu saya masih dapat uang lembur. Artinya, belum staf. Setelah tiga bulan baru diangkat jadi staf. Lalu menjadi supervisor tahun 1978. Menjadi kepala seksi (1982), asisten manajer (1984), Manajer (1989), General Manager menjadi direktur di PT Gaya Motor (1991), tahun 1998 Direktur di Astra Daihatsu Motor. Lalu tahun 2006 posisi VP Director, dan tahun 2010 menjadi Direktur di Astra International, tahun 2011 Presiden Direktur ADM dan direktur di Daihatsu Motor Company. Saya masih ingat perjalanan itu.

Untuk posisi manajerial kan tidak cukup hanya dengan disiplin dan kerja keras saja. Kan perlu lobi, interaksi dengan rekan kerja dan sebagainya...

Benar. Misalnya waktu menjadi asisten manajer. Salah satu direktur saya mengurus perizinan ke kementrian dan lain-lain. Saya sering mendengarkan. Dan, diminta tolong untuk membuat data. Suatu ketika atasan saya ingin bikin surat dan saya disuruh bikin konsepnya. Saya bilang, Saya coba, Pak. Ini kesempatan yang baik, pikir saya.

Saya pelajari dan membuat konsep surat sesuai perintah dia. Bahkan saya bikin dua sampai tiga konsep surat. Dia milih. Dan kasih koreksi. Saya tanya alasan koreksinya. Biar saya belajar. Akhirnya lama-lama malah saya yang disuruh kirim surat. Dari awalnya membuat draf lama-lama malah saya yang kasih tahu beliau untuk ajukan perizinan. Pada saat itu, tahun 1984 saya sudah berinteraksi dengan kementrian-kementrian, asosiasi dan lain-lain. Padahal waktu itu saya di production planing & control. Tapi sudah diberi kepercayaan untuk berinteraksi ke luar.

Untuk asah kemampuan?

Waktu masih di produksi, saya kan banyaknya di pabrik. Maka saya ikuti berbagai pelatihan seperti manajemen produksi, material, pergudangan, kualitas. Waktu itu saya berpikir itu saja tidak cukup. Saya lihat, saya lemahnya di mana. Saya tidak mengerti keuangan.

Akhirnya saya daftar lokakarya di Prasetya Mulya. Saya ambil manajemen keuangan untuk non-manajer keuangan. Itu saya daftar sendiri dengan biaya sendiri. Suatu saat saya bilang ke atasan saya untuk minta izin pulang 15 menit lebih cepat. Atasan saya kaget setelah saya jelaskan alasannya. Malah akhirnya, beliau bilang biaya pelatihan dibiayai kantor.

Artinya atasan memberi kesempatan...

Saya kalau diberi kepercayaan dari pimpinan, itu yang paling saya jaga. Nilai kepercayaan itu nomor satu. Saya tidak boleh sia-siakan. Misalnya, waktu dulu menjadi staf. Kalau saya diberi pekerjaan dengan tenggat seminggu, kalau bisa saya selesaikan 2 hari ya saya selesaikan. Saya tidak pernah tunda pekerjaan.

Dan, ketika menjadi staf, di atas saya kan ada kepala seksi. Saya lihat pekerjaan kepala seksi itu apa saja, kompetensi apa yang harus dipunyai. Nah, itu yang saya pelajari secara otodidak. Begitu seterusnya.

Saya baca-baca buku. Kalau tidak punya uang untuk beli buku ya saya numpang baca di toko buku Gramedia atau Gunung Agung. Dalam rangka menambah kompetensi itu tadi. Lalu, tahun 1984 kan ada Universitas Terbuka, ya saya daftar dan menjadi wisudawan angkatan pertama. Bukan cari gelar, tapi dalam rangka menambah ilmu.

Anda selalu mengejar posisi di atas Anda?

Tidak ada ambisi seperti itu. Misalnya, saya pelajari kompetensi kepala seksi saat masih jadi staf, saya tidak ada pikiran suatu saat harus jadi kepala seksi. Karena saya punya keyakinan, jalan hidup manusia sudah ditentukan Tuhan. Kita hanya berikhtiar, berusaha sebaik-baiknya.

Sehingga saya hanya mempersiapkan diri sebaik mungkin. Kalau saya sudah tahu tugas dan kompetensi kepala seksi, suatu saat posisi itu kosong, kan saya punya kans untuk dipertimbangkan oleh atasan. Tetapi, kita tetap harus lapang dada bila ternyata posisi kosong itu ditempati orang lain. Pernah dalam perjalanan karier saya seperti itu. Posisi kosong ditempati orang dari luar. Ya saya harus respek dengan atasan yang baru itu.

Ada nggak tokoh yang menginspirasi Anda?

Saya kagum dengan Pak Habibie. Beliau bisa bikin pesawat, dipercaya menjadi manajer di perusahaan multinasional. Saya tahu itu. Jadi saya harus belajar, belajar, dan belajar terus.

Dan sekarang Anda juga jadi petinggi perusahaan multinasional juga, di Daihatsu Motor Company. Pernah memimpikan itu sebelumnya?

Tidak pernah memimpikannya. Tapi ketika saya diangkat menjadi direktur tahun 2011, saya seperti mimpi. Karena pertama kali datang ke DMC tahun 1982 untuk training. Waktu itu saya datang ke sana naik bus atau kereta. Kondisi hujan deras. Basah kuyup saya. Sampai di sana saya dikasih seragam DMC. Itu bahagia bukan main.

Nah, waktu sudah diputuskan saya menjadi Presiden Direktur ADM dan akan menjadi direktur di DMC tahun 2011. Saya kaget ketika di bandara sudah ada yang menjemput, level-nya juga tinggi. Saya naik Toyota Crown yang baru sendirian di belakang. Ada sopirnya. Seketika saya bersyukur kepada Tuhan, bahwa saya tidak pernah bermimpi akan menjadi seperti ini tapi mendapat karunia ini.

Sekarang Anda sudah di posisi puncak. Target sukses apa lagi yang ingin dicapai?

Dalam berkarya, setiap manusia pasti ada masa pensiun. Itu tidak bisa dipungkiri. Jadi, saya harus meninggalkan legacy terhadap perusahaan ini. Untuk itu, saat ini saya sedang siapkan pondasi untuk perkembangan perusahaan ini dalam waktu 10-20 tahun ke depan.

Perusahaan ini, sejak tahun 2004 sudah menjadi perusahaan pembuat mobil terbesar di Indonesia. Tahun lalu kita produksi 521.000 unit. Sementara total penjualan mobil di Indonesia 1,2 juta unit. Artinya 40% lebih dihasilkan ADM untuk merek Daihatsu dan Toyota.

Tapi, keterlibatan orang ADM, orang lokal hanya 5-10%. Design dan development dilakukan oleh prinsipal. Suatu saat kami punya mimpi ADM sudah mampu men-develop mobil. Mulai dari design, styling, hingga development dilakukan orang kita. Terutama untuk membuat rancang-bangun body dan sasis kendaraan bermotor.

Untuk maju ke arah sana, kita sudah membangun R&D Center. Jadi, tahun sekian—maaf saya tidak sebut tahunnya—kami harus siap membuat minor change. Tahun sekian full model murni diciptakan putra-putri Indonesia. Jadi kita siapkan hardware dan brainware-nya.

Biasanya prinsipal kan tidak mau dapur-nya diambil? Bagaimana Anda meyakinkan mereka?

Kebetulan prinsipal sudah membuka diri, sudah percaya. Karena bagi DMC, Indonesia merupakan pasar potensial, pasar terbesar Daihatsu di luar Jepang. Syaratnya, kita harus punya kemampuan, maka prinsipal mau kasih teknologi itu. Makanya saya dorong teman-teman untuk terus belajar. Supaya ADM tidak hanya menjadi pabrik mobil terbesar saja, tetapi juga mampu membikin rancang-bangun untuk membuat kendaraan kualitas global secara massal. Itu legacy yang akan saya tinggalkan. (***)

Leave a Reply

3 thoughts on “Sudirman MR, Merangkak dari Bawah Hingga Menjadi CEO Astra Daihatsu Motor”

Saya sangta terinspirasi dengan Pak SUDIRMAN MR .semoga banyak yang seperti beliau untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia
by sahala hutajulu, 11 Dec 2015, 07:35
sy iing bahtiar,umur 35th,lulusan stm otomotif,burtuh kerjaan ada ga bagian operator produksi,sy ngelamar sana sini ga diterima krn umur,tolong dibantu,please.
by iing bahtiar, 19 Jun 2014, 16:16
Dear Sigit, sepertinya tulisan serupa sudah pernah dipublikasikan. http://swa.co.id/ceo-interview/sudirman-mr-belajar-belajar-belajar
by roni, 03 Apr 2014, 11:54

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)