Wedangan Modern Khas Andang Apri Hardanto

Jalan-jalan ke Solo rasanya kurang lengkap kalau tidak mencoba sesuatu yang menjadi bagian dari masyarakat Solo. Kota Solo sangat identik dengan wedangan –  warung makan sederhana pinggir jalan yang menjual beraneka ragam makanan mulai dari nasi kucing (nasi bungkus), aneka gorengan, jadah bakar, sate telur puyuh, sate usus, sate kerang, dan sebagainya. Kalau di Yogyakarta, wedangan lebih dikenal dengan nama angkringan.

Seiring perkembangan zaman, wedangan ataupun angkringan, kini tidak cuma tersedia di pinggiran jalan. Saat ini di Solo semakin banyak tempat nongkrong sejenis kafe yang mengusung konsep wedangan. Pelaku bisnis kuliner di kota ini, nampaknya tahu betul cara memamfaatkan identitas kultur menjadi hal yang dapat memberikan nilai tambah. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo mencatat bahwa kenaikan jumlah restoran ataupun rumah makan sebesar 250% menjadi 856 rumah makan di tahun 2015. Kebanyakan rumah makan baru itu didominasi oleh bisnis wedangan.

Andang Apri Hardanto, bisa dikatakan jadi salah satu contoh pebisnis kuliner yang sukses melejitkan wedangan modern bernama Kafe Tiga Tjeret, di Jl. Ronggowarsito 97, Ngarsopuro, Solo. Ia dan 14 rekan alumni SMA Santo Yosef Surakarta, mampu membuat kafe yang berdiri sejak tahun 2012 itu, balik modal dalam hitungan hanya 10 bulan sejak didirikan tahun 2012. “Modal awalnya Rp 500 juta ketika itu,” ujar Andang.

Banyak hal ia pertaruhkan ketika memulai bisnis wedangan tersebut. Ia mengaku sempat menjual mobil pribadinya guna merealisasikan idenya itu. “Banyak yang bilang kalau saya gila, mempertaruhkan uang segitu hanya buat wedangan. Tapi saya jalan saja terus, karena bagi saya memang prospektif ke depan,” kata  pria yang sehari-hari bekerja berprofesi sebagai art director itu.

Setiap hari, ia mengatakan, bangunan dua lantai itu selalu ramai dikunjungi masyarakat. Setidaknya sebanyak 500 orang datang ke kafe yang mengusung konsep urban semioutdoor  itu setiap harinya. “Kalau weekend bisa seribu sampai 2 ribu orang datang berkunjung,” kata Andang.

Dari segi pemasaran, sebenarnya tak terlalu banyak yang dilakukan Tiga Tjeret. Kafe ini, layaknya  kafe-kafe lain, banyak menggunakan media sosial sebagai ajang promosi dan mengenalkan diri. Namun, yang membuat Tiga Tjeret unik, ialah konsepnya yang memadukan unsur mewah dengan tidak mengesampingkan roh wedangan yang punya unsur merakyat.

Andang Apri Hardanto, Pemilik Kafe Tiga Tjeret Andang Apri Hardanto, Pemilik Kafe Tiga Tjeret

Maka, dari segi pricing, Andang  mengatur agar Tiga Tjeret cocok untuk semua kalangan, baik kalangan atas maupun bawah. Harga yang ditawarkan untuk menunya, sangat terjangkau atau hanya di kisaran Rp 2.500-10.000 per item. “Saya ingin menjadikan semua kalangan sebagai pelanggan di sini. Kalangan atas tidak malu datang  ke sini, karena bersih dan nyaman, serta anak buahnya kalau diajak ke sini juga kuat untuk membayar,” lulusan Desain Interior dari Fakultas Seni Rupa Universitas Negeri Sebelas Maret Solo ini menambahkan.

Ia pun tidak main-main jika terkait dengan persoalan citarasa dan kehigienisan menu yang ditawarkan. Tiga Tjeret, ia ceritakan, sampai harus mengajak seorang chef kenamaan, bernama Haryo Pramoe untuk menjalankan fungsi quality control.  Maklum, saat ini kafenya masih banyak mengandalkan pemasok untuk memasok makanannya dalam bentuk kerja sama konsinyasi untuk menu seperti sate telur puyuh, sate kikil, sate usus, goreng-gorengan, dll.

Kehadiran Chef Haryo, yang juga terkenal lewat acara televisi dan merupakan cucu Menteri Perekonomian era Soekarno, Sumanang (almarhum) itu sangat diperlukan untuk menstandardisasi citarasa menu. “Memang agak tidak nyambung, bagaimana bisa Chef Haryo tahu rasanya wedangan, mungkin makan saja tidak pernah. Tapi, ia kan bisa mem-breakdown bahan apa saja yang ada dalam makanan itu sehingga standarnya tetap terjaga,” tuturnya.

Di sisi lain, Tiga Tjeret juga menyediakan ruang kreatif bagi komunitas yang ingin melaksanakan kegiatan di kafe itu. Pendekatan komunitas ini,  ia mengklaim, merupakan bagian dari strategi lebih menjangkau banyak pelanggan ke depan. Ia tidak mempermasalahkan jumlah transaksi dari kegiatan komunitas itu. Paling penting, menurut dia, mencipatakan pergerakan dan keramaian. “Jika hal tersebut sudah terwujud transaksi akan ada dengan sendirinya,” ujar Andang lagi.

Beberapa komunitas, ia ceritakan, sempat mengadakan acara di kafenya. Salah satunya komunitas difabel yang menjajakan barang hasil buatannya, dan beberapa komunitas lain yang melakukan pameran karya seni, pemutaran film, diskusi, dll. “Selain itu, memang kami menyediakan beberapa spot yang nyaman untuk dipakai berfoto atau selfie. Orang kan senang foto dan share. Ini juga sebagai media promosi kami.”

Ia belum berencana melebarkan sayap Tiga Tjeret lebih jauh ke kota lain. Andang percaya, secara historis konsep Tiga Tjeret hanya akan cocok diterapkan di kota seperti Solo dan Klaten. Musababnya, wedangan sendiri merupakan ikon di kota-kota tersebut. Nama Tiga Tjeret sendiri ia ambil dari kebiasaan warung wedangan tradisional yang memiliki tiga ceret dalam operasionalnya, dua untuk memasak air panas, dan satunya lagi untuk memasak jahe.  “Seperti yang saya katakan, Tiga Tjeret karena konsepnya memang wedangan, mereknya juga identik dengan wedangan, maka saya akan buat ini di Solo dan Klaten saja,” ucapnya.

Adapun untuk pengembangan bisnis, ia mengungkapkan, telah memiliki merek kuliner lain semisal Playground, T Coffe, Mie Pedes, dan Ice Grim.  Saat ini ia punya misi membawa Playground bisa eksis di lingkup nasional layaknya Es Teler 77. “Tapi, karena menu kami banyak dan masih melalui pemasok, ini masih kami pelajari dulu bagaimana caranya agar kami bisa ekspansi dalam skala nasional. Apakah nanti melalui logistik atau bagaimana. Rencananya ke depan, kami memang akan terus ekspansi,” ia menegaskan.

Diwawancara terpisah, salah satu konsumen Tiga Tjeret, Erna Indri Hapsari, mengacungi jempol konsep dekorasi unik yang diusung Tiga Tjeret, seperti penggunaan meja dari tempat botol dan mesin jahit, serta kursi yang berasal dari wadah botol dan potongan kayu. Dari sisi tampilan, kafe ini, menurutnya, bisa dibilang modern tanpa meninggalkan sisi etniknya. “Tempatnya bersih, rapi dan ada musiknya. Minuman dan makanannya rasanya juga enak. Kalau buat nongkrong dan kumpul enaklah pokoknya,” Erna mengungkapkan.

Rizky C. Septiana & Ananda Putri/Riset: Sarah Ratna

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)