Agar Tak Menyesal Melulu

Judul :Decisive, How to Make Better Choices in Life and Work
Penulis : Chip Dan Heath
Penerbit : Random House Books, 2013
Tebal : 299 halaman

Akankah Anda mengambil kuliah S-2 sambil bekerja? Bagaimana dengan karyawan yang tidak disiplin tetapi sangat mampu berjualan itu, dibiarkan atau dikeluarkan? Pacar tidak disetujui orang tua, tetapi Anda merasa cocok, terus atau putus? Akankah Anda pindah kerja akhir tahun ini, mau pindah ke perusahaan mana? Buka toko jualan jilbab, akan lakukah? Ditawari teman ikut join bikin hotel kecil, ikut atau tidak ya?
Keputusan yang kita ambil akan memengaruhi hidup kita di masa depan, sudahkah kita memilih dengan cara yang baik? Tentu pilihan seperti mau es krim rasa apa, mau makan siang di mana, pesta nanti pakai baju apa, tidak butuh proses yang besar. Secara intuisi sederhana, oke. Namun, segala keputusan yang membutuhkan lebih dari 10 menit untuk memutuskannya, perlu sebuah proses yang kuat, untuk menjamin hasil keputusan yang terbaik dari pilihan yang ada.

Ada empat problem dalam pengambilan keputusan. Pertama, pilihan sedikit atau hanya satu. Misalkan, saya sebaiknya mengambil kuliah S-2 atau tidak? Kedua, bias konfirmasi atau kecenderungan untuk memandang data yang menguatkan pilihan kita dan tidak bisa benar-benar objektif dalam mengamati data yang ada. Kalau mau buka bisnis hotel, Anda akan selalu melihat keramaian dan sisi positif dari hotel saja, tanpa mengindahkan risiko dan kemungkinan gagalnya. Ketiga, emosi sesaat. Emosi membuat kita memutuskan hal yang kemudian kita sesalkan. Ketika dirundung asmara, men-tatoo bahu kita dengan nama pacar, eh ternyata sebulan putus. Memperbaiki rumah sering membuat kita melebihi bujet karena emosi sesaat ketika memilih barang. Keempat, terlalu percaya diri. Kita terlalu percaya diri sehingga sepertinya pilihan kita pasti benar. Percaya diri yang berlebihan membuat kita yakin tidak akan lupa login dan password kita saat membuat akun di Facebook, eh, ternyata seminggu kemudian lupa sama sekali. Dalam mengambil keputusan besar pun kita sering terlalu yakin diri.

Lalu, apa yang harus kita lakukan agar lebih jernih mengambil keputusan? Buku ini membahas empat fase besar yang perlu diperhatikan, dilengkapi dengan berbagai metode untuk mempraktikkan dan menjabarkannya. Empat fase ini merupakan proses yang sangat jelas dan harus kita yakini proses ini akan menjadikan kita pengambil keputusan yang lebih baik.

Pertama: Perbanyak pilihan Anda. Jangan terlalu fokus pada satu pilihan saja. Pilihlah beberapa jalur untuk mencapai satu keputusan, bandingkan satu solusi dengan solusi lainnya. Hal ini akan membuat kita lebih terbuka. Mengambil S-2 atau tidak, bisa kita ganti dengan mengambil keterampilan khusus tanpa perlu ijazah hidup di luar negeri selama dua tahun sambil bekerja bekerja di institusi pendidikan supaya bisa belajar tanpa harus bayar, dan seterusnya.

Bila pilihan Anda untuk mengambil S-2 dianggap tidak ada maka apa pilihan Anda yang lain. Dengan menganggap tidak boleh memilih pilihan utama kita, kita mulai melihat pilihan dan kemungkinan lain. Ini membuat kita lebih mau berpikir di luar kotak kebiasaan kita. Carilah orang yang pernah mengambil keputusan atau menyelesaikan persoalan yang sama dengan yang Anda hadapi sekarang. Hal ini akan memaksa kita melihat persoalan dari luar dan dari dalam secara lebih objektif. Kemungkinan besar masalah Anda sudah pernah diselesaikan orang lain apa yang pernah mereka lakukan dan bagaimana sebaiknya buat kita?

Kedua: Periksa kebenaran semua asumsi Anda. Kita mengambil keputusan dengan asumsi kita. Sudahkah asumsi itu kita cek kebenarannya? Apa yang harus benar supaya pilihan kita menjadi baik? Sudahkah Anda cek kemungkinan seandainya kita total salah dengan asumsi kita? Ketika Anda superyakin warung Anda akan laris, sudahkah Anda coba memasak untuk klien, cek apakah mereka suka, dan bersedia beli nantinya? Apakah Anda tahu berapa persen kemungkinan warung ini gagal? Detail bisnis baru Anda, sudahkah Anda pelajari dari bisnis lain sejenis yang Anda kenal?

Kalau kita mau tur ke Vietnam, kita riset benar di Internat, hotel, tempat wisata, cuaca, biaya, dan seterusnya. Namun, ketika Anda mau kerja di satu perusahaan, sudahkah Anda cek benar, apakah orang-orang betah bekerja di sana? Apa yang membuat orang keluar dari pekerjaan itu? Atau, ketika kita mau buka bisnis baru, sudahkah Anda survei dan wawancara pebisnis sejenis yang ada, apakah penyebab kemungkinan gagal terbesarnya?

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)