Bong Edison Tidak Bisa Lari dari Tisu

Bong Edison, Business & Operation Director PT Graha Kerindo Utama (GKU), hampir 18 tahun berkecimpung di dunia kertas. Pengalaman panjangnya tersebut membuat pria yang pernah kuliah di Jerman ini, tahu betul bagaimana membuat suatu produk yang benar-benar berkualitas. Hal ini akhirnya membuat produk Tessa kembali meraih penghargaan bergengsi di kategori tisu di ajang Indonesia Original Brand yang digelar oleh  Majalah SWA. Berikut pemaparan lengkap Bong kepada reporter SWA Online Destiwati Sitanggang.

Bong Edison, Business & Operation Director

Bagaimana pendapat Anda mengenai penghargaan ini?

Ini suatu penghargaan yang sangat baik sekali. Karena dari Tessa sendiri, kalau disebut sebagai original memang pantas, karena usia Tessa sendiri sudah 28 tahun. Tentu masyarakat Indonesia sangat mengenal Tessa. Mungkin Tessa tisu pertama di Indonesia yang kedua kali mendapatkan original brand.

Memangnya Anda sudah berapa lama memegang brand Tessa?

Hampir 11 tahun

Sebelumnya bekerja di mana saja?

Dari dulu saya di pabrik tisu, hanya di perusahaan yang berbeda-beda.

Berapa lama masa bakti Anda di perusahaan sebelumnya?

Kurang lebih saya mendalami tisu itu kurang lebih tujuh tahun

Sebagai seorang yang sudah lama di dunia kertas, adakah cara khusus dalam memasarkan Tessa?

Tentu ada langkah-langkah khusus yang harus dilakukan untuk penjualan, tetapi fokus utama kami bukan hanya penjualan. Tentu kualitas menjadi nomor satu. Yang kedua, kalau kita membicarakan kertas atau tisu, itu berkaitan dengan hutan. Masyarakat harus sadar, bahwa tidak boleh sembarangan dalam memilih tisu. Cari tisu yang yang bukan hanya berkualitas, tetapi jelas sumber bahan bakunya.

Kami mungkin satu-satunya perusahaan di Indonesia yang sudah mendapatkan sertifikat FSC untuk kategori kertas.

Bagaimana kondisi pasar tisu sendiri?

Kalau di luar negeri itu sangat paham dengan lingkungan, mereka peduli dengan lingkungan. Apalagi untuk produk Indonesia. Semua produk Indonesia yang berkaitan dengan hasil hutan itu harus benar-benar melewati aturan yang sangat rumit.

Apakah kondisi pasar Indonesia sama dengan kondisi pasar luar negeri?

Belum, memang kita harus memulai kalau soal hal itu. Kalau bukan kita siapa lagi yang memulai. Untuk apa kita hanya berpikiran ekonomi, tetapi hutan kita dirusak. Sebenarnya biaya yang kita keluarkan terlalu murah, hutan di indonesai adalah paru-paru dunia, lalu mengapa kita harus mengorbankan paru-paru dunia ini? Toh efeknya akan kita rasakan, seperti sekarang ini, panas di Indoensia sekarang sudah berapa derajat, nanti 25 tahun lagi kita tidak tahu.

Lalu, bagaimana menghadapi pasar Indonesia yang seperti ini?

Ya, kalau masyarakatnya sadar, harus rajin-rajin browsing, cari tisu yang paling baik. Karena tisu kita juga membernya Global Forest and Trade Network (GFTN), member World Wildlife Fund (WWF). Dari situ, WWF bisa memaparkan siapa kami.

Lalu, mengapa Anda tertarik bekerja di bidang ini?

Saya tertarik tisu, karena tidak bisa lari dari tisu. Karena dari awal saya bekerja, memang selalu di pabrik kertas. Jadi, saya sudah paham bagaimana mengolah pulp sampai menjadi kertas. Sudah menjadi bagian dari hidup, karena ada suatu saat kita akan menyadari kalau ini pekerjaan yang sanatt kita cintai dan sudah meresap.

Jadi ketika ingin membuat kertas, rasanya sudah tidak sulit lagi, karena sudah hidup dalam benak. Tapi itu tidak berenti di situ, bagaimana tantangan ke depannya. Kalau membuat kertas, semua orang bisa, tetapi untuk membuat kertas yang berguna bagi manusia, berguna bagi kelestarian alam, tidak semua orang memiliki hal ini. Saya pernah belajar tentang hal ini di bangku kuliah, buat apa kita belajar tinggi-tinggi tetapi kita tidak bisa melestarikan lingkungan.

Latar belakang pendidikan terakhir Anda?

Saya dulu kuliah di Jerman, mengambil jurusan Teknik Mesin.

Tidak merasa aneh, dari mesin masuk ke kertas?

Sebenarnya dasarnya sama saja, mesin itu hanya alat. Tapi kalau kita mengerti fungsi mesin, untuk menghasilkan sesuatu yang lebih banyak, artinya produk apapun kita akan paham. Karena kita mengerti konsep bekerja mesin, kita akan tahu ini produk mau dibuat apa, dan dilarikan kemana. Intinya, dalam membuat sesuatu kita harus mengerti konsep pembuatannya terlebih dahulu, sehingga apa yang dihasilkan akan sesuai dengan keinginan kita.

Selama 18 tahun di perusahaan kertas, apa tantangan yang dihadapi?

Yang saya hadapi pola tingkah laku manusia. Karena, saat kita membuat sesuatu, kadang kala manusia itu tidak sadar dengan apa yang dibelinya. Sebagai produsen kita harus menjelaskan keunggulan produk ini dimana. Apa yang membedakan dengan produk lain. Di sini kita butuh waktu untuk memberikan product knowledge kepada masyarakat, tentang tisu yang baik.

Tentunya kita tidak bisa memborbardir dalam waktu singkat, step by step, dengan menggunakan perkembangan teknologi, seperti media sosial, iklan-iklan, dan memanfaatkan semua media digital agar prouct knowledge tersebut sampai ke masyarakat.

Bagaimana pertumbuhan bisnis Tessa di pasar domestik?

Kalau pertumbuhan domestik cukup tinggi, karena kalau bicara tentang perkapita per tahunnya, menurut saya masih kurang dari 500gram, kalau kita bandingkan dengan Malaysia mungkin bisa 3-4kg. Artinya, kondisi ini sangat jauh apalagi dengan keadaan sekarang di mana pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik.

Saya yakin dalam waktu 3-4 tahun ke depan kita tidak akan mampu lagi, jika hanya dengan kapasitas seperti ini. Kita harus benar meningkatkan produksi kita, karena tisu sudah menjadi bagian dari perkembangan gaya hidup. Kalau bicara tisu maka ada kaitan dengan higienis, dahulu kita menggunakan kain lap basah untuk membersihkan, sekarang mengguakan tisu, selesai, tinggal buang.

Market share Tessa berapa?

Berdasaarkan data yang kita dapat ada sekitar 52% untuk brand Tessa ya, kalau dari tisu secara global mungkin sekitar 35%.

Lalu, bagaimana perkembangan pasar di mancanegara?

Terus terang perusahaan kami juga ekspor ke negara-negara Barat, yang sangat menerima produk kita. Karena satu-satunya produk Indonesia yang bisa masuk ke negara western dengan sertifikat FSC. Ini merupakan cara yang paling mudah, yang lain bisa dikatakan tidak diterima sertifikatnya. Di sinilah penghargaan yang luar biasa buat kita, karena kemampuan supply kita tidak cukup dengan permintaan pasar yang di luar itu.

Sudah ekspor ke negara mana saja?

Kalau ekspor sudah semua Asia, tertutama Asia Tenggara, itu bahan bakunya dari kita. Jadi kita menjadi pemasok bahan baku bukan merek Tessa saja, terutama Malaysia. Hampir semua produk dari Malaysia yang masuk Singapura, sebagian besar bahan bakunya dari kita.

Bagaimana prospek pasar di luar negeri?

Kalau pertumbuhan di Eropa saya kira sudah stagnan, sudah berhenti, begitu juga di Amerika, angkanya di situ-situ saja. Yang mengalami pertumbuhan itu di Asia, pertumbuhan yang luar biasa. Untuk Indonesia sendiri tahun lalu sekitar 20%, untuk tahun ini mungkin pertumbuhannya antara 15-20% tertahan di kurs saja.

Kalau brand Tessa sendiri sudah eksis di Vietnam, Kamboja, dan Brunei Darussalam, kadang kala juga di Dubai.

Ada target lain untuk Tessa?

Jangan nomor satu di Indonesia saja, kalau bisa menjadi top brand di Asia.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)