Willy Saelan Ciptakan Sistem Kerja Tanpa Batas

Bagi Acting Human Resources Director Unilever for Australia and New Zealand (ANZ), Willy Saelan, mengelola sumber daya manusia (SDM) di Australia jauh lebih menantang ketimbang di Inggris dan Singapura. Ia langsung menerima kesempatan yang diberikan VP Human Resources (HR) Unilever Asia Tenggara. Tantangan terbesar yang dihadapi tim asuhannya adalah bagaimana menciptakan organisasi yang lebih fleksibel, lincah, dan lebih produktif, membuat rencana pengembangan talenta dan suksesi kepemimpinan, memastikan fokus pengembangan keahlian yang tepat dan relevan, serta memastikan terciptanya budaya perusahaan yang positif. “Tidak ada waktu yang lebih seru kecuali saat mulai bekerja di kantor Unilever ANZ di Sydney akhir 2014,” kata dia.

Willy Saelan (kiri) Willy Saelan (kiri) (Foto: IST)

Willy dan tim berhasil menaklukan tantangan tersebut. Dalam praktik pengelolaan SDM di Unilever for Australia dan New Zealand, kini tercipta sistem bekerja tanpa batas geografi dan waktu (agile working), yakni suatu kondisi yang mendorong karyawan untuk dapat bekerja di mana saja dan kapan saja. Situasi ini tercapai karena perusahaan memberikan keleluasaan kepada satu tim untuk mengatur pola kerja yang unik yang disetujui bersama melalui kesepakatan anggota tim yang biasanya ditulis dalam manifesto tim. Misalnya, setiap anggota tim berkomitmen untuk bekerja satu atau dua hari di luar kantor dalam satu minggu sambil tetap memastikan bahwa karyawan akan tetap dapat dihubungi melalui telepon atau fasilitas chatting internal perusahaan (Microsoft Lync).

“Dengan keleluasaan ini, karyawan dapat menyesuaikan pola kerja sesuai dengan kebutuhan pribadi tanpa harus mengorbankan kerja sama tim. Apalagi, perusahaan tersebut kini didukung penyimpanan data berbasis cloud,” ujarnya.

Selain itu, praktik pengelolaan SDM di perusahaannya kini mengarahkan adanya pemimpin yang inklusif. Di Unilever Australia dan New Zealand, terminologi pemimpin inklusif benar-benar diterapkan dalam keseharian seorang pemimpin dalam memimpin timnya. Untuk menjadi pemimpin yang inklusif, hal yang harus dilakukan pemimpin di lingkungan Unilever adalah mendorong dan menghargai perbedaan, menerapkan target keseimbangan antara karyawan laki-laki dan perempuan dan memperkuat suplai talenta yang beragam. Praktik pengelolaan SDM juga diarahkan pada penciptaan pemimpin yang mampu memberi energi baru untuk anggota timnya, bukan pemimpin yang menyedot habis energi anak buahnya.

Praktik pengelolaan SDM lainnya adalah manajemen daya kerja. Prinsipnya, satu pekerjaan yang dilakukan oleh satu orang secara penuh waktu dihitung sebagai 100% FTE (full time equivalent). Banyak karyawan (terutama karyawan wanita) yang hanya mau bekerja paruh waktu. Misalnya, bekerja tiga hari dalam satu minggu, maka headcount yang bersangkutan akan dihitung dan dibayar berdasarkan hitungan 60% FTE (3/5). Bila dibutuhkan, atasan karyawan itu dapat mempekerjakan karyawan lain yang akan bekerja dua hari seminggu dengan hitungan 40% FTE. “Satu pekerjaan dikerjakan dua orang. Pengaturan ini memberikan fleksibilitas kepada karyawan untuk mengatur komitmen waktu. Bila dua orang pekerja paruh waktu itu bisa bekerja harmonis, perusahaan sebetulnya memiliki kekuatan mental lebih dari satu orang,” ujar dia. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)