Lima Elemen Berpikir Efektif

Judul : The 5 Elements of Effective Thinking

Penulis: Edward B. Burger dan Michael Starbird

Penerbit : Princeton University Press, 2012

Tebal : 168 halaman

Saya yakin, saya tidak memiliki talenta spesial. Rasa ingin tahu, obsesi dan daya tahan dipadukan dengan kritik pribadi, yang membawa saya pada ide saya.” (Albert Einstein)

Di bagian pembuka, buku ini menyatakan bahwa metode dasar untuk berpikir lebih jernih, lebih inovatifdan lebih efektif dalam semua bidang kehidupan pada dasarnya sama. Kabar baiknya, metode tersebut dapat dijelaskan, diajarkan dan dipelajari. Kita semua dapat mempelajaridan menggunakannya. Itulah dasar dan tujuan penulisan buku ini.

Yang pertama, dilambangkan dengan tanah adalah pengertian yang mendalam.Jangan menyelesaikan masalah yang kompleks dengan “membenturkan kepala”, tetapi mengerti ide dasarnya dengan mendalam. Buang semua tetek bengeknya dan ketahui apa yang benar-benar penting. Jujurlah akan apa yang kita tahu dan apa yang kita tidak tahu. Lihat yang hilang, apa yang menjadi jarak yang ada, lalu isilah yang hilang atau jarak itu. Jangan sampai terjadi bias ataupun prasangka. Patut diketahui bahwa pengertian bukanlah kasus “ya atau tidak”, tetapi kita selalu dapat meningkatkan derajat pengertian kita.

Pengertian yang mendalam merupakan fondasi untuk sukses. Bila Anda belajar piano, jangan sekadar menghafal gerakan tangan, tetapi belajarlah mendengarkan setiap nadanya dan mengerti struktur setiap not. Dalam memilih kandidat presiden, pahami isu yang ada dan kembangkan pendapat Anda dengan pengertian dan dasar yang benar.

Dalam apapun yang kita lakukan, perdalam keahlian dan pengetahuan kita akan konsep fundamental. Kelihatannya memang hanya menghabiskan waktu dan langkah mundur semata, tetapi dengan menguasai fondasi yang kuat, kita akan melihat kemampuan kita meningkat lebih tinggi dan lebih cepat. Deep work on simple basic ideas helps to build true virtuosity. The simple and familiar hold the secrets of the complex and unknown.

Lambang kedua adalah api yang berarti toleransi akan kesalahan. Kesalahan merupakan guru yang baik. Kesalahan akan mengungkapkan kesempatan yang ada sekaligus lubang dalam pengertian kita.Yang harus dilakukan dalam menghadapi kegagalan hanya dua: coba lagi dengan cara yang lebih baik, atau tanyakan apakah kegagalan itu jawaban yang benar atas pertanyaan yang lain. Produk Post-It-Note 3M awalnya berasal dari lem yang gagal melekat dengan kuat. Walaupun awalnya dianggap gagal, produk tersebut sukses besar karena 3M mempertanyakan apa yang bisa dimanfaatkan dari lem yang tidak kuat menempel.

Kunci dari cara berpikir dan toleransi akan kesalahan ini adalah “mulai saja”. Misalnya Anda harus menulis sebuah perencanaan bisnis tetapi bingung memulainya dari mana, yang Anda harus lakukan adalah buka komputer dan ketikkan saja apa yang ada di pikiran Anda. Sesudah itu, lakukan revisi dan revisi dan revisi.

Berikutnya, mempertanyakan segala sesuatu yang dilambangkan dengan udara. Terus-meneruslah mempertanyakan segala sesuatu untuk mengklarifikasi dan memperdalam pemahaman kita. Orang biasa menganggap bahwa kemajuan dibuat pada saat kita menjawab pertanyaan. Sebaliknya, mempertanyakan juga sepenting menjawab.

Satu hal yang paling penting dalam mempertanyakan segala sesuatu adalah memastikan pertanyaan yang benar. Mengajukan (dan menjawab) pertanyaan yang salah akan menjadi hal yang sia-sia. Pertanyaan yang benar akan mengungkapkan ide yang ada.

Pada saat semua orang memperdebatkan mengapa pesawat luar angkasa Challenger jatuh yang melibatkan penelitian sangat kompleks, Dr. Richard Feynmann hanya mengajukan pertanyaan sederhana: “Bagaimana kita menguji keelastisan O-ring yang diinginkan saja?” Dengan percobaan sederhana merendam O-ring ke dalam air dingin dan melepaskannya untuk melihat apa yang terjadi, misteri yang kompleks jatuhnya Challenger terbongkarlah.

Pertanyaan yang efektif akan membuka pikiran ke arah insight dan solusi baru. Pertanyaan yang efektif mempertanyakan semua asumsi yang tersembunyi. Maka, biasakan mempertanyakan segala sesuatu. Kebiasaan dan mind set ini akan membawa kita pada pemahaman yang lebih mendalam atassebuah isu. Kebiasaan mempertanyakan juga membuat kita merasa lebih hidup karena kitaterlibat secara aktif. Selain itu, kita juga menjadi lebih mampu mengambil tindakan lebih efektif karena kita mempertanyakan, sehingga mengklarifikasiapa yang harus dilakukan.

Yang keempat, mengikuti aliran ide tersebut. Sebagaimana bisa ditebak, lambang yang dipakai untuk cara berpikir ini adalah air. Lihat balik akan asal-usul ide itu dan lihat ke depan untuk melihat arah ide itu. Ide hanyalah permulaan, bukan akhir.

Tahun 1995, Pierre Omidyar memikirkan efektivitas lelang dan cara kerjanya. Dia mempertanyakan bagaimana caranya membuat lelang yang melibatkan jutaan orang. Dia mengikuti aliran Internet. Hasilnya adalah eBay.

Sifat dasar manusia: tidak biasa melihat jauh ke depan. Dengan demikian, bagaimana caranya kita bisa mengeksplorasi arah ide kita? Selalu tanyakan beberapa pertanyaan seperti “Apa selanjutnya?”, “Kalau demikian, bagaimana selanjutnya?”, ataupun “Apa yang harus dilakukan lagi sekarang?” Dengan demikian, kita akan melangkah dari sekadar murid menjadi praktisioner.

Yang kelima, perubahan. Dengan menguasai keempat elemen sebelumnya, kita akan mengubah cara kita berpikir dan belajar. Kita dapat memperbaiki diri, tumbuhdan menikmati lebih dari pendidikan kita dan cara kita hidup. Kendati demikian, langkah ini justru yang paling sulit meski paling sederhana.

Orang yang menulis dengan mata terbuka pasti tulisannya akan lebih rapi dibanding yang menulis dengan mata tertutup. Dengan perkataan lain, orang mampu melakukan pekerjaan dengan lebih baik bukan melakukannya dengan lebih baik, akan tetapi karena melakukannya dengan cara yang berbeda.

Agar dapat berpikir lebih efektif, yang harus Anda lakukan bukanlah bagaimana berpikir lebih baik, tetapi berpikir dengan cara yang berbeda. Sudah saatnya kita mengubah cara kita berpikir. Daripada menghafal semua fakta dan aturan dengan keras, akan lebih efektif kalau kita mengerti fundamental sebuah kisah secara mendalam. Daripada duduk diam dan berpikir keras untuk mencari inspirasi, lebih efektif kalau kita mulai saja, melakukan kesalahan, mempertanyakan segala sesuatu dan mengikuti aliran ide.

Bila kita menjadikan elemen dari cara berpikir efektif ini sebagai kebiasaan, kita akan mengembangkan kapasitas dan kekuatan mental sebagai pemikir yang efektif dan kreatif. Lebih dari itu, mengaplikasikan elemen ini juga membantu kita mengklarifikasi diri sendiri.

Isi buku ini dapat dirangkum dalam satu paragraf singkat. Lima elemen berpikir yang efektif adalah cari pengertian yang mendalam (tanah), berani gagal dan belajar dari kegagalan (api), pertanyakan segala sesuatu (udara), ikuti aliran ide (air) dan teruslah berubah.

Cogito ergo sum. I think, therefore I am.

 

RINNY, Konsultan di Hay Group

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)