Bagaimana Angka dan Narasi Memengaruhi Valuasi Perusahaan

Judul : Narrative and Numbers, The Value of Stories in Business

Penulis : Aswath Damodaran

Penerbit : Columbia University Press, 2017

Tebal : 288 halaman

Oleh: Margaret Stevany, The Lisbon MBA in collaboration with MIT Boston

Numbers are nothing without a story, and a story needs numbers to back it up. Itulah intisari dari filosofi buku yang ditulis oleh Aswath Damodaran, profesor di bidang keuangan dari New York University.

Teori tentang dua suku (“Two Tribes”) meyakini bahwa sejak usia muda, manusia terbagi dalam dua kelompok yang berbeda: satu suku fokus pada angka (numbers), yang lain pada narasi (storytelling). Kelompok pertama yang mahir dengan angka cenderung menekuni bidang teknik, matematika, atau akuntasi. Beberapa yang mengalami kesulitan dengan matematika tetapi menguasai kata-kata masuk ke golongan kedua (storytelling); kelompok ini mempelajari sejarah, sastra, atau filsafat. Pada saat kedua kelompok ini memasuki dunia pekerjaan, mereka masuk ke dalam dua kelompok terpisah yang hampir tidak dapat berkomunikasi satu sama lain.

Bayangkan saja bagaimana anggota kedua suku itu menceritakan kisah Ferrari, pembuat mobil sport terkenal. Orang yang berorientasi pada angka akan memusatkan perhatiannya pada statistik yang mengacu pada pertumbuhan pendapatan tahunan Ferrari (sales growth) 4% dan margin operasi pretax (operating margin) sebesar 18,2%.

Sebaliknya, kelompok kedua menggambarkan sejarah Ferrari sebagai jago membuat kendaraan yang unik, bergengsi, dan mahal. Versi ini akan lebih mudah diingat dibandingkan angka statistik yang menjadi fokus kelompok pertama. Namun, versi ini tidak memberi tahu investor berapa yang harus mereka bayar untuk selembar saham Ferrari.

Karena alasan inilah, perlu jalur ketiga yang merupakan kombinasi antara angka dan narasi. Jalur ini menggunakan angka untuk menggambarkan dan memberikan kredibilitas sebuah narasi. Versi ini memberikan perspektif baru yang mengabungkan angka dan narasi: pertumbuhan pendapatan perusahaan Ferrari yang biasa saja (modest revenue growth) mencerminkan keinginannya untuk mempertahankan kelangkaan produknya. Dari contoh ini, investor dan manajer diharapkan dapat berperan sebagai jembatan untuk menghadapi perbedaan antara dua kelompok tersebut, yakni kelompok angka dan kelompok narasi.

Valuasi bisnis yang tidak memiliki dukungan cerita yang mendasarinya pada dasarnya “tanpa jiwa dan tidak dapat dipercaya.” Sebaliknya, sebuah cerita yang tidak memiliki dukungan numerik dapat saja merupakan penipuan. Perbedaan yang sangat besar dari dua kelompok tersebut dapat dihindari ketika diskusi menggabungkan kedua faktor kuantitatif dan kualitatif.

Cerita bermain pada emosi orang yang mendengarnya. Itulah mengapa scammers (seseorang yang melakukan tindakan penipuan) mengandalkan cerita mereka yang unik dan mengharukan untuk mengambil uang korban mereka. Di sisi lain, ada perusahaan yang menceritakan kisah berdirinya perusahaan mereka untuk menarik emosi pelanggan. Narasi yang menarik sangat diperlukan, terutama untuk diceritakan kepada investor, pelanggan, juga karyawannya.

Di dunia bisbol dan olah raga lainnya, storytelling telah lama mendominasi praktik memilih pemain. Cerita terfokus pada prospek menjanjikan yang ditunjukkan bakat pemain untuk sukses di tingkat tertinggi. Namun, dijelaskan Michael Lewis dalam buku Moneyball, pelatih Oakland Athletics menilai pemain bukan melalui penilaian pencari bakat melainkan data statistik pemain di lapangan. Pendekatan Sabermetrics ini mempertajam peran statistik di pasar keuangan, terutama membantu investor memprediksi performa perusahaan di masa mendatang. Seiring dengan perkembangan zaman, ketersediaan informasi kian melimpah di dunia maya. Ini menyebabkan kian terbatasnya tingkat kepercayaan orang terhadap informasi dan kecenderungan untuk merespons informasi yang berlimpah itu dengan tindakan emosional dan tidak masuk akal.

Theranos adalah contoh kasus betapa bahayanya memercayai narasi semata tanpa mengalibrasi angka. Perusahaan teknologi kesehatan tersebut didirikan oleh anak muda berusia 19 tahun di Stanford yang mencoba melakukan tes darah dengan harga yang terjangkau dan relatif mudah. Di titik puncaknya, Theranos mencapai valuasi senilai US$ 9 miliar. Kisah sebenarnya terbuka pada 2015 ketika The Wall Street Journal melaporkan bahwa tes darahnya terbukti tidak revolusioner dan tidak akurat. Akhirnya, Theranos jatuh walaupun memiliki narasi yang sangat menginspirasi tentang CEO wanita yang sangat muda, teknologi disruptif, dan perusahaan yang berkembang pesat.

Kita dapat mengombinasikan narasi dan angka melalui lima langkah. Pertama, kembangkan cerita tentang perusahaan (bagaimana prospek pertumbuhan perusahaan, bagaimana lanskap kompetisi mutakhir, di mana posisi siklus hidup perusahaan). Kedua, tanyakan “3P” – apakah cerita itu mungkin (possible), masuk akal (plausible), dan masih memungkinan (probable). Ketiga, hubungkan cerita itu dengan figur statistik yang relevan (misalnya, arus kas dan angka pertumbuhan penjualan) yang dapat mendukung narasi. Keempat, masukkan angka tersebut di spreadsheet. Kelima, uji cerita Anda secara berkala – alur cerita harus berubah saat fakta berubah.

Buku ini kemudian memaparkan bagaimana mengaplikasikan teori di atas ke studi kasus Amazon. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Amazon mengejar pertumbuhan top-line dengan mengorbankan profitabilitas. Mereka berharap mencapai pangsa pasar yang diinginkan, menaikkan harga, dan mengubah diri mereka menjadi perusahaan yang sangat menguntungkan. Dalam skenario yang lebih optimistis, ekspansi Amazon ke cloud computing dan entertainment dapat menyebabkan margin keuntungan yang lumayan.

Cerita ini kemudian dikonversikan menjadi angka untuk menentukan berapa banyak yang harus Anda bayar untuk saham Amazon. Skenario pertama adalah pertumbuhan pendapatan sebesar 15% per tahun selama lima tahun dan kemudian melambat. Amazon terus menurunkan harga, dan margin operasinya meningkat menjadi 7,38% pada tahun ke-10, yang merupakan median untuk perusahaan ritel dan media. Skenario optimistis berasumsi pertumbuhan pendapatan 20% per tahun selama lima tahun sebelum menurun, dan margin operasi Amazon melonjak menjadi 12,84%. Dalam skenario pesimistis, pertumbuhan tetap sebesar 15% selama lima tahun dan kemudian melambat dengan margin hanya 2,85%.

Valuasi skenario pertama akan memberikan nilai saham Amazon sebesar US$ 175,25 (saham

Amazon diperdagangkan US$ 287,06 saat itu). Di bawah skenario pesimistis, pangsa Amazon akan bernilai hanya US$ 32,72. Dalam skenario optimistis, sahamnya akan bernilai US$ 450,34.

Nilai ayunan yang lebar itu tergantung pada narasi yang menekankan bahwa ketidakpastian adalah bagian dari proses. Anda bisa menggunakan pemodelan valuasi untuk memperkirakan nilai persentase sampai dengan sen, tetapi itu tidak berarti cerita atau perkiraan yang dipakai adalah kebenaran yang tidak dapat salah. Penilaian nilai Anda hanyalah versi realitas yang mungkin. Angka bisa saja memberi kepastian, tetapi bisa juga menyebabkan kepercayaan diri palsu.

Singkat kata, narasi penilaian yang baik menggabungkan emosi dan logika. Selalu ingat empat aturan ini. Pertama, kenali cerita Anda –cerita yang kohesif memberikan gambaran yang jelas tentang visi dan alasan mengapa perusahaan Anda akan berhasil. Kedua, hubungkan cerita Anda dengan calon audiens (karyawan, investor, dan pelanggan); cerita tersebut bisa berbeda sesuai audiensnya – karyawan ingin tahu bagaimana mereka akan berbagi kesuksesan, investor ingin keuntungan, sedangkan pelanggan peduli bagaimana produk Anda akan menguntungkan mereka. Ketiga, berikan rincian, yaitu tren besar yang Anda nikmati serta peluang menjanjikan yang menjadi bagian dari cerita Anda. Terakhir, “Buktikan, jangan hanya ceritakan”.

Sebuah buku yang sangat menarik dan menambah perspektif untuk memahami valuasi, terutama valuasi untuk perusahaan startup.(*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)