Memecahkan Masalah dengan Mengajukan Pertanyaan

In the word question, there is a beautiful word – quest.

Apakah kita bisa menemukan solusi yang lebih baik atas permasalahan kita, baik masalah di tempat kerja, komunitas, maupun pribadi, dengan mengubah pertanyaan? Pertanyaan ini merupakan intisari buku yang ditulis oleh Hal Gregresen, Direktur Eksekutif MIT Leadership Center.

Judul : Questions Are The Answer

Penulis : Hal Gregresen

Penerbit : HarperBusiness, 2018

Tebal : 336 halaman

Tesis dasar buku ini adalah kemampuan menanyakan pertanyaan yang tepat merupakan sebuah keahlian dan kapasitas yang dapat diperkuat dengan latihan yang terstruktur.

Pertanyaan dan kemampuan untuk menanyakan pertanyaan yang tepat merupakan keahlian yang sangat berharga. Buku The Innovator’s DNA (ditulis oleh penulis buku ini juga) menemukan bahwa salah satu perilaku pembeda pelaku bisnis yang inovatif dan tidak adalah perilaku bertanya mereka. Inovator mempunyai rasio Q/A yang lebih tinggi alias mereka lebih banyak bertanya daripada menjawab pertanyaan.

Mengajukan pertanyaan yang tepat merupakan hal yang sangat kritikal. Tina Seelig, profesor Stanford, mengatakan bahwa pertanyaan pada dasarnya adalah kerangka yang akan membatasi jawaban. Implikasinya, dengan mengubah kerangka, kita akan mengubah secara drastis solusi yang mungkin.

Pertanyaan yang bagus adalah catalytic questions, yaitu pertanyaan yang menghilangkan batasan dan mengarahkan energi ke jalan yang lebih produktif.

CEO Salesforce, Marc Benioff, selalu menanyakan masa depan akan seperti apa dan bagaimana mereka harus beradaptasi. Sang CEO juga menekankan bahwa pertanyaan ini harus selalu ditanyakan dengan “beginner’s mind”, yakni selalu melihat dunia dengan mata yang baru.

Facebook memiliki “question time” mingguan; karyawan diminta untuk menanyakan pertanyaan atau isu yang dirasakan masih belum cukup ditanggapi oleh manajemen atau mungkin terlewat.

Dalam kata pengantarnya, Ed CatMull, Presiden Pixar Animation dan Disney Animation, menyatakan bahwa kita lebih baik memiliki “mission question”, bukan “mission statement”. Mission question akan memaksa kita berpikir “apa artinya”.

Buku ini juga memperkenalkan model “Question Burst”, sejenis brainstorming tetapi yang diizinkan hanya brainstorming akan pertanyaan saja tanpa pemaparan apa pun. Langkah pertama, jabarkan “masalah” dalam waktu dua menit.

Langkah kedua, minta peserta untuk mengajukan pertanyaan dalam waktu empat menit dengan target untuk mendapatkan 15-20 pertanyaan.

Langkah terakhir, pilih beberapa pertanyaan yang menggelitik. Pengalaman penulis menunjukkan, 80 persen dari event ini biasanya akan memberikan satu pertanyaan yang berguna untuk mem-frame ulang masalah dan memberikan sudut pandang pemecahan masalah yang baru.

Dari sisi emosi, pengalaman penulis buku ini juga menunjukkan bahwa emosi peserta akan berubah dari kebanyakan negatif menjadi positif sesudah eventquestion burst” ini. Secara kuantitatif, 22 persen menyatakan bahwa mereka melihat permasalahan tersebut dengan sudut pandang yang berbeda dan 52 persen dengan sudut pandang yang sedikit berbeda.

Gary Erickson, pendiri Cliff Bar, mengatakan, “Saya selalu mencoba untuk memodelkan pentingnya tidak mengetahui apa pun – tanya, hindari hal yang mutlak rendah hati, dan belajar dari orang lain sebagai gaya bisnis dan kepemimpinan saya. Lebih banyak bertanya daripada menjelaskan. Walaupun Anda mengetahui jawabannya, balikkan itu jadi pertanyaan.”

Gary menjadi bijak dalam hal bertanya sesudah menjelajah dunia dengan bujet minimal yang mengajarinya betapa banyak yang dia tidak ketahui. Perjalanan mengajarinya bahwa dia tidak perlu memiliki jawaban, tetapi yang penting adalah bertanya. “Nilai dari traveling adalah perjalanan akan komplikasi, bahkan kontradiksi, untuk menemukan pertanyaan yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya dan saya tidak yakin bisa menjawabnya dengan gampang.”

Untuk mendapatkan kualitas pertanyaan, kita harus tahu kapan waktunya berdiam diri. Dalam wawancaranya dengan para pemikir kreatif, Hal menyimpulkan bahwa mereka tidak memaksakan insight, tetapi mencari atau menciptakan setting di mana pertanyaan akan muncul secara alami dan mereka mungkin akan mendengarkannya. Dengan perkataan lain, mereka “compose and wait”.

Pengalaman Hal juga menunjukkan bahwa para pemimpin bisnis menciptakan kondisi yang “diam” untuk diri mereka dengan beberapa cara. Pertama, mendengarkan orang lain dan mengerti kebutuhan, prioritas, dan motivasi mereka.

Kedua, disiplin untuk tidak mengisi kekosongan di antara komentar. Pause yang sederhana akan membuka lapisan informasi yang tidak terbatas. Cara lainnya, dengan paraphrase, penekanan dan infleksi yang tepat sehingga lawan bicara kita merasa tervalidasi.

Yang berikutnya, mendengarkan untuk mengerti, bukan mendengarkan untuk bertahan. Opsi yang lain adalah mencari data pasif, yakni informasi yang tidak memiliki struktur atau agenda yang jelas. Terakhir, dengan meditasi.

Tugas coach ialah membantu klien mengelola emosi dan energi. Dengan berguru pada Tony Robbins, Hal menyatakan bahwa tugas coach ialah membantu orang mengerti pertanyaan yang secara tidak sadar menyetir pemikiran. Pertanyaan merupakan hal yang sangat penting karena pertanyaan mengontrol fokus kita serta membantu kita mengubah lingkungan internal kita. Tony juga memiliki “primary question” mengenai “bagaimana saya membuatnya lebih baik?”. Tony sangat terobsesi dengan pertanyaan ini dan selalu di-drive oleh pertanyaan ini.

Dalam bukunya, Principles, Ray Dalio menyarankan bahwa orang yang smart adalah yang banyak menanyakan pertanyaan yang dipikirkan dengan matang, bukan seorang yang berpikir bahwa dia memiliki semua jawabannya. Pertanyaan yang bagus, bukan jawaban yang bagus, merupakan prediksi akan kesuksesan di masa depan.

Buku ini ditutup dengan pertanyaan, mengapa kita tidak menanyakan pertanyaan yang “besar” dalam artian fundamental. Kita semua pasti memiliki pertanyaan kunci yang akan menuntun hidup kita, terlepas dari apakah kita sadar atau tidak. Dalam sebuah acara, Dr. Papaderos ditanya tentang apa arti hidupnya. Dia menjawabnya dengan metafor cermin yang menuntunnya pada pertanyaan “Daerah manakah yang sedang membutuhkan terang hari ini dan bagaimana saya bisa merefleksikan cahaya ke dalamnya?”

Sebuah buku yang sangat menarik karena topik yang dibahas merupakan topik yang sangat langka. Buku ini ditulis oleh seorang professor MIT Sloan berdasarkan riset dan wawancara dengan sejumlah pelaku bisnis sukses. Buku ini pun telah menjadi modul pendidikan eksekutif di MIT Sloan sehingga kualitasnya tidak diragukan lagi.

Buku ini mengambil model storytelling yang beraneka ragam yang ujungnya dikaitkan dengan kemampuan mengajukan pertanyaan. Penulis buku ini, yang juga mengajar Leadership and The Lens, memaparkan pelajaran fotografi yang dapat diaplikasikan untuk meningkatkan kemampuan bertanya. Kerangka “compose and wait” berasal dari kelas fotografi yang diaplikasikan pada kepemimpinan.

Sebagai penutup, marilah kita merenungkan betapa dalamnya arti kata-kata berikut ini. “Pada saat kita telah mampu menanyakan pertanyaan yang relevan, tepat, dan substansial, kita telah belajar caranya belajar dan tidak ada yang dapat menahan kita dari belajar apa pun”.

Edison Lestari 

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)