Membangun Ekosistem Inovasi Melalui Kota Kreatif

Judul : Collaborative Innovation
Penulis : Yuwono Imanto, Hari Sungkari, Josef Prijotomo
Penerbit : Swasembada Media Bisnis
Tebal : 270 hlm.

Saya membayangkan, pada saat merayakan 100 tahun kemerdekaannya, Indonesia akan mempunyai 50 kota berkelas dunia. Mungkinkah?

Buku ini memberikan inspirasi bahwa hal itu sangat memungkinkan, yaitu dengan membangun ekosistem inovasi industri kreatif melalui collaborative innovation. Indonesia memiliki 514 kabupaten/kota dan 50 kota berkelas dunia tersebut hanya 10%!

PDB Indonesia terbesar di antara negara-negara ASEAN. Walaupun demikian, PDB per kapita Indonesia --apalagi kalau dikurangi DKI Jakarta-- masih jauh di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Ini karena “dibagi” dengan jumlah penduduk yang lebih dari 260 juta jiwa. Untuk menghapus ketertinggalan tersebut, kita harus berpikir “perkalian” dari jumlah penduduk tersebut (productivity gain). Bukan “pembagian”. Caranya, setiap kabupaten dan kota harus lebih inovatif mengembangkan wilayahnya dengan memanfaatkan keuntungan demografi yang dimiliki.

Saat ini telah terdaftar 358 kabupaten/kota kreatif. Sebagai gambaran, diperkirakan 66,6% penduduk Indonesia akan tinggal di kawasan perkotaan pada tahun 2035. Jadi, kalau tidak dikembangkan, penduduk di wilayah tersebut akan menjadi beban karena bukan menjadi faktor produktif. Jika 50% saja dari 514 kota tersebut dapat meningkatkan PDB mereka menjadi dua kali lipat, Indonesia akan memiliki kota-kota kreatif yang produktif. Maka, pembangunan kota kreatif yang didefinisikan sebagai kota yang berkembang dengan industri kreatif sebagai penggeraknya sangat diperlukan.

Cukup menggembirakan bahwa perkembangan PDB ekonomi kreatif di Indonesia terus meningkat. PDB industri kreatif adalah sebesar Rp 784 triliun pada tahun 2014 dan telah mencapai Rp 1.105 triliun pada tahun 2018 atau meningkat 40% dalam empat tahun. Target pada tahun 2019 adalah Rp 1.211 triliun dan dapat berkontribusi 7,4% terhadap PDB nasional.

Kita perlu bersyukur, pada Desember 2014 Kota Pekalongan dipilih menjadi salah satu kota kreatif di dunia versi UNESCO Creative Cities Network (UCCN).

Kondisi inovasi di Indonesia. Dalam laporan World Economic Forum, Indonesia menempati peringkat ke-45 pada tahun 2018-19, turun dari peringkat ke-41 dan ke-36, masing-masing pada tahun 2016 dan 2017. Peringkat yang paling mencolok turunnya adalah innovation capability, dari ke-31 pada tahun 2017 menjadi ke-68 pada tahun 2018, atau turun 37 level. Akibatnya, peringkat Indonesia secara keseluruhan turun dari ke-36 menjadi ke-45.

Peringkat Indonesia yang stabil adalah market size, yaitu meningkat dari peringkat ke-10 pada tahun 2016 ke peringkat ke-9 dan ke-8 pada tahun 2017 dan 2018. Jadi, dengan adanya kota kreatif, Indonesia bisa mendapatkan keuntungan dari market size yang besar dan keuntungan demografi dengan cara meningkatkan produktivitas kota kreatif melalui inovasi.

Buku ini memberikan solusi dari tantangan dan kesempatan seperti yang dijelaskan di atas. Dalam memberikan solusi, para penulis yang mempunyai pengalaman industri dan berpendidikan S-3 selalu membuat usulan berdasarkan analisis data dan mengacu pada kajian ilmiah. Yang tidak kalah menarik, adanya penelitian empiris penulis untuk menunjang kualitas konten dalam buku ini. Pada bagian akhir juga diberikan studi kasus untuk memberikan gambaran penerapan teori dan konsep yang telah dibahas secara mendalam pada bab-bab sebelumnya.

Informasi yang didapat dari buku ini ditulis dengan urutan yang logis dan enak dibaca, yaitu (1) Bagaimana Membangun Kota Kreatif; (2) Mempercepat Inovasi dan Kolaborasi Kreatif; (3) Peran Arsitektur Nusantara; (4) Studi Kasus; (5) Epilog

(1) Bagaimana Membangun Kota Kreatif. Kita menyadari, selain memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia (penduduk dan pasar), Indonesia memiliki sumber daya budaya yang sangat beragam dan unik, misalnya dalam industri fashion (jenis kain tenun), makanan (sate, soto), dan arsitektur (bentuk bangunan). Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki jenis kanin tenun, makanan khas, dan arsitektur yang unik. Perbandingan jumlah wirausaha di beberapa negara terhadap jumlah penduduk: Indonesia 3,1%, Malaysia 5%, dan Singapura 7%. Walaupun kita menang dalam jumlah, perlu diketahui bahwa lebih dari 90% masih berpenghasilan di bawah Rp 300 juta per tahun. Indonesia perlu tambahan 4 juta wirausaha baru, tentunya dengan kualitas dan penghasilan di atas Rp 1 miliar per tahun.

Indonesia harus berubah dari efficiency-driven economy menjadi innovation-driven economy jika ingin mencapai negara nomor 7 terbesar di dunia pada tahun 2045. Kota-kota kreatif inilah yang dapat menjadi sumber inovasi Indonesia. Karena itu, buku ini menarik untuk dipelajari dan diterapkan.

Dalam buku ini dibahas bagaimana membangun kota kreatif di Indonesia yang mencakup di antaranya:

  • Pentingnya peran pemerintah. Langkah awalnya, menghilangkan kendala birokrasi sehingga kota kreatif tidak dipenuhi “rezim perizinan” yang sering menghalangi kreativitas warga. Pemerintah juga perlu memfasilitasi 10 kondisi infrastruktur yang mendukung industri kreatif, antara lain tersedianya high profile infrastructureseperti galeri dan museum, tersedianya akselerator bisnis, pendidikan formal dan informal yang menjadi tempat bertemunya para pelaku ekonomi kreatif dengan mentor; dan seterusnya yang dapat dibaca lebih lengkap pada buku ini.
  • Perlunya prioritas pengembangan. Melalui Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I), telah dipilih 57 kabupaten/kota berdasarkan uji petik.
  • Perkuat kolaborasi. Setelah dilakukan identifikasi subsektor unggulan dari 57 kabupaten/kota tersebut, perlu dipastikan siapa saja pemangku kepentingan, yaitu akademisi, bisnis, pemerintah, dan komunitas.

(2) Mempercepat Inovasi dan Kolaborasi Kreatif

  • Pelaku industri kreatif di Indonesia umumnya terdiri dari usaha mikro, kecil, dan menengah yang 92,56%-nya adalah usaha mikro dengan penghasilan sama atau kurang dari Rp 300 juta per tahun (Utoyo dan Surasih, 2017). Melalui kota kreatif, UMKM tersebut dapat lebih inovatif dan dipantau perkembangannya. Penulis mengusulkan konsep inovasi terbuka dan membangun ekosistem quadruple helix(akademisi, industri, pemerintah, dan komunitas) untuk mempercepat inovasi.
  • Perusahaan kecil (UMKM dan startup) pada umumnya lebih bagus dalam mengidentifikasi dan mencari peluang, tetapi memiliki kekurangan dalam memanfaatkan peluang. Ini sebaliknya dengan perusahaan besar. Maka, perlu kompromi.
  • Collaborative innovation(CI) adalah sebuah proses kreativitas dalam berinovasi yang terdiri dari lintas organisasi dan lintas industri melalui aktivitas berbagi ide, pengetahun, keahlian, dan kesempatan (Miles, Miles, and Snow; 2006). Bagi perusahaan kecil, CI sangat penting, terkait dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki.
  • Penulis mengusulkan integrasi antara strategic entrepreneurshipdan CI untuk menjawab lima keterbatasan UMKM/startup industri kreatif di Indonesia, di antaranya keterbatasan akses ke lembaga keuangan dan keterbatasan manajemen dalam berinovasi.
  • Di samping teori-teori yang banyak dibahas dalam manajemen dan industri kreatif, penulis menjabarkan penelitian empiris yang telah dilakukan dengan beberapa variabel: learning orientation, collaborating with universities, networking capability, government support, innovation capability, dan innovation performance. Keterkaitan dari setiap variabel dijelaskan dengan rinci dalam buku tersebut dan menarik untuk dikaji.

(3) Peran Arsitektur Nusantara. Arsitektur menjadi salah satu subsektor industri kreatif di bawah naungan Bekraf yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Arsitektur berperan penting dalam menciptakan ikon suatu kota, meningkatkan jumlah wisatawan, membuat industri kuliner menjadi lebih unik dengan sentuhan arsitektur berbudaya lokal. Arsitektur tumbuh 6,05% pada tahun 2016 dan yang terbesar kedua dalam industri kreatif.

(4) Studi Kasus. Salah satu kelebihan buku ini adalah membahas studi kasus kabupaten/kota kreatif di Indonesia yang isinya sangat relevan dengan konsep-konsep yang telah dibahas sebelumnya. Kota kreatif yang dibahas adalah Bandung, Denpasar, dan Banyuwangi. Bagaimana cara kota-kota tersebut mengembangkan ekonomi kreatif dapat menginspirasi kota-kota kreatif lain di Indonesia.

(5) Epilog. Buku ini patut dibaca dan menjadi acuan bagi praktisi dan akademisi di industri kreatif. Isinya akan membuka mata kita bahwa kolaborasi adalah kunci keberhasilan dalam membangun kota kreatif dan ekosistemnya. Kolaborasi adalah cerminan dari sila ketiga Pancasila dan semangat gotong royong yang kita miliki. (*)

*) Penulis adalah Direktur BINUS Creates yang mengelola training, consulting, dan startup dengan research interest dalam bidang inovasi, leadership, dan transformasi digital. Penulis dapat dihubungi melalui alamsjah@binus.edu 
Firdaus Alamsjah, Ph.D
Direktur BINUS Creates

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)