Menang di Dahsyatnya Perubahan

What Matters Now

Judul : What Matters Now: How to Win in A World of Relentless Change, Ferocious Competition and Unstoppable Innovation

Penulis : Gary Hamel

Penerbit : Jossey-Bass (1 Februari 2012)

Tebal : 304 halaman

ISBN : 978-1118120828

Harga : US$ 26,95

Awal tahun ini, Gary Hamel, salah satu pemikir bisnis dan manajemen paling berpengaruh di dunia, kembali mengungkapkan pandangannya mengenai kondisi bisnis saat ini yang menurutnya telah menuju ke arah yang mengkhawatirkan. Ada beberapa pertanda yang membuat Hamel sampai pada kesimpulannya tersebut, di antaranya rasa saling percaya (trust) yang semakin langka, kompetisi yang semakin ketat, hingga informasi yang berkembang begitu cepat dan liar. Hamel berpendapat, dibutuhkan analisis yang menyeluruh untuk menyusun strategi dalam menyikapi berbagai isu global tersebut.

Hamel menyebutkan ada lima isu penting (matter) yang mesti mendapatkan perhatian khusus dari para pelaku bisnis global saat ini. Isu penting tersebut adalah seperangkat nilai (value), inovasi, adaptabilitas, passion dan ideologi. Pengelolaan terhadap kelima isu inilah yang akan menentukan apakah sebuah organisasi dapat berkembang dengan cepat atau justru jatuh terjerembab dalam beberapa tahun ke depan.

Pada isu pertama, ditekankan pentingnya memiliki seperangkat nilai yang menjunjung etika dalam organisasi. Sudah menjadi rahasia umum jika raksasa korporasi saat ini termasuk dalam institusi yang tidak dapat dipercaya oleh masyarakat. Karena itu, seorang pemimpin seharusnya menyadari pentingnya memberikan pelayanan (stewardship) yang baik kepada seluruh pemangku kepentingan, dan tidak hanya kepada para pemegang saham. Ada lima tolok ukur pelayanan yang baik dari seorang pemimpin, yaitu: memiliki trust, murah hati, bijaksana, transparan, dan adil (halaman 4). Kelima tolok ukur kepemimpinan inilah yang dirasa mulai hilang paling tidak dalam satu dasawarsa terakhir. Ini dapat dilihat seperti pada skandal Enron, kebangkrutan Lehman Brothers, hingga kasus penyadapan telepon yang dilakukan oleh News of the World. Semua kasus tersebut bermula dari perilaku moral yang buruk, sehingga pemimpin dengan standar etika yang tinggi adalah sebuah keharusan.

Isu penting kedua adalah inovasi. Mengapa inovasi menjadi sangat relevan saat ini? Masalah yang dihadapi manusia kini sangat kompleks sehingga membutuhkan solusi yang tidak hanya baru, melainkan juga radikal dan menyeluruh (halaman 43). Menariknya, Hamel memiliki kriteria tersendiri dalam memilah berbagai tipe organisasi yang inovatif. Tipe pertama adalah roket. Sesuai dengan namanya, ini adalah perusahaan baru yang langsung melejit karena memiliki model bisnis yang radikal, tidak biasa. Contoh terkininya adalah Hulu, layanan program televisi online, dan yang paling fresh, Spotify, jasa streaming musik melalui Internet. Tipe inovator kedua adalah Laureates, perusahaan yang terus berinovasi dalam jangka waktu yang telah cukup lama dan umumnya di sektor teknologi, seperti Microsoft, GE, dan Intel. Tipe ketiga Artistes, perusahaan yang bermain di ceruk kreatif yang spesifik. IDEO dan BMW Design-Works ada di kategori ini. Berikutnya Cyborgs, perusahaan yang tampaknya didirikan untuk mencapai tujuan yang tidak pernah dibayangkan oleh manusia sebelumnya. Dapat ditebak, Google, Apple dan Amazon merupakan raksasa teknologi yang ada di kategori Cyborgs. Tipe terakhir Born-Again, perusahaan yang sukses melalui masa yang jatuh bangun berkali-kali. P&G, IBM dan Ford merupakan contoh paling menonjol di kategori ini.

Adaptabilitas merupakan isu ketiga yang paling penting karena dunia berubah begitu cepat saat ini. Dalam bisnis telepon seluler misalnya, pada 1983 Motorola masih merajai pasar dengan produk DynaTac-nya. Satu dekade kemudian giliran Nokia yang memimpin pasar berkat berbagai model telepon candy-bar miliknya. Tahun 2002 demam BlackBerry melanda dunia, hingga akhirnya mulai tahun 2007 Apple menggebrak melalui iPhone-nya. Perubahan berlangsung begitu cepat dengan siklus perubahan yang semakin singkat. Perusahaan yang adaptif adalah perusahaan yang jeli melihat peluang sekaligus bersikap proaktif dalam merespons kebutuhan konsumen (halaman 89).

Isu yang keempat sangat menarik karena banyak dibahas dalam berbagai diskusi bisnis dan manajemen akhir-akhir ini, yaitu pentingnya passion. Hamel memiliki hipotesis bahwa sinisme dan sikap yang pasif merupakan penyakit berbahaya dalam organisasi. Hipotesis kedua bahwa perusahaan yang memiliki tingkat keterikatan (engagement) yang tinggi akan memiliki performa finansial superior. Kedua hipotesis ini menegaskan pentingnya peran passion saat ini. Bagi Hamel, passion merupakan puncak tertinggi dari kapabilitas seorang manusia ketika bekerja, bahkan lebih tinggi dari kreativitas (halaman 141). Hamel menyarankan untuk membuat community of passion di tempat kerja dengan cara memberikan penghargaan atas ide dan kontribusi setiap anggota, menempatkan fungsi pemimpin untuk melayani dan bukan memerintah, serta membangun hierarki dari bawah dan bukan dari atas.

Isu terakhir yang relevan saat ini merupakan topik yang baru di ranah manajemen, yaitu ideologi. Inti dari ideologi manajemen terletak pada keseimbangan antara organisasi yang ingin menerapkan fungsi kontrol yang birokratis dengan keinginan individu di dalamnya untuk memiliki kebebasan. Bagaimana caranya? Hamel mengusulkan diberlakukannya sistem manajemen diri (self-management). Sistem self-management berlaku dengan menjadikan misi pribadi sebagai pemimpin setiap individu sehingga setiap individu bertanggung jawab atas misi pribadi yang tengah diembannya. Sistem ini menekankan pada pemberdayaan individu, dan bukan melalui hierarki yang kaku. Maka, dibutuhkan target yang jelas dan transparansi data sehingga setiap individu tahu misi pribadi yang harus diselesaikannya. Meskipun masih menimbulkan kontroversi karena dibutuhkan komitmen yang kuat dan kedewasaan dari setiap individu agar sistem ini dapat berjalan, Hamel meyakini bahwa inilah ideologi manajemen yang paling tepat digunakan sekarang.

Kondisi dunia yang tidak menentu kini memang menjadi perhatian khusus para pemikir bisnis dan manajemen terkemuka di dunia. Tak kurang dari Jim Collins, Teresa Amabile, Kouzes dan Posner, hingga Jeffrey Sachs tergerak langsung menyumbangkan gagasannya untuk membuat kondisi dunia yang lebih baik. Agar dapat bertahan di tengah perubahan, ada sebuah benang merah yang menjadi kesimpulan para pemikir terkemuka tersebut. Hamel menyebutnya sebagai seperangkat nilai, value. Dalam istilah lain, Amabile dan Collins menyebutnya sebagai prinsip (principle), atau kredibilitas (credibility) menurut versi Kouzes dan Posner, serta kebajikan (virtue) menurut Sachs. Mereka semua juga menyebutkan pentingnya etika dan trust sebagai nilai yang paling utama. Apa artinya? Para pemikir tersebut sudah mengingatkan, tetapi kini semuanya tergantung kita, apakah kita terus berpegang teguh untuk menjaga trust, atau membiarkan kita lengah dan hilang tergerus oleh perkembangan zaman.

YUDO ANGGORO

Staf Pengajar SBM ITB, kandidat doktor Kebijakan Publik di University of North Carolina, Charlotte, Amerika Serikat.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)