Bekraf dan BPS Luncurkan Buku Statistik Ekonomi Kreatif

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Pusat Statistik (BPS) meluncurkan serangkaian Buku Statistik Ekonomi Kreatif.

Penerbitan buku ini dilakukan untuk kedua kali. Tujuannya untuk memberikan fakta dan data akurat sebagai basis pengambilan keputusan, kebijakan serta evaluasi perkembangan ekonomi kreatif (Ekraf).

“Buku ini juga bisa dimanfaatkan oleh pelaku ekraf maupun masyarakat luas agar bisa melihat potensi ekraf di Indonesia sehingga bisa memperoleh perspektif baru yang dapat menunjang perkembangan usahanya ke depan,” ujar Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif saat peluncuran buku di Jakarta (27/2/2018).

Ia juga menjelaskan, pernerbitan buku tersebut merupakan salah satu program Bekraf sehingga upaya kinerja ekraf bisa terukur, khususnya dari pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB), besaran ekspor, dan penyerapan tenaga kerja. Pendapatan ekraf di tahun 2016 sebesar Rp 922,59 triliun atau naik menjadi 7,44% terhadap total PDB nasional. Menurutnya, secara ekspor di subsektor fesyen, kriya dan kuliner telah mendominasi pasar ekspor produk kreatif Indonesia.

Kepala Badan Pusat Statistik, Kecuk Suharyanto, berharap dengana adanya buku ini bisa mendorong kebijakan-kebijakan ekraf yang lebih strategis dan tepat sasaran. Pasalnya pertumbuhan ekraf di Indonesia cukup menjanjikan bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan Rusia dan Singapura. “Dengan tingkat pertumbuhan yang dicapai, maka ekraf berpontensi menjadikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik,” ujarnya.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan, terdapat 8,2 juta usaha ekraf yang tersebar di seluruh Indonesia, namun sebagian besar masih di area Pulau Jawa. Dari total usaha tersebut, jumlah tenaga kerja yang terserap meningkat dari 15,96 juta tahun 2015 menjadi 16,9 juta di tahun 2016 dengan rata-rata pertumbuhan 4,69%.

“Sebagai model ekonomi baru, pertumbuhan ekraf cukup menjanjikan, seperti terlihat dari pertumbuhan eskpor produk ekraf yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor keseluruhan sektor non-migas dengan negara ekspor tertinggi Amerika Serikat, Swiss dan Jepang,” jelasnya.

Untuk diketahui, dari 16 subsektor ekraf, ada subsektor yang memiliki kontribusi nilai tambah terbesar yakni kuliner, fesyen dan kriya. Untuk sektor kuliner ini memiliki pendapatan terbesar, selain itu juga memiliki multiplier effect terbesar dibanding subsektor lainnya. Sementara 5 subsektor lain yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan yaitu televisi, radio, film animasi, video, seni pertunjukan, desain komunikasi visual, serta aplikasi dan game developer.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!