Membedah Praktik Corporate University di Indonesia

Oleh: Edhy Aruman, Redaktur Eksekutif Majalah Mix-Marcomm Dan Dosen Stikom Lspr Jakarta

 

Judul : Indonesia’s Best Practices of Corporate University

Editor : Wisnoe Satrijono, Kusnan M. Djawahir, dan Joko Sugiarsono

Penerbit : PLN Corporate University dan PT Swasembada Media Bisnis, 2017

Tebal : 264 halaman

 

Matahari baru saja menampakkan sinarnya di taman hiburan di Magic Kingdom milik Disney. Sekelompok orang berkumpul di jalan utama di arena hiburan itu dan mempertontonkan aksinya.

Ada orang yang berperan sebagai ahli hortikultura. Mereka merapikan rangkaian bunga yang ada di pinggir jalan. Ada petugas layanan makanan yang menghitung es krim Mickey yang akan dikirim ke toko dan gerobak yang tersebar di arena hiburan itu. Pakar inventaris memastikan jumlah topi mouse-ear dan tongkat Tinker Bell cukup. Bocah Winnie the Pooh yang akan diturunkan keliling arena sedang dicek sekelompok orang, dan sebagainya.

Mereka karyawan Disney? Bukan. Mereka adalah para eksekutif dari berbagai perusahaan yang tengah mengikuti tiga hari program pengembangan profesional di Disney sehingga mereka dapat belajar bagaimana membuat “sihir” di industri mereka sendiri. Seorang peserta dari sebuah rumah sakit nampak mengerjakan tugas menemukan solusi problem yang sering dihadapi rumah sakit, yakni bagaimana bisa membuat ulang ruang tunggu rumah sakitnya agar lingkungan bisa meningkatkan pengalaman menyenangkan buat para tamunya. Seorang kepala sebuah dealer otomotif besar tengah memikirkan gagasan agar tokonya bisa menarik pelanggan kembali.

Di kampus Orlando seluas 47 acre yang indah, Disney Institute menawarkan kepada para turis yang punya hobi fotografi, berkebun, dan memasak, untuk belajar fotografi, berkebun, dan memasak di Disney. Mereka juga menawarkan para eksekutif perusahaan lain untuk mempelajari cara berbisnis Disney. Di sini para peserta dapat melihat Disney menjalankan bisnisnya.

Mengapa Disney mau berbagi rahasia manajemen, kepemimpinan, atau komunikasi dengan pihak luar? Disney melakukan itu untuk meningkatkan reputasi mereka. Dengan kata lain, Disney ingin memosisikan diiinya sebagai perusahaan yang pakar dalam bisnis. Yang lain, mereka melihatnya sebagai alat untuk membangun hubungan dan meningkatkan efektivitas keseluruhan perusahaan mereka.

Pekerjaan tradisional lembaga pendidikan tinggi telah berubah. Kebutuhan orang akan belajar telah memberi jalan pada gagasan baru konsep pendidikan dalam memadukan pembelajaran dan bekerja menjadi satu aktivitas. Itu yang dipertontonkan corporate university Disney. Namun, Disney bukan satu-satunya perusahaan yang menawarkan program pendidikan bagi para eksekutif perusahaan.

ABB Switzerland punya Automation University of Zurich. General Motor memiliki Saturn University, demikian pula dengan Motorola. Perusahaan-perusahaan yang sadar bahwa salah satu aset paling berharga di perusahaan mana pun adalah karyawannya, perusahaan sukses yang menyadari adanya kebutuhan untuk menjadi organisasi pembelajaran dan pentingnya mempertahankan serta mengembangkan karyawannya, membangun corporate university (universitas korporat).

Southwest Airlines, misalnya, menggantungkan pelatihan 27 ribu karyawannya pada corporate university (corpu)-nya. Karyawan maskapai penerbangan itu diberi kesempatan yang sama untuk mengembangkan kepribadian, profesionalisme, kepemimpinan, kepuasan kerja, dan pencapaian kinerja puncak, serta mendukung budaya perusahaan untuk layanan yang memuaskan. Pusat Pembelajaran Kota Tempe menjadi jawaban pemerintah untuk memberikan pelatihan bagi lebih dari 1.500 pegawai kota. Masih banyak lagi perusahaan atau organisasi yang memiliki corpu, baik untuk memenuhi kebutuhan pelatihan karyawannya sendiri maupun menerima karyawan dari luar.

Penerimaan peserta dari kalangan luar di satu sisi memberikan keuntungan image, tetapi di sisi lain bisa menjadi ancaman bagi perguruan tinggi konvensional. Sebab, bagaimanapun, munculnya corpu merupakan respons terhadap gap antara kebutuhan industri dan yang bisa dipenuhi oleh perguruan tinggi konvensional. Banyak perusahaan menciptakan universitas internal mereka sendiri karena mereka merasa sekolah bisnis telah gagal melatih para manajer dan pemimpin yang dibutuhkan untuk menjalankan perusahaan mereka.

Lembaga pendidikan di bidang hiburan dan teknologi seperti Universitas Apple dan Universitas Pixar banyak mendapat perhatian. Juga, Deloitte University dan General Motors Institute. Yang membedakan sekolah ini adalah mereka tetap fokus pada budaya perusahaan dan sejarah, sekaligus juga menyadari pentingnya melatih siswa dalam kreativitas, fleksibilitas, inovasi, dan kemampuan beradaptasi. Di Jerman, sebagian besar peserta corpu adalah karyawan internal tingkat menengah atas dan menengah. Konsekuensinya, pertama, hanya karyawan internal yang bisa menikmati program tersebut. Kedua, sebagian besar pesertanya memerlukan rekomendasi dari anggota dewan direksi atau atasannya.

Dua contoh terkenal dan mapan lainnya adalah Hamburger University yang didirikan oleh McDonald’s pada 1962 dan GE's Crotonville. Misi Hamburger University di Elk Grove, Illinois, AS, adalah melatih dan mengembangkan karyawan memiliki bakat global. Di sekolah tersebut terdapat 19 guru besar tetap yang mengajar dan mereka telah menerima rekomendasi untuk memberikan kuliah dari American Council on Education (ACE).

Berlokasi di Ossining, New York, Crotonville menawarkan kursus manajemen umum eksekutif GE dengan masa pembelajaran hingga 13 minggu. Kursus ini dibagi menjadi tiga paket utama – kepemimpinan, keterampilan, dan bisnis. Kedua corpu tersebut berhasil sebagian karena mereka secara eksklusif dan agresif fokus pada kebutuhan sumber daya manusia perusahaan dan industri mereka sendiri. GE Campus bisa disebut sebagai contoh terbaik proses pengembangan corpu. Di sini manajer GE dari seluruh dunia digembleng menjadi great leader yang mampu menggerakkan bisnis GE sehingga mencapai kinerja bagus.

Dalam sepuluh tahun terakhir, di AS, corpu tumbuh luar biasa. Ada yang memprediksi jumlah corpu akan melebihi jumlah perguruan tinggi dan universitas tradisional. Namun di Indonesia, istilah ini belum begitu populer di masyarakat. Sebagian orang masih bingung dan belum bisa membedakan antara universitas sebagaimana banyak dikenal dan corpu. Ambil contoh PT Telkomunikasi Indonesia. Saat ini mereka memiliki Telkom University dan Telkom Corporate University. Orang pun bertanya-tanya, mengapa sebuah perusahaan harus memiliki dua universitas?

Konsep corpu di Indonesia baru populer sekitar pertengahan tahun 2000-an. Seperti ditulis dalam buku Indonesia’s Best Practices of Corporate University, konsep ini makin populer setelah diadopsi kalangan perbankan seperti Citibank Indonesia dan BUMN. Tiga BUMN yang menjadi early adopter konsep ini adalah Telkom, PLN, dan Pertamina. Bank-bank BUMN seperti Bank Mandiri dan Bank BNI telah mengadopsi konsep ini. Di kalangan swasta ada United Tractors, Trakindo Utama, dan Unilever Indonesia. Sebagian besar atau hampir semua corpu di Indonesia fokus pada karyawan sendiri.

Berbeda dari konsep pendidikan dan latihan, corpu mengacu pada program pengembangan SDM secara terarah dan sistematis, serta terkait dengan pencapaian visi-misi dan strategi suatu lembaga. Corpu lebih pada aktivitas business solution. Sementara itu, dalam konsep diklat atau training center (TC), program pembelajaran hanya dipandang sebagai proyek, bukan bagian dari change management. Aktivitas TC lebih mengarah pada menutup kesenjangan kompetensi karyawan. Dalam konteks change management, idealnya kompetensi seperti itu bisa diaplikasikan lintasperusahaan, bahkan lintas-industri. Ini memunculkan gagasan bahwa kosnep corpu seyogianya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan karyawan sendiri tetapi juga membuka diri bagi karyawann perusahaan lain.

Buku ini memberikan gambaran luas tentang konsep corpu di Indonesia. Dari buku ini pembaca melihat bagaimana komitmen perusahaan-perusahaan di Indonesa mengembangkan corpu sebagai wujud dari kepedulian mereka bahwa karyawan merupakan tulang punggung perusahaan. Idealnya, corpu menjadi wadah pendidikan terkait dengan penjenjangan karier.

Pertanyaan seperti apakah kompetensi seseorang setelah mengikuti pendidikan corpu bisa memengaruhi karier seseorang di perusahaan, itulah yang belum dibahas secara mendetail dalam buku ini. Sebab, pada hakikatnya, pendidikan harus mampu menjadi sarana pembebasan seseorang dari pemasalahan yang mereka hadapi. Namun, bagaimanapun, buku ini menjadi penting bagi mereka yang peduli terhadap pengembangan karier karyawan dan kontribusinya bagi kinerja perusahaan.(*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!