Banggalah pada Diri Sendiri

Judul : Self-Promotion for Introverts

Penulis : Nancy Ancowitz

Penerbit : The McGraw-Hill Companies, Inc. 2010

Tebal : xvii + 269 Halaman

I’ve seen you silent at meetings. I’ve seen you eating lunch alone. And I’ve even seen your louder, less talented colleagues promoted over you. Yet I know you have something to say. What stops you from saying what you want to say, especially when it’s about you? Perhaps you don’t want to brag or draw too much attention to yourself.”

Paragraf itu terdapat di halaman pertama buku Self-Promotion for Introverts. Kalau dicermati, ada beberapa poin yang menjelaskan karakter seorang introvert. Pendiam, penyendiri, bersuara keras, tidak suka (atau malu) menonjolkan diri. Akhirnya, kariernya kalah dibandingkan dengan rekan-rekannya yang punya karakter sebaliknya. “Itulah karakter orang introvert,” kata Nancy Ancowitz, penulisnya.

Ancowitz tampaknya tak mau dengan sengaja larut dalam penjelasan tentang gejala karakter introvert. Ancowitz menulis buku ini juga bukan untuk menunjukkan kelemahan karakter introvert. Dia ingin menunjukkan bahwa bila Anda memiliki karakter seperti itu, bukan berarti karier Anda kiamat. Tak ada yang lebih baik apakah introvert atau ekstrovert. Sebab, meski memiliki kelemahan, karakter ini juga memiliki kelebihan. Buktinya, tokoh-tokoh sukses seperti Bill Gates, Warren Buffett, Charles Schwab, Steven Spielberg dan CEO Sara Lee Corporation Brenda Barnes adalah orang-orang yang memiliki karakter introvert.

Menurut Ancowitz, orang penyendiri bukan karena tidak ingin bergaul atau tidak memiliki jiwa sosial. Dia lalu menunjukkan bukti. Dalam sebuah wawancara dengan Oprah Winfrey, komedian Jerry Seinfeld mengakui bahwa dia memiliki pribadi introvert. Namun, dia menambahkan hal penting tentang karakternya. ”Saya mencintai orang-orang, tetapi saya tidak bisa berbicara dengan mereka. Di atas panggung, baru saya bisa.”

Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh Ancowitz, mengapa Seinfeld bisa berbicara saat di atas panggung. Padahal, ”Introvert mendapatkan lebih banyak stimulasi mereka secara internal, sedangkan ekstrovert mencari sumber-sumber di luar,” kata Debra L. Johnson, Ph.D., seorang psikolog fisiologis dan peneliti utama di Universitas Iowa yang melakukan studi terhadap aktivitas otak berkaitan dengan kecenderungan introvert dan ekstrovert. Logikanya, karena ditonton banyak orang (faktor eksternal), Seinfeld jadi berani berbicara.

Namun, Ancowits memang bukan psikolog. Dia seorang pelatih komunikasi bisnis, khususnya dalam pengembangan karier dan keahlian dalam presentasi. Karena itu, ketika membahas karakter introvert, Ancowitz merujuk para pakar, terutama psikologi. Dalam hal perbedaan biologi, misalnya, seperi di paragraf sebelumnya, Ancowitz mengutip pendapat Johnson.

Menurut Johnson, introversi berkaitan dengan aktivitas di daerah otak yang bertanggung jawab untuk belajar, memori, perencanaan dan produksi bahasa. Sementara itu, ekstroversi berkaitan dengan pemrosesan sensorik. Ekstrovert mungkin didorong untuk mencari rangsangan sensorik dari orang atau situasi lain karena mereka tidak dapat menyediakan tingkat stimulasi internal secara optimal. Hipotesis ini mendukung gagasan bahwa introvert cenderung lebih berfokus pada internal dan ekstrovert cenderung lebih dikendalikan lingkungan eksternal.

Melalui buku ini, Ancowitz berbagi pengalaman dan membantu orang sebanyak mungkin -- terutama introvert -- untuk mempromosikan diri mereka lebih mendalam. Dalam menyusun buku ini, Ancowitz melakukan serangkaian wawancara dengan banyak orang ternama termasuk Cathie Black (Majalah Hearst), Warren Buffett, Bill Clinton (mantan

Presiden AS), guru pemasaran Seth Godin, Earvin “Magic” Johnson, Katharine Myers (Myers-Briggs Trust), Craig Newmark (pendiri Craigslist), Leonard Nimoy dan Chita Rivera. Dari serangkaian wawancara tersebut, Ancowitz bekesimpulan bahwa mereka berhasil karena keberanian mereka untuk tetap memiliki visibilitas yang tinggi. Melalui buku ini, Ancowitz berharap Anda bisa belajar tentang visibilitas dari kebijaksanaan kolektif mereka.

Jadi, apakah lebih baik menjadi introvert atau ekstrovert? “Keduanya memiliki kekuatan dan jebakan,” kata Daniel Jelatang, Ph. D. dalam artikel berjudul “The Science Behind Personality” yang dia tulis untuk The Independent, Inggris. “Scoring kepribadian tidak akan memberitahu Anda apa pun yang Anda tidak tahu. Ini didasarkan pada bagaimana Anda melihat diri sendiri, sehingga secara logis tidak bisa. Namun, hal itu dapat mengungkapkan kepada Anda bagaimana Anda dibandingkan dengan orang lain, dan (itu) juga dapat menekan Anda menjadi akumulasi kekayaan pengetahuan psikologis tentang kekuatan dan beban orang lain yang memiliki pengalaman serupa dengan Anda.” Teknik scoring inilah yang banyak ditampilkan Ancowitz dalam buku ini sehingga memudahkan pembaca mengevaluasi diri.

Mengenali kelebihan Anda, menurut Ancowitz, merupakan suatu usaha yang penting karena pada dasarnya tidak ada satu resep yang berhasil untuk satu orang dipastikan bisa dipakai untuk orang lain dengan hasil yang sama. Banyak faktor yang berpengaruh di dalamnya. Karena itu, orang yang berhasil memperoleh visibilitas -- dari Whoopi Goldberg hingga Donald Trump -- melakukannya dengan berbagai cara. Apa yang bekerja dengan baik bagi mereka tidak dapat bekerja untuk Anda, terutama jika Anda seorang introvert.

Sebagai orang yang introvert juga, melalui buku ini, Ancowitz mengajak para intovert lainnya untuk membangun skill yang dibutuhkan untuk meningkatkan visibilitas mereka. Tak ada penjelasan apa yang dimasud dengan visibility. Menurut Irving Rein, Philip Kotler, Michael Hamlin dan Martin Stoller dalam buku High Visibility (McGraw-Hill, 2006), visibility berarti membedakan seseorang dengan orang lainnya dan seperti apa visibility tersebut tergantung pada sektor, audiens potensial dan tujuan pribadi.

Visibilitas tinggi merupakan mekanisme yang menjelaskan bagaimana seseorang menciptakan dan mempertahankan dirinya menjadi dikenali publik. Dalam pasar yang semakin kompetitif, visibilitas merupakan faktor tunggal yang menjelaskan perbedaan antara seseorang yang memiliki kompetensi tertentu dan seseorang lainnya. Memahami bagaimana proses visibilitas menjadi tinggi juga dapat menjelaskan mengapa beberapa selebritas, misalnya, mendapat sorotan dan kemudian pudar seketika sementara yang lain muncul kembali dalam bentuk baru.

Melalui buku ini, Ancowitz hanya menuntun Anda menemukan jalan yang cocok untuk apa yang Anda miliki. Intinya, jika Anda memiliki sesuatu yang berbeda dari orang lain, Ancowitz merekomendasikan Anda untuk segera meningkatkan visibilitas Anda. Sebab, begitu Anda memiliki keunikan, mengapa Anda tidak mempromosikan diri Anda?

Ambil contoh Hillary Clinton. Anak perempuan dari keluarga kelas menengah dari Park Ridge, Illinois, ini berhasil menciptakan profile image yang bertentangan yang sempurna. Dia cerdas, penuh kasih, sosok ibu yang memahami, berarti, hingga politisi. Masalahnya, dalam proses tranformasinya itu, dia memiliki terlalu banyak Pygmalions -- seorang pemuda yang membenci perempuan.

Penasihatnya berusaha keras untuk melunakkan citranya sesuai dengan keinginan dari jajak pendapat terbaru. Karena itulah, diciptakan kegiatan untuk memperlunak citranya, yaitu kegiatan yang terkait dengan aktivitas sosial. Misalnya, pada suatu hari dia adalah First Lady yang memanggang kue di pagi hari, minum teh dengan Pramuka putri pada sore harinya, dan kemudian menghabiskan malam dengan Martha Stewart di acara Natal.

Sebaliknya, pada hari berikutnya dia menunjukkan kepiawaiannya dalam berbicara soal kekerasan rumah tangga, memberikan ceramah untuk wartawan seputar isu keadilan dalam liputan jurnalistik, dan memberi saran kepada Presiden tentang konflik Bosnia. Penampilannya, tidak seperti Eliza, juga berubah setiap hari sesuai dengan perannya, sebagai perias wajah, rambut dan pakaian untuk anak perempuannya, dan sebagainya.

Lalu bagaimana cara orang introvert meningkatkan visibilitas, Ancowitz memberi tip:

- Seimbangkan waktu yang Anda habiskan untuk melakukan sesuatu dengan waktu yang Anda gunakan untuk berpikir atau berbicara tentang apa yang Anda lakukan.

- Kumpulkan semua yang Anda lakukan dengan baik dengan menulis prestasi Anda, termasuk file ucapan selamat melalui surat elektronik (surel), testimonial, dan evaluasi kinerja cemerlang yang Anda terima.

- Berlatihlah untuk mengartikulasikan prestasi Anda, dan sampaikan hal itu kepada rekan senior, mentor, atau pelatih yang Anda percayai untuk mendapatkan umpan balik.

- Dapatkan agenda rapat untuk membangun platform bagi ide Anda.

- Setelah rapat, tindaklanjuti dengan menulis surel untuk mengonfirmasi poin-poin yang Anda sampaikan dalam rapat.

- Tetap berkomunikasi dengan rekan kerja, manajer, dan klien sepanjang karier Anda. Biarkan mereka tahu kedatangan dan kepergian Anda.

- Jika Anda adalah seorang introvert yang suka bergaul, berbicaralah pada pertemuan, konferensi, dan acara sosial lainnya untuk meningkatkan kredibilitas dan visibilitas Anda.

Bagi introvert, mencapai visibilitas merupakan tantangan terbesar. Kaum introvert sering

membenamkan diri ke dalam tugas-tugasnya, terperosok ke kedalaman dunianya, dan lalai untuk muncul guna mendapatkan semangat untuk menemukan dunia baru. Apa yang perlu dilakukan si introvert? Legenda Broadway Chita Rivera menawarkan nasihat untuk Anda: “Jadilah orang yang bangga pada diri sendiri.”

*) Peresensi adalah Redaktur Eksekutif Majalah Mix-Marcom dan Dosen STIKOM-LSPR Jakarta.

Leave a Reply

1 thought on “Banggalah pada Diri Sendiri”

imaginations and show aprofit
by Oscar Panjaitan, 09 Dec 2010, 20:03

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)