Vindhya dan Bisnis Travel Ibu Penyu

Keluar dari pekerjaannya sebagai salah satu karyawan di perusahaan adalah pilihan yang diambil oleh Vindhya Sabnani. Perempuan lulusan Marketing Communication, London School of Public Relation di Jakarta ini bukan tanpa alasan memutuskan resign, ia ingin fokus untuk mengembangkan bisnis travelnya. Lalu, Vindhya memproklamirkan nama travel yang dikibarkan: Ibu Penyu. Travel ini dibentuk sejak 6 tahun lalu dan menjadi salah satu trip organizer yang dilirik oleh para traveler dan pecinta wisata. Selain karena hobi menyelamnya, Vindhya ingin mengajak tukik (sebutan peserta trip Ibu Penyu), untuk melihat 'surga tersembunyi' di Indonesia. Berikut wawancara SWAonline dengan perempuan kelahiran Jakarta, 18 Desember 1984:

Trip ke Pulau Komodo (doc.ibupenyu.com) Trip ke Pulau Komodo (doc.ibupenyu.com)

Bagaimana ide awal atau latar belakang sehingga mendirikan bisnis ini?

Mendirikan bisnis karena desakan dari beberapa teman dan orang tua untuk mulai serius menekuni hal yang saya sukai,  yaitu mengatur kegiatan perjalanan. Dimulai dari tahun 2009 dan saat itu perjalanan yang saya atur khusus hanya untuk teman-teman sendiri. Kemudian berkembang, karena teman tersebut mengajak temannya yang lain untuk ikut serta. Saya merasa ada tanggung jawab lebih saat ada orang lain yang tidak saya kenal ikut serta dalam perjalanan yang saya atur. Tahun 2012 saya memutuskan keluar dari dunia kantor untuk mengerjakan trip organizer ini lebih serius.

Bagaimana respon peserta trip, khususnya yang mengikuti trip pertama kali saat itu?

Respons mereka yang mengikuti trip pertama kali saat itu sangat bagus. Bagi mereka kehadiran saya mempermudah rencana jalan-jalan mereka. Segala itinerary, akomodasi, transportasi dan segala hal lain yang diperlukan untuk perjalanan sudah saya handle sehingga mereka bisa lebih menikmati liburannya. Berbagai masukan juga saya terima dari mereka sehingga layanan yang diberikan bisa menjadi lebih baik.

Apa saja keunggulan trip yang ditawarkan?

Paket perjalanan di Indonesia dengan fokus pada pantai-pantai yang bisa untuk snorkeling atau diving. Berdasarkan destinasi, maka keunggulannya adalah jumlah peserta perjalanan yang terbatas (8-12 orang untuk satu grup). Ibu Penyu selalu berusaha untuk menggunakan jasa masyarakat lokal (penginapan, transportasi dan rumah makan), itinerary yang tidak terlalu padat sehingga peserta trip memiliki waktu untuk bersantai.

Siapa saja yang terlibat dalam tim?

Saat ini setiap open trip saya masih menanganinya sendiri sehingga suasana yang tercipta sangat personal dan seperti berjalan dengan teman sendiri. Konsep Ibu Penyu sendiri memang “teman berjalan & bermain”, sehingga tour leader yang ada selain berfungsi sebagai ‘pengatur waktu’ juga sebagai teman. Tidak jarang pertemuan paska trip sering terjadi berulang kali di setiap grup open-trip dan merencanakan perjalanan selanjutnya. Untuk private trip kami sangat fleksibel untuk mengikuti permintaan tamu sesuai dengan budget atau gaya berwisata mereka, namun kami tetap memberikan masukan untuk menjadikan wisata mereka menyenangkan.

Menurut Anda, bagaimana gambaran bisnis serupa di Indonesia? Apa peluangnya masih besar?

Peluangnya masih besar karena Indonesia sendiri wilayahnya juga luas sehingga banyak destinasi yang bisa digarap. Apalagi wisata di Indonesia sangat banyak ragamnya seperti diving, snorkeling, naik gunung, city tour dan tidak tertutup adanya jenis wisata lainnya yang akan dikembangkan para trip organizer ke depan. Kehadiran trip organizer juga diperlukan karena semakin hari banyak yang semakin kekurangan sehingga urusan wisata/senang-senang akan diserahkan kepada yang lebih berpengalaman.

Sejauh ini tujuan wisata apa yang paling menarik minat peserta trip Ibu Penyu? Dan berapa jumlah traveler saat itu yang ikut berapa?

Tahun 2015 ini banyak sekali permintaan perjalanan ke Kepulauan Komodo. Untuk open trip yang kami adakan full kuota (maksimal 12 orang), dan request untuk private trip tahun ini Ibu Penyu mendapatkan +/- 35 orang

doc. ibupenyu.com doc. ibupenyu.com

Bagaimana cara atau alasan untuk memilih tujuan trip? Berdasarkan pengalaman atau rekomendasi lain?

Destinasi yang dipilih tentu yang memiliki nilai plus dan masih bisa dikunjungi dengan durasi 4-5 hari perjalanan. Semua destinasi yang dijual dengan sistem open trip tentu berdasarkan pengalaman sendiri. Ibu Penyu pasti melakukan survey terlebih dahulu untuk kemudian dapat menyusun itinerary dan budget.

Strategi promosi apa yang sudah dilakukan dan itu terbukti berhasil menarik minat?

Kekuatan bercerita mengenai sebuah destinasi yang dilakukan, baik menggunakan social media ataupun newsletter yang dikirimkan kepada database setiap bulannya. Karena destinasi yang ditawarkan tidak terlalu umum maka para calon tukik (peserta trip) diberikan gambaran mengenai tempat tujuannya. Selain cerita juga sering sharing foto destinasi untuk promosi yang dilakukan sejauh ini adalah Word of Mouth (WOM).

Bagaimana strategi bersaing dengan kompetitor sejenis?

Setiap trip organizer memiliki pangsa pasar dan kekuatan masing-masing, meski memiliki destinasi tujuan yang sama sehingga sedikit sekali terjadi persaingan. Kami hanya selalu berusaha untuk memberikan servis terbaik bagi setiap tamunya.

Berapa omset saat ini?
Kurang lebih Rp 300-500 juta/tahun

Selain berwisata, apa ada aktivitas lain yang dilakukan oleh tukik (peserta trip) untuk daerah sekitar?

Sejauh ini kami baru menyumbang buku ke beberapa tempat wisata, baik yang dilakukan secara langsung oleh tukik ataupun dikumpulkan secara kolektif dan dikirimkan ke beberapa daerah. Semoga tahun depan bisa melakukan lebih banyak lagi aktivitas sosial.

Berapa rata-rata biaya perjalanan yang harus dikeluarkan oleh tukik untuk ikut trip ini?

Biaya yang dibutuhkan dibagi menjadi dua, yaitu biaya perjalanan dan biaya tiket pesawat. Untuk tiket pesawat harganya tergantung dengan maskapai, tapi rata-rata biaya pulang-pergi berkisar Rp 1,8 juta-Rp 4 juta dari Jakarta. Untuk biaya perjalanan mulai dari Rp 2,6 juta untuk 4 hari 3 malam.

Bagaimana perkembangan bisnis Ibu Penyu sejauh ini baik dalam hal pelayanan, jumlah daerah tujuan, jumlah yang ikut, dll?

Perkembangannya sangat baik dilihat dari jumlah daerah tujuan yang selalu bertambah setiap tahunnya. Untuk jumlah peserta saat open-trip memang sangat dibatasi yaitu 8-12 orang/trip. Frekuensi open trip juga bertambah dari tahun ke tahun. Semakin banyak orang Indonesia yang sudah mau meluangkan waktu dan budgetnya untuk berwisata di negeri sendiri.

Apa kendala menjalankan bisnis dan apa solusi yang dilakukan?

Kendala yang terjadi adalah sedikit sulit mengenalkan destinasi wisata baru, meski selalu ada yang berminat tapi jumlahnya tidak sebanyak destinasi yang sudah mulai umum. Sehingga kami lebih sering mempromosikan destinasi baru tersebut. Selain itu ialah waktu cuti kantor yang dimiliki setiap orang sangat minim (ditambah potongan cuti bersama) dan juga masih banyak kantor yang sedikit sulit memberikan izin kepada pegawainya.

Karena destinasi yang kami tuju cukup jauh jaraknya dari Jakarta ditambah dengan biaya yang tidak sedikit, tentu tidak mungkin kami mengajak mereka ‘bermain’ hanya sebentar. Kami harus pintar mengatur jadwal perjalanan yang mungkin digabungkan dengan tanggal merah atau jika bisa berharap pemerintah menambah jumlah cuti sehingga negara ini bisa dijelajahi oleh warga negaranya.

Apa rencana di tahun 2016?

Daerah tujuan di 2016, yaitu Flores (LOB Komodo, Overland), Sumatra (Weh, Mentawai, Overland Sumatera Utara), Kalimantan (Derawan, Tanjung Puting), Sulawesi (Wakatobi, Overland Sulawesi Selatan & Takabonerate, Togean, Sangihe), Maluku (Banda Neira, Kei). Kami juga berencana menambah tour leader dan memperbaiki website. Selain itu ada beberapa program diskon baik untuk para tukik atau calon tukik. Merchandise juga sedang kami persiapkan untuk para peserta perjalanan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)