Bersiap Menghadapi Era Internet of Things

Like it or not, Internet of Things (IOT) will change your organization unlike anything before. More than BPR, six sigma, lean manufacturing, agile computing.”

Building the Internet of ThingsItulah kalimat pembuka buku best seller versi New York Times dan USA Today ini. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman sang penulis, Maciej Kranz, sebagai VP of Innovation Cisco yang telah berpergian jutaan kilometer dan bertemu dengan begitu banyak perusahaan yang menerapkan IOT. Di sebuah pabrik Harley-Davidson, misalnya, masalah yang biasanya dipecahkan dalam waktu lama kini dapat dipecahkan hanya dalam hitungan jam karena sudah sepenuhnya terhubung dengan IOT. Keputusan dapat diambil 80% lebih cepat. Produksi meningkat 6,8%. Build-to-order cycle times menurun dari 18 minggu menjadi 2 minggu. Utilisasi peralatan meningkat 7-12%.

Judul : Building the Internet of Things

Penulis : Maciej Kranz

Penerbit : Wiley, 2017

Tebal : 272 halaman

Start-up di bidang IOT juga meningkat drastis. Cisco mencatat, pada 2013 baru ada sekitar 100 B2B IOT start-up, pada 2015 berkembang mencapai sekitar 1.000.

IOT dapat diaplikasikan untuk empat tujuan utama: koleksi informasi (mengambil data dari semua device yang saling berhubungan), predictive analytics (deteksi fraud, mengurangi churn), isu spesifik aplikasi (connected health care wearable devices), serta IOT konsumen (autonomous car, kulkas, home security). Dalam implementasinya, IOT dapat diterapkan melalui empat cara: connected operations, remote operations, predictive analytics, dan predictive maintenance.

Terdapat 92 sensor di setiap 900 dump truck Rio Tinto yang merekam kondisi, kecepatan, dan lokasi. Sensor lokasi ini memastikan tiap truk menempuh jarak tersingkat untuk menghemat waktu dan bahan bakar. Semua sensor ini menghasikan sekitar 4,9 Terabyte data setiap hari.

IOT dapat diimplementasikan bukan hanya di perusahaan besar, tetapi juga di industri kecil dan menengah. Buku ini menceritakan bagaimana sebuah perusahaan es krim menggunakan IOT untuk mencegah kerusakan es krim. Apabila suhu dalam lemari es meningkat 1-2 derajat, sistem memberikan peringatan kepada penjaga toko lengkap dengan apa yang harus dilakukan, misalnya menutup pintu atau menghidupkan genset. Bila suhu masih terus meningkat, peringatan dikirimkan kepada manajer senior dan seterusnya untuk memastikan persoalan diselesaikan.

Bukan hanya dunia industri yang mengadopsi IOT, medan perang juga telah mengadopsi IOT dengan konsep connected battlefield. Connected soldiers memakai kamera 360 derajat. yang terhubungkan dengan pusat data untuk memberikan informasi kontekstual sehingga tentara dapat mengetahui bahaya di depan.

Setiap bisnis dapat melakukan tiga hal untuk memastikan tidak tertinggal dari perkembangan IOT: kolaborasi antara perusahaan dan vendor, konvergen standar, dan kerjasama antarorganisasi untuk memenuhi persyaratan use case IOT.

Adopsi IOT membutuhkan pelatihan keahlian baru, cara berpikir baru, dan cara bekerja baru. Mencari talent menjadi tantangan tersendiri dalam hal adopsi IOT ini. Penulis buku menyarankan mencari talent di Eropa Timur daripada bersaing untuk mendapatkan talent di Silicon Valley. Model lain yang dapat dipakai adalah apprenticeship yang mengombinasikan on-the-job training dan kurikulum terstruktur.

Tantangan terbesar dalam adopsi IOT adalah apabila manajemen senior tidak menyadari adanya perkembangan yang mendalam dan game-changing yang sedang berlangsung. Untuk mencegah hal ini, mengedukasi dan mendapatkan sponsorship dari manajemen senior sangat krusial. Selain itu, kita juga harus memikirkan kita akan berada di bisnis apa apabila ekonomi IOT ini berkembang pesat. Perusahaan manufaktur, misalnya, akan mendesain produk dengan cara yang berbeda atau mengoperasikan self-driving truck sebagai rutinitas operasional. Perusahaan transportasi harus memikirkan dampak drone terhadap bisnis mereka.

Pikirkan bagaimana revolusi teknologi ini akan mengubah perusahaan dan industri Anda. Apabila memungkinkan, pikirkan bagaimana Anda ingin IOT mengubah perusahaan ataupun industri Anda.

Pengalaman penulis buku ini juga membuktikan, implementasi IOT bisa saja gagal karena solusi yang kurang matang. Smart parking di Eropa, misalnya, gagal karena vandalism orang-orang merusak sensor untuk lelucon belaka. Implementasi IOT di lempeng penutup parit gagal karena tidak terintegrasi dengan proses bisnis di atasnya seperti penyapu jalan. Contoh lain, sebuah perusahaan penyuling minyak menginstal Advanced Process Control (APC) di kilang minyaknya; awalnya semua APC berjalan lancar di setiap kilang secara individu. Kendala mulai muncul saat perusahaan memutuskan mengintegrasikan semua APC menjadi satu karena ternyata APC-APC tersebut tidak kompatibel satu sama lain.

Risiko terbesar implementasi IOT adalah serangan cybersecurity. Kabar baiknya, tidak semua ancaman cybersecurity adalah sama sehingga kita dapat mengelolanya. Buku ini memberikan tiga solusi untuk keamanan jaringan IOT: pertahanan diri berbasis risiko (manajemen risiko terus-menerus, kolaborasi, dan keamanan), pertahanan patchwork (pendekatan Band-Aid reaktif), dan pertahanan sekeliling (pemisahan lingkungan TI). Pendidikan kesadaran keamanan, kebijakan keamanan, dan best practice harus dibangun untuk perusahaan kita dan dalam ekosistem mitra IOT. Tantangan keamanan lainnya adalah shadow IT, yakni ketika sebuah tim atau departemen mengambil keputusan sendiri peralatan ataupun koneksi apa yang diimplementasikan dalam organsiasi. Audit yang dilakukan penulis buku ini menunjukkan, perusahaan acapkali menggunakan lebih dari selusin aplikasi berbasis cloud, termasuk yang bukan kategori enterprise.

Ya, masalah cybersecurity akan menjadi tantangan tersendiri. Gartner memprediksi, sekitar 25% dari serangan enterprise pada 2020 akan berupa serangan terhadap IOT, tetapi hanya sekitar 10% pengeluaran untuk security yang dialokasikan untuk security. Nasihat penulis buku ini adalah memikirkan keamanan enterprise secara holistik atau menyeluruh dari awal. Semua keamanan IOT harus diotomasi dan dimonitor dari ujung ke ujung.

Buku ini ditutup dengan bahasan mengenai implementasi blockchain IOT. Walaupun kedengarannya seperti utopia, implementasi blockchain IOT telah berada di tahapan proof of concept serta standar implementasi mulai bermunculan. IOT juga dapat diperkuat dengan machine learning yang dikenal dengan nama self-learning network. SLN mengombinasikan analitis yang kuat dengan sejumlah teknologi machine learning, termasuk pembelajaran kognitif machine-to-machine sehingga jaringannya menjadi semakin pintar, adaptif, proaktif, dan prediktif.

Buku ini tidak membahas how to teknis secara mendalam, tetapi membahas use case dan bagaimana perusahaan seharusnya mempersiapkan diri menghadapi era IOT ini.

Buku ini juga akan membuka wawasan baru tentang fenomena IOT, sesuatu yang relatif baru tetapi akan berkembang dengan sangat pesat dan akan mengubah lanskap persaingan dalam waktu singkat. Buku ini membahas banyak sekali use case dari BC Hydro Kanada, Rio Tinto, Benteler Automobiltechnik, sampai dunia militer connected soldiers. Tak mengherankan, Majalah Fortune memuat buku ini sebagai salah satu dari 10 buku yang harus dibaca para pengusaha pada 2017.(*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)