Engage or Die!

Judul: Engage!: The Complete Guide for Brands and Businesses to Build, Cultivate, and Measure Success in the New Web

Penulis: Brian Solis

Penerbit: John Wiley & Sons Inc., 2010

Tebal: 402 halaman termasuk sampul

 

Apa rahasia perusahaan sukses? Sampai beberapa tahun lalu, pelaku bisnis tahu bahwa perusahaan berhasil merupakan buah dari kombinasi antara kepemimpinan yang kuat dan produk yang unggul. Namun sekarang, itu saja tidak cukup. “Pemimpin masa depan butuh hubungan dengan pelanggan masa depan kapan pun, di mana pun, dan bagaimanapun pelanggan menginginkannya,” kata Scott Monty, Komunikasi Digital Global Ford Motor Company.

Hari ini, tak ada bisnis yang bisa mengabaikan revolusi media sosial. Jika Anda tidak menggunakan media sosial untuk menjangkau pelanggan Anda dan orang-orang yang memengaruhi mereka, Anda akan tergilas pesaing Anda. Pilihannya: Engage (terlibat) atau mati. Seyogyanya tak ada lagi keraguan bahwa media sosial justru membuat produktivitas menurun dan sebagainya.

Mungkin kesalahan terbesar yang dilakukan pebisnis perorangan, merek di media sosial terjadi ketika orang melompat ke jaringan sosial secara membabi buta tanpa pedoman yang mantap, rencana tindakan, tanpa mengetahui apa yang orang lain cari, bagaimana dan mengapa mereka berkomunikasi. Juga kurangnya pemahaman tentang fenomena orang-orang berkumpul melalui media sosial, dan segala hal terkait dengan partisipasi lainnya.

Tak ada yang membantah, media sosial seakan memberikan kepada siapa pun sebuah kunci penyadaran bahwa siapa pun berhak bersuara. Melalui demokratisasi konten dan ide-ide suara mereka, kita atau saya, dapat menjadi pemersatu, menginspirasi gerakan atau bahkan memicu perubahan.

Kendati demikian, harus diakui benar bahwa segala sesuatu berubah. Dalam banyak kasus, segala hal yang lama akhirnya menjadi baru lagi. Namun, prinsip yang mendasari fokus pada pelanggan dan layanan pada dasarnya tidaklah baru. Hanya saja, mungkin perhatian pada elemen ini telah berkurang. Sebab, begitu bisnis berkembang, kontrak, menggeser, dan menyusun rencana dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan tren pasar, laba, dan pengaruh teman, selalu mengikuti arahan stakeholder dan pemegang saham.

Media sosial adalah bagian penting dari strategi pemasaran yang lebih besar, penjualan yang lebih lengkap, pelayanan, serta komunikasi pemasaran yang mencerminkan dan beradaptasi dengan pasar. Maka, pelaku bisnis harus realistis bagaimana mengintegrasikan strategi sosial ke dalam mesin yang dikendalikan oleh manusia untuk mendengarkan, belajar dan terlibat secara aktif dengan pelanggan.

Kenapa? Media sosial telah menunjukkan pengaruhnya dalam mendemokratisasi, mengubah cara perusahaan berkomunikasi dengan pelanggan, cara dan kemampuan pelanggan dalam memengaruhi keputusan perusahaan. Melalui platform seperti Twitter, YouTube dan Facebook, siapa pun kini dapat menemukan dan terhubung dengan orang lain untuk berbagi minat yang sama, tantangan, dan keyakinan – membangun komunitas yang membentuk dan mengarahkan persepsi merek para anggotanya. Tanpa keterlibatan dalam komunitas ini, perusahaan akan kehilangan kesempatan besar membentuk pesan pemasaran mereka.

Media baru telah menciptakan generasi influencer baru dan menata ulang hierarki otoritas. Dua perubahan itu kini membuat mereka yang selama itu memegang kekuasaan tanpa ada yang berani membantah menjadi benar-benar panik. Selama itu, sebagian besar formula dan metodologi penyusunan program pemasaran dan komunikasi pemasaran mengabaikan peran influencer baru. Namun, realitas menunjukkan bahwa mereka ini bisa mengilhami aksi, perubahan, tren, dan merekrut pendukung.

Evolusi media baru juga mendorong sebuah transformasi luar biasa dalam layanan pelanggan, hubungan masyarakat (PR), dan evolusi komunikasi perusahaan yang paling dramatis dalam beberapa dekade. Di dunia pelanggan dan dukungan produk, media sosial telah menempatkan “pelanggan” kembali kepada pelanggan, layanan mencabut ideologi yang berkaitan dengan taktik pemotongan biaya ketika berinteraksi langsung dengan pembeli memengaruhi keputusan pembelian orang lain.

Demikian pula, di dunia komunikasi, demokratisasi media telah menempatkan “publik” kembali ke PR. Ini semua menciptakan sebuah tim baru dalam organisasi untuk secara proaktif mendengarkan, belajar, terlibat, mengukur, dan melakukan perubahan secara real time. Bagaimanapun, penggunaan alat tidak menjamin orang mendengarkan. Engagement dibentuk oleh interpretasi dari niatnya. Agar media sosial bisa saling menguntungkan antara Anda dan pelanggan, Anda harus melibatkan mereka dalam percakapan bermakna dan menguntungkan, memberdayakan mereka sebagai peserta dalam pemasaran dan layanan Anda.

Rahasia keberhasilan dalam mengendalikan lanskap pemasaran dan layanan baru adalah memahami bahwa media sosial itu adalah tentang antropologi, sosiologi, etnografi, bukan tentang teknologi dan alat-alat sosial. Pemasaran media dan layanan baru membutuhkan baik media baru maupun konvensional. Prosesnya masih melibatkan iklan, PR, layanan pelanggan, komunikasi pemasaran, sumber daya manusia, dan penjualan.

Pesan ini jelas. Dalam proses pemasaran ataupun komunikasi pemasaran, persyaratannya: ada dialog. Media sosial telah menciptakan dan memperbesar lapisan baru influencer di semua industri. Ini adalah pemahaman tentang peran orang bermain dalam proses tidak hanya membaca dan menyebarkan informasi, tetapi juga bagaimana mereka berbagi dan membuat konten di mana orang lain dapat berpartisipasi. Ini, dan hanya ini, yang memungkinkan kita benar-benar memahami masa depan komunikasi, yang sudah berlangsung saat ini.

Ini yang membedakan antara komunikasi inbound atau outbound saat ini dan sebelumnya. Sekarang, seperti yang lainnya, komunikasi didukung percakapan. Dalam konteks kebaruan ini, komunikator terbaik selalu dimulai sebagai pendengar terbaik, dan para pendengar terbaik adalah mereka yang berempati pada saat mendengarkan.

Media sosial adalah sumber pembelajaran dan perluasan wawasan yang tidak pernah berakhir. Media sosial juga memberikan alat-alat baru komunikasi, dan kesempatan baru untuk belajar tentang bagaimana, kapan, dan di mana kita menggunakannya. Media sosial adalah saluran distribusi yang baik untuk pengetahuan, pendidikan dan pengalaman. Media sosial adalah sarana, bukan tujuan.

Media sosial adalah satu babak dalam evolusi New Media. Ia bukan saluran siaran satu arah, dan para pemainnya bukan lagi sebagai penyiar TV. Perusahaan Anda sekarang bagian dari komunitas yang membuat publik ingin menginformasikan segala hal yang diketahui dan dilakukan. Bagi perusahaan dan perorangan, ini merupakan peluang membangun keunggulan dan pengaruh untuk mendapatkan atensi, menanamkan antusiasme, memberdayakan pendukung, dan menciptakan sebuah komunitas yang loyal ke arah yang lebih bermakna.

Hierarki pesan yang selama ini dipercaya para pelaku bisnis dan pemasaran dapat memengaruhi audiens, kini runtuh. Sekarang, untuk menarik pelanggan, klien, atau stakeholder potensial, perusahaan harus mendekati mereka dari segala arah: dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dan dari sisi samping ke sisi samping. Perusahaan harus keluar dari sesuatu yang kurang dipahami dan tidak lagi berpikir pesimistis.

Buku ini bisa menjadi panduan utama bagi siapa saja yang melakukan branding dan membangun bisnis di era media sosial. Dalam Engage!, Brian meneliti lanskap media sosial secara menyeluruh dan memaparkan cara efektif menggunakan media sosial. Ini membawa Anda melalui langkah-langkah rinci dan spesifik yang diperlukan untuk mengonseptualisasi, melaksanakan, mengelola, serta mengukur program pemasaran dan komunikasi pemasaran melalui media sosial. Tujuannya: meningkatkan visibilitas, membangun komunitas para pengguna merek yang loyal, dan meningkatkan keuntungan.

Separuh pertama buku ini seperti buku yang menyurvei dunia media sosial secara umum. Di dalamnya digambarkan semua aspek interaksi sosial, serta dampaknya pada pemasaran, komunikasi perusahaan, dan bagian layanan pelanggan. Skema pemasaran tradisional yang seakan tak bisa balik lagi, kini luluh karena tekanan massa dalam bentuk tsunami percakapan. Situasi ini memaksa pemasar untuk mendengarkan.

Bagian kedua buku ini terdiri dari empat bagian yang membahas detail tanggung jawab baru pemasar karena munculnya media sosial. Bagian ini juga lebih fokus pada pendekatan “pemasaran baru”. Salah satu bagian yang luar biasa adalah yang terkait dengan “mendefinisikan aturan keterlibatan”. Ini jelas menunjukkan pada kaum skeptis bahwa revolusi media sosial bukan merupakan fenomena yang berlalu didorong atau dikendalikan oleh influencer, tetapi realitas yang terjadi hari ini yang salah satunya adalah hasil inkarnasi social Web.

Artinya, buku ini mengupas hampir semua yang ingin diketahui para pemasar tentang pemasaran melalui media sosial dan munculnya konsumen sosial baru. Engage! menunjukkan kepada Anda bagaimana cara menyusun strategi yang efektif berdasarkan contoh yang terbukti berhasil. Buku ini juga memaparkan cara mengukur keberhasilan dan ROI. “Sekali lagi, Brian Solis menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang kekuatan media baru. Dia menunjukkan bagaimana media sosial dapat memberikan suara, kredibilitas, dan koneksi bagi perusahaan ataupun pelanggan mereka,” komentar Price Floyd, Sekretaris Asisten Deputi Prinsipal Defense for Public Affairs, tentang buku ini.

EDHY ARUMAN

Redaktur Eksekutif

Majalah MIX-MarketingXtra

dan dosen LSPR Jakarta.

Leave a Reply

1 thought on “Engage or Die!”

a good books
by rahmat, 16 Nov 2011, 17:33

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)