Titonius dan Bisnis Market Place Khusus Produk Indonesia

Titonius Karto, Founder & CEO KU KA Titonius Karto, Founder & CEO Ku Ka

Jika Anda berniat jualan online dengan produk yang berasal dari luar negeri seperti China sebaiknya tidak menjualnya di Ku Ka, karena market place ini tidak akan menerimanya. Ku Ka adalah brand market place produk-produk lokal Indonesia di bawah bendera PT Kuka Aku Suka Suka. Titonius Karto (38 tahun), sang pendiri, mengungkapkan dirinya sengaja membangun Ku Ka sebagai tempat bagi produk-produk lokal agar bersinar dan mendapat tempat di negerinya sendiri. Saya  tidak setuju jika produk Iokal Indonesia dibanding-bandingkan dengan produk luar apalagi soal kualitas,” ungkapnya.

Target utama dari Ku Ka adalah generasi milenial. Menurut Titonius, generasi milenial adalah generasi yang sangat digital oriented dan  cepat menyebarkan pengaruh dan perubahan bagi lingkungan sekitarnya. “Mayoritas penjual di tempat kami adalah anak muda, ini yang membuat kami beda dengan market place lainnya,”’ ujarnya.

Pria yang mengantongi gelar Master of Global Management dari Thunderbird University, Arizona ini menjelaskan, para penjual di Ku Ka itulah pemeran utama bisnisnya, bukan dirinya. Cita-cita besar dari Ku Ka untuk para penjualnya adalah membawa mereka ke pasar global. Untuk mendukung cita-cita ini, Tito sudah menyiapkan tiga hal yaitu bantuan untuk pelatihan, pendanaan dan pemasaran.

Guna menggandeng para wirausawahan muda itu, Tito mengaku masih mengandalkan strategi WOMM dan road show, “Kami sudah keliling ke 13 kota di Indonesia untuk mengajak UMKM terutama yang dijalankan oleh anak muda daerah untuk bergabung,” ujarnya. Sejak diluncurkan pada September 2015 lalu, sudah ada lebih dari 5.000 penjual yang dengan market place ini, didominasi oleh penjual produk fashion (kuka.co.id) dan makanan (kedaikuka.co.id).

Menurut Tito, para pedagang di Ku Ka bisa mendapatkan layanan custom shipping sehingga bisa disesuaikan dengan karakter produk. Dia mencontohkan minuman yang harus dikonsumsi kurang dari 3 jam, maka Ku Ka menyediakan pengiriman cepat agar produk tetap segar saat diterima pembelinya.

Tito juga mengaku selalu siap membantu pemasaran produk para penjualnya di setiap kesempatan. Dia  mencontohkan saat ada pagelaran fashion Nation (fashion show) di Jakarta beberapa waktu lalu, pihaknya mengajak penjual yang bergerak di bidang fashion untuk tampil di sana. “Seller kami yang dari Pekalongan, Cirebon dan daerah lainnya yang punya produk fashion bagus kami bantu untuk tampil di ajang itu agar produknya makin banyak dikenal orang,” jelasnya.

Satu lagi hal menarik yang ditawarkan market place ini adalah si pemilik toko alias penjual, boleh menutup ‘toko’nya untuk jangka waktu tertentu jika ada keperluan seperti liburan. “Kami mengerti pedagang atau penjual sama seperti pekerja pada umumnya, ada saatnya dia butuh libur sebentar, maka dia boleh tutup tokonya,” jelas Tito.

Tetapi hal lain yang digarisbawahi Tito tentang Ku Ka adalah tujuan utama dari market place ini bukan profit seperti kebanyakan bisnis, tetapi kolaborasi antara Ku Ka dan para penjual, serta kolaborasi di antara sesama penjual itu sendiri. “Dengan kolaborasi mereka akan lebih cepat jadi besar dan go global,” ujarnya.

Di setiap ajang pemasaran Ku Ka selalu hadir membawa para penjualnya dengan konsep kolaborasi. “Jadi misalnya untuk satu set pakaian wanita itu diisi oleh beberapa penjual. Ada yang menyiapkan bajunya, ada yang siapkan sepatunya dan ada yang siapkan aksesoris, seperti itu kolaborasinya,” dia menegaskan.

Market place ini juga memberi ruang bagi para wirausaha sosial untuk memasarkan produk dari mitra binaannya, seperti Du Anyam, sebuah wirausaha sosial yang membantu meningkatkan taraf hidup wanita di Flores, NTT dengan memproduksi aneka produk anyaman. Selain Du Anyam, ada juga Rumadu, Celengan.id dan Grainforliving. “Kami memberikan seksi khusus untuk menjual produk dan jasa sosial ini dan tidak lupa kami tampilkan juga kisah di baliknya, sehingga orang tidak hanya membeli produk tetapi tahu juga cerita dibaliknya,” jelas Tito.

Tito juga tidak lupa untuk membangun tim  media sosia yang bertugas mengembangkan pemasaran terpadu antara Ku Ka dan media sosial seperti Instragram. “Kami sadari para penjual juga ingin menjual produknya lewat  media sosial. Untuk itu, kami  bantu mereka agar sistemnya bisa jadi satu paduan, sehingga produk yang dipajang di toko Ku Ka bisa dipajang juga di Instagram, Facebook dan media sosial lainnya,” jelasnya.

Ke depan Ku Ka akan siap membawa produk-produk Indonesia untuk masuk ke pasar luar negeri seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Tetapi Tito mengaku untuk menjajaki pasar di luar negeri, kendala terbesarnya adalah biaya logistik yang cukup besar. Meski demikian Tito tetap optimistis ingin melebarkan sayap bisnisnya ke kancah internasional.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)