Sulasmo, iJakarta Solusi Bagi Industri Buku Digital

Cita-cita Sulasmo Sudharno—CEO dan pendiri Aksaramaya—bersama teman-temannya di Aksaramaya adalah membangun budaya baca masyarakat Indonesia. Mulanya empat tahun silam, ia bersama teman-temanya mengerjakan proyek mendigitalisasi Al Quran di Yogyakarta. Dari sana ia banyak mengetahui bahwa industri buku digital masih terkendala lantaran belum ada penerbit yang mau memproduksi langsung materi bukunya dalam bentuk digital.

Sulasmo Sudharno, CEO Aksaramaya, Pendiri aplikasi perpustakaan digital iJakarta Sulasmo Sudharno, CEO Aksaramaya, Pendiri aplikasi perpustakaan digital iJakarta

“Yang ada kami harus memindai satu per satu halaman buku cetak kemudian disimpan dalam format digital yang bisa dibaca lewat desktop dan mobile,” kenang Sulasmo. Ditambah lagi, buku digital yang beredar di dunia maya umumnya ilegal, alias didigitalisasi tanpa ijin penulis dan penerbit. Sulasmo kemudian mencari jalan keluar dengan membuat toko buku digital, tetapi ternyata tidak laku, akhirnya ditutup.

Pria kelahiran Asahan, Sumatera Utara, 1971 itu tak patah arang, bersama teman-temannya mereka terus mencoba, diantaranya membuat fitur perpustakaan digital, lalu sosial media untuk pembaca buku, yang diberi nama Moco, namun semuanya kandas lantaran tidak menemukan model bisnis yang menguntungkan.

“Akhir 2014 itu saya sudah hampir putus asa, saya sampai nangis,” kenangnya. Ia kembali berdiskusi dengan teman-temanya, merncang model bisnis yang tetap bisa mewujudkan cita-cita mereka membangun budaya baca. Keluarlah ide membuat aplikasi perpustakaan digital," ungkapnya.

Tetapi setelah ide aplikasi perpustakaan digital itu mulai dieksekusi, Sulasmo mengaku dia dan timnya terbentur pada persoalan hubungan legal dengan penerbit dan penulis, khususnya soal hak cipta, bagaimana membuat jaminan bahwa buku digital yang beredar di perpustakaan digital itu nantinya tidak akan disalah gunakan?

Dari sana mereka mendapat solusinya yakni, DRM (Digital Right Management), d idalamnya diatur secara jelas hak dan kewajiban semua pihak baik penulis, penerbit, perpustakaan dan pembaca. Setelah DRM terbentuk, iJakarta pun mulai diuji coba. Sedangkan Moco tetap dijalankan sebagai e-commerce khusus buku, “Karena saya yakin pada akhirnya orang pasti akan tetap beli buku, “ ujarnya.

Pada prinsipnya iJakarta adalah sebuah media sosial berbasis e-book yang didalamnya ada banyak perpustakaan – perpustakaan, jadi bukan hanya perpustakaan milik pemerintah daerah DKI Jakarta.

Saat ini sudah ada lebih dari 120 perpustakaan dengan 20 ribu judul dan 190 ribu copy. Masing-masing perpustakaan adalah perpustakaan milik sekolah, komunitas dan perseorangan, khususnya publik figur seperti Najwa Shihab, Sarah Sechan, dan Ahok. Dengan adanya DRM, maka pemilik perpustakaan dapat membeli buku digital kepada penerbit, biasanya lebih dari satu copy. Jika masing-masing perpustakaan membeli 10 copy per judul, maka untuk satu judul saja penerbit bisa mendapat total order 100 copy dalam satu kali transaksi. Nantinya 100 copy itu yang akan dipinjam oleh anggota perpustakaan iJakarta.

Sistemnya sama seperti perpustakaan konvensional, ada batas waktu peminjaman, jika sudah sampai batas waktu harus dikembalikan maka buku tersebut otomatis diblokir sehingga si peminjam tidak bisa mengakses. Dengan konsep ini, maka penerbit, penulis dan pembaca sama-sama diuntungkan. Jadi ini menjadi solusi yang menarik bagi industri buku digital di Indonesia.

Sejak dilaunching Oktober 2015 lalu sampai sekarang iJakarta sudah diunduh lebih dari 100 ribu. Bagi Sulasmo ini sebuah pertanda yang baik sekali, terutama bagi bangkitnya budaya baca masyrakat. Apalagi publik figur yang mempunyai perpustakaan di iJakarta terus mengkampanyekan ke masyarakat untuk membaca, ditambah lagi dengan publikasi media di mana-mana, aplikasi ini semakin populer.

Bahkan saat ini terjadi waiting list lantaran jumlah peminat yang ingin meminjam dengan stok buku belum imbang. “Fenomena ini tentu jadi peluang lagi bagi penerbit artinya buku digitalnya bakal terus meningkat permintaannya baik oleh pemilik perpustakaan maupun pembaca yang ingin beli sendiri,” ujar Sulasmo.

Peluang lainnya adalah, ternyata buku-buku digital yang tinggi peminatnya biasanya akan mendapat respon yang sama baiknya ketika dijual dalam bentuk cetak, “Jadi alurnya dibalik dari buku digital yang tinggi peminat baru kemudian dicetak untuk dilempar ke pasar dan ternyata best seller,” lanjutnya.

Maka dengan kata lain, iJakarta bisa menjadi instrumen bagi penerbit untuk melihat analitics mana buku yang disukai dan yang tidak, untuk kemudian dilanjutkan ke pasar buku cetak, sehingga mengurangi resiko bisnisnya. Sekarang para penerbit besar juga sudah mulai produktif membuat buku digital karena ada jaminan pasar.

Pada awal Mei lalu iJakarta digandeng Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama untuk mengkampanyekan gerakan “Baca Buku Bareng”. Melalui iJakarta, diharapkan masyrakat bisa diadvokasi untuk membaca dengan cara membagikan pengalaman membacanya, komentar mengenai konten buku dan mengobrol seputar buku. Sejak itu semakin ramai yang mengunduh aplikasi ini, “Kami mulai bisa membaca pola membaca user, umumnya mereka membaca diantara pukul 20.00 sampai 23.00,” ungkapnya.

Tak hanya membaca, user juga bisa ikut berdonasi buku untuk perpustakaan yang ada disana, bahkan ada beberapa user yang kemudian mengajak komunitasnya membangun perpustakaan di iJakarta. “Saya pribadi melihat ini sebagai model ekonomi berbagi, dampak dari teknologi digital,” ujarnya.

Digital Right Manajemen menjadi payung pelindung bagi penulis dan penerbit sehingga tidak “kecolongan” bukunya oleh tindak ilegal dalam dunia digital. Maka disitulah tugasnya PT Woolu Aksara Maya untuk mengelola DRM. Selain mengelola DRM, Sulasmo mengaku pihaknya juga mendapatkan profit dari transaksi jual beli buku digital antara penerbit dan pemilik perpustakaan atau pembaca yang membeli, “Kami dapat fee tetapi tidak besar, dari sanalah bisnis ini terus berjalan,” ungkapnya.

Aplikasi yang tidak dijual

Pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Widya Gama, Malang ini mengaku kini aplikasinya mulai diminati pemerintah daerah (Pemda) lainnya, “Sudah ada 22 Pemda yang mengatakan berminat, dan 10 diantaranya sudah bersiap-siap mau launching dalam waktu dekat,” jelasnya. Tetapi Sulasmo mengaskan, dia tidak menjual aplikasinya, menurutnya jika aplikasinya dibeli maka cita-cita utamanya akan terputus, yaitu membangun budaya baca di Indonesia.

Untuk para Pemda yang berminat, pihaknya memberikan aplikasi tersebut secara gratis. “Karena prinsipnya kan sharing economy, sehingga ini (iJakarta) akan menjadi public domain nantinya,” jelasnya. Syarat bagi para Pemda adalah menyediakan konten dengan membeli langsung ke penerbit.

Guna membangun kepercayaan dengan penerbit, maka mereka (penerbit) diberikan dashboard untuk bisa melihat, berapa banyak bukunya yang dipinjam, buku mana saja yang paling banyak peminatnya, apa saja komentar pembaca mengenai buku-bukunya. Dengan begitu penerbit bisa mengguna analiticts tersebut sebagai acuan untuk strategi bisnisnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)