Inilah Gagasan Ali Wardhana untuk Perekonomian Nasional

Naskah pidato dan testimoni untuk Ali Wardhana, mantan Menteri Keuangan (1968-1983) dan Menteri Koordinator Ekonomi, Industri dan Pengawasan Pembangunan (1983-1988) terangkum dalam buku berjudul z'A Tribute to Ali Wardhana, Indonesia's Longest Serving Finance Minister : From His Writing and His Colleagues.' yang dirilis di Jakarta, Minggu (7/6). Mari Elka Pangestu, Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi penggagas penerbitan buku tersebut bersama dengan Cyril Noerhadi, Presdir PT Creador yang didukung oleh Anwar Nasution.

Mari Elka, yang juga bertindak sebagai penyunting buku, mengumpulkan pidato-pidato Ali di Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia dalam kurun 15 tahun menjadi Menkeu. Hal itu merupakan permintaan Ali kepada Mari Elka tatkala berjumpa di suatu jamuan makan siang di tahun 2014. Mari Elka mengatakan gagasan Ali yang tertuang dalam kebijakan ekonomi dan moneternya masih relevan dengan kondisi perekonomian nasional di saat ini. “Contohnya upaya pemerintah meningkatkan financial inclusion. Ini sama seperti gerakan menabung Simpedes yang menjangkau masyarakat pedesaan,” ucap Mari Elka.

Budi Gunadi Sadikin, Dirut PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, mengamini pendapat tersebut. Dia mengenang sosialisasi Tabanas merupakan upaya menggalakan keuangan yang infklusif. “Zamannya Pak Ali ada gerakan Tabanas yang dampaknya positif bagi dunia perbankan dalam menghimpun dana pihak ketiga,” kata Budi. Buku ini, lanjut Budi, bisa menjadi refrensi dan contoh bagi perbankan untuk mempelajari kebijakan yang bisa menumpulkan dana masyarakan dalam skala massif.

Ali Wardhana Mari Elka (Tengah), Cyril Noerhadi (Kiri), dan Dirut Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin (Kanan). (Foto : Vicky Rachman/SWA).

Marie Elka menambahkan, gagasan Ali masih relevan meski kompleksitias perekonomian di masa kini berbeda dengan masa Orde Baru. Dia mencontohkan gagasan Ali yang mendorong diversifikasi ekspor, reformasi birokat, langkah-langkah menurunkan ekonomi biaya tinggi atau proteksi dan intervensi pemerintah sebagai salah satu instrumen ekonomi masih relevan dengan situasi masa kini.

Peluncuran buku ini dihadiri oleh Sofjan Djalil, Menteri Kordinator Bidang Perekonomian; Direktur Pelaksana Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati, Wakil Menteri Keuangan, Mardiasmo; Ari Kuntjoro, Dekan FE UI; Sofjan Wanandi, Staf Ahli Wakil Presiden Jusuf Kalla; Emil Salim, dan Anwar Nasution, mantan Ketua BPK.

Emil Salim mengisahkan Ali adalah koleganya yang tampak tenang di setiap diskusi antara tim ekonomi yang dipimpin oleh Widjodjo Nitisastro. “Saat ini Pak Ali sudah uzur, tapi old profesor never die dengan buku ini dia menjadi immortal dan gagasannya menjadi contoh menteri ekonomi lainnya,” jelas Emil. Ali lahir di Solo, Jawa Tengah pada 87 tahun silam.

Mari Elka menuturkan, gagasan dan peran Ali yang berhasil di antaranya adalah menurunkan inflasi sebesar 650% menjadi single digit di awal pemerintahan Orde Baru hingga mengendalikan boom harga minyak dunia. Ali lulus dari FE UI dan meraih gelar Doktor Ekonomi bidang moneter University of California, Berkeley, AS.

Buku ini terbagi dalam tiga masa karier Ali sebagai Menkeu, Menko Ekonomi dan pasca menjadi menteri. Mari Elka selaku penyunting menyeleksi beberapa naskah yang mencerminkan perjalanan Ali sebagai menteri dan pasca menjadi menteri di era 1990-an. Testimoni dari sejumlah ekonom, mantan menkeu, dan koleganya menambah sudut pandang mengenai sosok dan gagasannya Ali. Cyril menambahkan testimoni ini sangat penting untuk memperkaya sudut pandang mengenai Ali sebagai birokrat, akademisi, dan individu. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)