“Ken & Kaskus”, Mau Jadi Apa Lo?

Tak ada jalan atau pola baku untuk jadi sukses. Bahkan untuk jadi sukses, tidak mensyaratkan nilai yang bagus di sekolah, atau latar pendidikan yang tinggi. Tema ini yang membingkai perbincangan saat acara peluncuran buku “Ken & Kaskus” di kantor Kaskus (Kaskus Playground) di Menara Palma lantai P10, Jakarta, pada Kamis (27/6).

Melalui bukunya, CEO Kaskus Ken Dean Lawadinata yang juga memutuskan kuliahnya di Amerika, membagikan kisahnya membesarkan Kaskus yang secara resmi “dibawa pulang” ke Indonesia pada 2008 dengan mendirikan PT Darta Media Indonesia.

Ken-lah yang berperan besar membawa dan mendirikan Kaskus sebagai perusahaan profesional di Indonesia setelah berhasil meyakinkan Andrew Darwis, pendiri Kaskus yang sudah nyaman bekerja di Seattle, Amerika Serikat, untuk mau kembali ke Indonesia dan membesarkan Kaskus di Indonesia. “Jika tidak ada Ken, Kaskus tidak akan besar seperti saat ini,” kata Andrew Darwis yang mendirikan Kaskus pada November 1999 di Seattle.

Ken Dean Lawadinata (kanan), CEO Kaskus, dalam peluncuran buku "Ken & Kaskus" di Jakarta pada Kamis (27/6).

Sejak resmi hadir di Indonesia pada 2008, Ken dan Andrew berbagi peran dalam mengelola Kaskus, Ken sebagai CEO dan Andrew sebagai Chief Technology Officer (CTO). Sejak saat itu pula Kaskus mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Ken beserta tim yang dipimpinnya berhasil mengembangkan Kaskus dari yang hanya beranggotakan 300 ribu anggota pada 2008 menjadi 5,6 juta anggota pada 2013 ini dan di dalamnya terdapat sekitar 400 komunitas. Setiap harinya terdapat sekitar 3000 thread bari di bagian Forum dan 10.000 thread baru di Forum Jual Beli (FJB).

Tiap bulannya, kata Ken, terdapat sekitar 20 juta pengguna aktif Kaskus. Pada 2011, Kaskus dilirik oleh Global Digital Prima, venture capital yang tergabung dalam Grup Djarum. Capaian Kaskus itu membuatnya diakui sebagai The Largest Indonesian Community dan dirinyalah yang berhasil pemimpin yang membesarkan Kaskus, menjadi CEO pada usia 22 tahun.

Kesuksesan ini pula yang membuat Ken ingin membagikan perjuangan, pengalaman, intuisi, dan keberaniannya memperjuangkan impiannya melalui buku. Buku ini menceritakan bagaimana pengalaman seorang Ken mengasah jiwa wirausahanya, mempercayai intuisinya untuk terjun ke bisnis online yang saat itu masih sangat asing, dan meyakinkan Andrew sebagai pendiri Kaskus untuk serius mengembangkan Kaskus.

Ingin meninspirasi generasi muda untuk jadi pengusaha

Menurut Ken, sebenarnya inisiatif untuk membuat buku ini berawal ketika ia dipanggil banyak perguruan tinggi untuk menjadi pembicara mengenai wirausaha. Ia merasa apa yang ia sampaikan pada kesempatan jadi pembicara di kampus-kampus masih kurang, sementara masih banyak hal yang bisa dibagikan. “Masih ada yang kurang untuk disampaikan ketika bicara di kampus. Buku menjadi media yang lebih menjangkau banyak khalayak,” katanya.

Ken tidak meragukan potensi para mahasiswa dan pemuda di Indonesia untuk menjadi pengusaha. Namun ia menilai pola pikir dan mental banyak mahasiswa yang menghambatnya untuk jadi pengusaha. “Ada saja alasan untuk tidak mengaplikasikan ide usaha yang ada di kepala para mahasiswa,” kata Ken yang juga mengatakan bahwa pola didik di universitas yang juga kurang mendukung mahasiswa untuk jadi wirausahawan.

“Melalui buku ini saya ingin membakar semangat wirausaha para generasi muda. Harapan saya buku ini dapat menginspirasi mereka untuk bermimpi setinggi-tingginya, jeli melihat peluang, berani memperjuangkan apa yang mereka yakini sekaligus mengingatkan mereka bahwa tidak ada kesuksesan yang sifatnya instan. Kuncinya adalah tekad yang kuat dan konsisten,” tegas Ken yang lahir pada 6 Januari 1986.

Alberthiene Endah, penulis buku “Ken & Kaskus” yang hadir pada acara peluncuran tersebut, mengatakan bahwa cerita Ken ini menekankan bahwa tidak terdapat pola baku untuk menjadi sukses. Buku ini memberi pesan kepada para pembaca, kata Alberthiene, bahwa di atas kondisi apapun, seseorang harus bisa menghasilkan sesuatu. Ken pun menantang generasi muda untuk mewujudkan mimpinya dengan bertanya, “Mau jadi apa lo?”. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)