Yasa Singgih, Mulai Berbisnis di Usia 15 Tahun

IMG_3236Keadaan kepepet seringkali membuat ide-ide bisnis bermunculan. Itulah yang dirasakan Yasa Singgih, pemuda berusia 20 tahun ini memulai bisnisnya ketika ayahnya jatuh sakit di usianya yang ke-15 tahun. “Ketika saya SMP, papa saya terkena penyempitan pembuluh darah dan harus operasi untuk pasang ring. Ayah menolak dioperasi. Sebenarnya dananya ada, tapi dananya untuk kakak saya masuk kuliah dan saya masuk SMA. Lalu saya memutuskan untuk tidak meminta uang jajan lagi.," dia mengenang.

Awalnya Yasa kerja serabutan. Jadi MC segala macam. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk berbisnis ketika mengenal Tanah Abang. Pertama kali dia ke sana bingung sekali. Tokonya sangat banyak, sehingga dia tidak tahu harus beli di toko yang mana.

Dengan modal Rp 700 ribu dari hasil tabungannya, Yasa membuat 48 baju bergambar Presiden Soekarno di tempat konveksi milik temannya. Desainnya dibuat sendiri bukan dengan Photoshop, melainkan dengan Microsoft Word. “Yang beli cuma 2 orang. Satu dibeli Mama karena  kasihan sama saya,” kenangnya.

Yasa kemudian memutuskan untuk ke Pasar Tanah Abang untuk meminjam barang dari pedagang-pedagang di sana. Prosesnya tidak mudah, beruntung ada beberapa pedagang yang meminjamkan barang. Ia lalu mulai memasarkan kaos-kauo ke teman sekelasnya dan melalui group BlackBerry Messenger. Mulai dari situ, ia ketagihan berbisnis. Dari satu bulan sekali ke Tanah Abang, menjadi seminggu sekali. Omset yang dia dapat di usianya ke 17 tahun mencapai Rp 40 juta.

Akhirnya ia memikirkan untuk memulai bisnis baru. Bisnis baru ini diakui Yasa sebagai kesalahan terbesarnya. “Bisnis baju masih saya kerjakan semuanya sendiri saya udah mau buka usaha baru. Seperti usaha sebelumnya, usaha baru ini hanya modal nekat saja” jelasnya. Ia membuka sebuah kedai diberi nama “Kedai Ini Teh Kopi” di bilangan Kebon Jeruk. Kedai ini menjual beraneka makanan kecil, kopi, dan teh. Perjalanan kedainya tidak berjalan mulus. Di hari pertama pembukaan kedai, kedainya terkena banjir. Di minggu berikutnya, kedainya kemalingan. Berikutnya, kedainya sepi karena ada penutupan jalan. Melihat kedai pertamanya hampir bangkrut, Yasa memutuskan untuk membuka cabang baru di Mal Ambasador. Namun, cabang barunya ini hanya bertahan 20 hari saja. Kedai barunya ini membuatnya rugi Rp 120 juta.

Yasa berusaha bangkit dari kerugiannya dengan kembali menjual baju. Dari hasil keuntungan baju, ia membuat brandnya sendiri yang diberi nama Men’s Republic yang menyasar pria 17-35 tahun di kelas menengah dan menengah bawah. Di tahun 2014 silam, Men’s Republic mulai berkembang. Produk-produk yang ditawarkan mulai dari baju, sepatu, jaket, kaus. Karena menyasar kelas menengah, harga sepatu yang paling mahal hanya sekitar Rp 400 – 500 ribu.

Saat ini, ada 120 reseller Men’s Republic di seluruh Indonesia. Perputaran uangnya mencapai Rp 200-300 juta per bulann. Yasa menjual mereknya ini secara online dan di bazzar-bazzar. Seringkali ia dapat masuk ke bazzar secara gratis karena brandnya dianggap sebagai penarik anak-anak muda untuk datang ke bazar. Promosi yang dilakukannya di Instagram terbilang unik. Ia menyelingi photo-photo produk dengan photo kata-kata bijak. Hal ini dianggapnya dapat menarik perhatian konsumen dan konsumen bisa saling berhubungan dengan brandnya. Ketika ingin memulai bisnis, Yasa menyarankan agar mengetahui siapa target marketnya. “ Dengan mengetahui target market, dengan mudah kita bisa memasukkan produk yang sesuai dengan target market kita,” jelas Yasa.(EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)