Thendy Susanto: Bisnis Ibarat Main Orkestra

Sejak kecil, Thendy Susanto bercita-cita ingin menjadi musisi profesional. Tapi, diskriminasi terhadap orang Tionghoa memaksanya mengubur dalam-dalam impian tersebut. Padahal, ia sudah menghabiskan uang untuk menempuh pendidikan khusus di sebuah sekolah musik di Amerika.

Meski tak sampai tamat karena keburu pulang ke Tanah Air, ia masih yakin bisa mewujudkan impian menjadi musisi. Oleh karenanya, ia bergabung dengan grup orchestra dan beberapa kali manggung memainkan biola di Jakarta.

Selain menjadi musisi, ia juga memendam hasrat menjadi produsen peralatan musik akustik. Ia sempat mendatangkan buku dan peralatan musik dari luar negeri. Sayang, semua kiriman itu tidak sampai ke tempatnya. “Kontrol politik yang sangat ketat membuat tidak semua produk buku dari luar bisa masuk,” katanya.

Ia sempat stress dan memutuskan untuk berhenti berharap menjadi musisi profesional. Ia harus ikhlas menerima kenyataan. Yang penting, semangat bermain musik tidak akan pernah pudar. Ia memilih menjadi salesman. Prinsip itulah yang kini diterapkannya dalam berbisnis.

“Bisnis itu seperti bermain orkestra. Masing-masing bagian harus main bagus untuk menghasilkan harmoni yang baik. Saya sendiri lebih banyak berperan sebagai inspirator dan motivator,” katanya.

Tahun 1980-an, Thendy menjalani bisnis trading dan dipercaya perusahaan peralatan pengolahan makanan dari Swiss. Ia melihat prospek cerah dari bisnis ini mulai total menjalaninya meski masih sendirian. Setiap hari, tugasnya mengunjungi industri pengolahan makanan dari kelas UKM sampai menengah. “Saya keliling koita-kota di Jateng, Jogja hingga Jawa Timur,” kenangnya.

entreprenur thendy susanto (67)

Ia menawarkan solusi peralatan mesin untuk proses produksi kepada para pelaku usaha di sektor tersebut. Usahanya membantu mekanisasi, mengubah proses produksi yang semula manual beralih ke mesin, menggelinding mulus. “Yang paling banyak perusahaan krupuk, bakso dan roti,” ungkapnya.

Saat sedang hot-hotnya membangun jaringan bisnis, perusahaan induk di Swiss melakukan reorganisasi dengan menutup kantor perwakilan di luar negeri, karena hanya akan fokus menggarap pasar Swiss. Namun, Thendy beruntung bisa mendapatkan produk sejenis dari Eropa yang direkomendasikan mitra bisnisnnya di Swiss.

Produk dari Eropa juga lebih beragam, tak hanya food prosesing, tapi juga berbagai peralatan dapur modern. Ia sempat kaget saat mendapat kepercayaan dari RS Elizabeth Semarang untuk merombak total dapurnya.

Karena merasa belum menguasai, ia bertolak ke Singapura untuk berkonsultasi tentang desain dapur yang cocok untuk rumah sakit. Dari sebuah perusahaan trading, ia kini mengisi peralatan dapur rumah sakit, ia mengkombinasikan produk dari tiga negara, yakni Inggris, Jepang, dan Jerman.

Suksesnya membangun dapur RS Elizabeth terdengar hingga ke rumah sakit lain di Semarang, yang juga tertarik untuk merenovasi dapurnya. Seperti RS Tlogorejo, RS Karyadi, dan RS Pantiwiloso dan beberapa rumah sakit di Palembang dan Jakarta, salah satunya RS Charitas.

Pada tahun 1986, Thendy berpikir untuk menghentikan ketergantungan terhadap produk import. Namun, ia tidak menemukan produk peralatan dapur berstandar internasional yang diproduksi di dalam negeri.

Ia kemudian berusaha memproduksi sendiri peralatan dapur. Dari sinilah, kemudian lahir Nayati, produk peralatan dapur modern yang telah berhasil menembus pasar Eropa dan dunia. (Reportase: Gigin W Utomo)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)