Transformasi Pos Indonesia Ala I Ketut Mardjana

PT Pos Indonesia pernah berada di titik nadir. Selama beberapa tahun, 2004-2008, kinerja keuangannya terus merugi. Bukan tampilan kantor Pos saja, mobil operasional dan infrastruktur perusahaan pelat merah itu semakin kusam.

I Ketut Mardjana, Dirut Pos Indonesia I Ketut Mardjana, Dirut Pos Indonesia

Baru tahun 2009, Pos Indonesia akhirnya mampu bangkit dari keterpurukan. Adalah sosok I Ketut Mardjana yang mampu  mengubah perusahaan berlogo burung dari buntung menjadi untung. Bahkan tahun lalu, pendapatan Pos Indonesia melonjak hingga Rp 3,078 triliun dengan laba bersih Rp 156,648 miliar.

Pertanyaannya tentu upaya apa yang dilakukan Mardjana dalam membenahi perusahaan yang merugi hingga bisa untung ratusan miliar? Dengan tegas pria kelahiran 18 Maret 1951 ini menjawab: “Tidak ada jalan lain kecuali Pos Indonesia harus melakukan langkah-langkah luar biasa yang dilandasi pemikiran out of the box dan ditopang dengan gaya kepemimpinan transformasional oleh pemimpin yang memiliki vision, value dan courage.

Saat ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Pos Indonesia, ia merumuskan langkah-langkah transformasi. Langkah awal dari suatu perubahan, 2009-2010, dimulai dengan program empowerment and modernization. Dalam program ini ditekankan pada desentralisasi pengambilan keputusan.

“Policy decision making process tidak dimonopoli pimpinan tingkat pusat, tetapi sebagian keputusan bisnis dilimpahkan ke area. Ini supaya mempercepat proses pengambilan keputusan sekaligus dimulainya langkah transformasi,” ujar Mardjana yang juga pernah menjadi Komisaris di PT Semen Gresik, PT Indocement, PT Semen Tonasa, PT Asia, PT Perkebunan Nusantara XI, PT Jasa Sarana dan Direktur di PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk.

Setelah melakukan transformasi, kemudian lahirlah ide membangun PostMart. Selain menjual barang-barang secara fisikal, yaitu barang-barang konsumsi, juga menyediakan layanan e-commerce.

Dalam mengembangkan layanan e-commerce, Mardjana yang merupakan lulusan akutansi dari Institut Ilmu Keuangan (IIK) Jakarta, menggandeng provider baik di dalam maupun luar negeri. “Agustus kemarin, kami bekerja sama dengan perusahaan di Singapura yang memperdagangkan 2-8 juta item produk.”

Ke depannya, menurut Mardjana, juga akan ada fasilitas belanja online di kantor pos. Setiap kantor pos akan disediakan katalog dari penyedia barang. “Dengan cara ini masyarakat di pedesaan bisa bertransaksi secara elektronik, tidak perlu pergi ke kota untuk berbelanja,” jelas anak petani dari sebuah desa kecil di Kintamani ini.

Selain itu, Pos Indonesia juga akan menampilkan data-data dan kondisi pasar. “Nantinya, petani dan pedagang di desa bisa melihat harga-harga pertanian di berbagai kota. Harapan kami dengan cara ini akan menimbulkan pergerakan barang dari satu titik ke titik lainnya mengikuti pergerakan pasar. Dampaknya adalah kestabilan harga,” kata Mardjana yang mengaku dulu harus menempuh perjalanan 7 km dengan berte, tanpa sepatu harinya untuk menjangkau SD-nya.

Mardjana juga membawa Pos Indonesia meninggalkan organisasi yang bersifat tradisional ke organisasi yang berbasis produk atau  lini bisnis. Meski BUMN, ia melarang karyawannya memiliki mindset bersifat birokraktik, tetapi harus proaktif dan tanggap terhadap kebutuhan pelanggan.

“Dengan kata lain, Pos Indonesia harus bertransformasi, baik dalam pengembangan lini bisnis, mindset para pemimpinnya, maupun aspek pendukung seperti organisasi, kesisteman, model bisnis dan infrastruktur bisnis mampu bertahan dan berkembang menghadapi perubahan zaman,” papar peraih gelar Doktor dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Monash University ini. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)