Masalah dan Masa Depan Industri Minyak

Judul : Why We Hate the Oil Companies

Penulis : John Hofmeister
Penerbit : MacMillan, 2010
Tebal : 249 halaman

Jawaban atas pertanyaan yang menjadi judul buku ini: Ada di halaman 236.
Demikianlah jawaban singkat penulis buku ketika diminta memberikan jawaban ringkas atas pertanyaan yang menjadi judul buku ini pada saat diluncurkan di Offshore Technology Conference di Reliant Park, Houston, awal Mei lalu.

Bila industri minyak menikmati naiknya harga minyak laksana durian jatuh, masyarakat menganggap kenaikan harga minyak sebagai kejatuhan durian. Dalam kunjungannya ke Pennsylvania pada saat harga minyak naik, mantan Presiden Shell, penulis buku ini dihujat oleh manajer pom bensin Shell sendiri (halaman 126). “Perusahaan untung miliaran dolar tetapi daya beli saya semakin lemah.”


Penulis buku ini juga telah berkali-kali ditanya dalam forum terbuka mengenai peranan Shell dalam perang Irak dan seberapa besar untungnya Shell dari akses ke negara itu. Penulis buku ini membantah keterlibatan perusahaan minyak di balik perang Irak (halaman 5). Lebih lanjut lagi, jajak pendapat Gallup mengenai rasa suka masyarakat terhadap 24 industri raksasa di Amerika Serikat menunjukkan bahwa industri minyak dan gas berada di peringkat 24 dalam 7 tahun terakhir berturut-turut.

Ketidaksukaan masyarakat terhadap industri minyak berakar dari arogansi eksekutif industri minyak. John sendiri mengakui kalau ada eksekutif perusahaan minyak yang berpendapat, “Kalau mereka tidak membutuhkan produk kita, masih banyak yang mau (halaman 5 dan 132). Ditambah dengan margin pom bensin yang hanya 12%-13% dan hampir seluruh margin yang berasal dari eksplorasi dan produksi, jelas pom bensin tidak berada di prioritas utama eksekutif minyak. Kenyataannya, pom bensin justru merupakan wajah perusahaan minyak di mana pengalaman interaksi dengan masyarakat sangat menentukan citra perusahaan minyak.

Selain itu, fokus utama para eksekutif industri minyak bersifat jangka panjang. Program kerja utama mereka adalah menemukan minyak masa depan karena minyak untuk 3-5 tahun ke depan telah ditemukan. Harga saham perusahaan minyak bergantung pada besarnya cadangan reservoir yang dimiliki dan tingkat pengantian jumlah minyak yang telah dikeluarkan. Berarti, masa depan perusahaan minyak ditentukan hari ini. Fokus jangka panjang ini menyebabkan masyarakat beranggapan kalau perusahaan minyak bekerja dalam “bungker”.

Kecelakaan industri minyak juga acap kali mencemari lingkungan dengan dampak yang luar biasa. Pencemaran hebat kembali terjadi April 2010. Rig Deepwater Horizon BP mengalami blow-out dan ribuan barel minyak tumpah mencemari Teluk Meksiko setiap harinya. Publik AS dan Presiden Barack Obama berang sampai mengatakan ingin mengetahui whose ass to kick dalam masalah tumpahan minyak ini.

Perbedaan sudut pandang dan dosa terhadap lingkungan dari perusahaan minyak seolah menenggelamkan jasa industri minyak sebagai penyedia energi dasar. Energi alternatif diwacanakan sebagai solusi masa depan sekaligus menjadi komoditas politik.


Saat ini, 60% sumber energi di bumi ini masih berasal dari minyak (36%) dan gas (23%). Energi alternatif, misalnya nuklir, angin, air, matahari dan geotermal hanya dapat menjadi opsi masa depan apabila dikembangkan dengan benar dari saat ini. Pemerintah AS sendiri memberikan subsidi (US$ 24,34 per MWH buat tenaga matahari dan US$ 23,37 buat tenaga angin) bagi pengembangan energi alternatif yang memang sulit dan berisiko.

Dikotomi antara bahan bakar fosil dan bahan bakar alternatif selalu menjadi komoditas politik. Pada 14 Juli 2008, Presiden Bush mengatakan akan berusaha sekuat tenaga memperbolehkan pengeboran lautan lepas. Tiga hari kemudian, (calon) Presiden Barack Obama justru mengatakan akan mempercepat investasi energi renewable. Pola berpikir politisi sangat berbeda dari perusahaan minyak dan masyarakat. Waktu politisi diukur dalam hitungan tahun, waktu perusahaan minyak diukur dalam dekade, sementara kebutuhan masyarakat bersifat permanen.

Sekali lagi, masyarakat yang menjadi korban dari perbedaan pandangan ini. Dampak kebijakan energi bersifat jangka panjang. Apa yang terjadi hari ini merupakan hasil dari kebijakan di masa lalu. Kebijakan hari ini akan memengaruhi produksi minyak di masa depan. Satu hal yang pasti, perekonomian global bergantung pada elektron komputer dan elektron membutuhkan energi.

Manusia tidak akan kekurangan energi di masa depan karena kekurangan sumber daya. Manusia akan kekurangan energi di masa depan karena tidak mulai membuat pilihan akan sumber energi masa depan.

Sebagai solusinya, buku ini mengusulkan agar AS memiliki Federal Energy Resources Board, badan yang membuat kerangka kerjanya berdasarkan kebutuhan energi, bukan berdasarkan kebutuhan politik ataupun kepentingan pemilu. Tugas utama badan ini membuat cetak biru pasokan energi 50 tahun ke depan.

Dalam konteks Indonesia, mutiara buku ini berada di halaman 217. Mengimpor minyak artinya mentransfer kekayaan nasional ke negara pengekspor minyak.

Tidak sama seperti judulnya, buku ini bukanlah sebuah buku yang antipati terhadap industri minyak. Sebaliknya, buku ini menganalisis mengapa masyarakat membenci industri minyak sekaligus memberikan solusinya, baik buat perusahaan minyak maupun masa depan pasokan energi secara makro.
Walaupun buku ini cenderung menganalisis pengaruh dan dampak perusahaan minyak dalam konteks AS, perspektif yang ditawarkan bersifat global, sehingga sangat relevan dibaca oleh pengambil keputusan ataupun pemain industri energi Indonesia. Dengan asumsi pandangan dan fakta buku ini semuanya benar, buku ini dapat menjadi awal pemikiran bagi perusahaan minyak ataupun cetak biru industri minyak di negara kita.

Leave a Reply

1 thought on “Masalah dan Masa Depan Industri Minyak”

good post... kunjungi ini ya.. <a href="http://faperta.unand.ac.id"> klik ini <a/> thanks
by dingga, 05 Nov 2010, 05:04

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)