Menciptakan Rasa Aman dalam Organisasi

Berbagai kemajuan yang kita nikmati bersama saat ini merupakan hasil dari munculnya berbagai ide yang berkembang di masa lalu. Segala ide yang muncul itu telah menciptakan beragam teknologi dan cara hidup baru yang menjadikan hidup kita lebih mudah dan nyaman. Manusia dikaruniai kemampuan menciptakan ide-ide baru dalam rangka memecahkan berbagai masalah yang mereka hadapi. Ide ini kemudian berkembang menjadi berbagai inovasi yang memengaruhi kehidupan kita dewasa ini.

Judul : The Fearless Organization: Creating Psychological Safety in the Workplace for Learning, Innovation and Growth

Penulis : Amy C. Edmondson

Penerbit : John Wiley & Sons

Cetakan : Pertama, January 2019

Tebal : xxi + 233 halaman

Dalam dunia yang berubah sangat cepat dan kehidupan yang semakin kompleks seperti saat ini, munculnya berbagai ide baru semakin diharapkan untuk memecahkan segala masalah yang dihadapi. Karenanya, ide baru harus semakin banyak dan lebih sering kemunculannya.

Dalam kondisi perubahan yang cepat ini, berbagai ide baru harus dapat dikemukakan dengan cepat, tepat, dan bebas. Dalam kondisi seperti ini, tidak mungkin lagi mengandalkan pemecahan solusi hanya dari pimpinan. Masalah yang dihadapi sudah terlalu besar dan kompleks. Perlu keterlibatan semua pihak untuk menelurkan berbagai ide baru. Maka, organisasi perlu menciptakan suatu lingkungan yang dapat merangsang munculnya berbagai ide baru dengan mudah dan cepat.

Di dalam organisasi harus diciptakan suasana yang kondusif bagi munculnya ide baru. Suasana kondusif ini dimulai dengan adanya rasa aman, bebas dari rasa takut dari semua orang yang berada di organisasi untuk mengemukakan ide, pendapat, atau kritik tentang berbagai hal terkait kepentingan organisasi. Maka, tidaklah aneh jika tata letak kantor Google yang terkenal itu dibuat sangat nyaman dan rileks. Itu dengan maksud agar ide-ide kreatif mudah tumbuh dan berkembang. Suasana aman dan nyaman akan memudahkan munculnya berbagai ide baru. Di masa kini kemajuan dan kelangsungan hidup organisasi sangat tergantung pada munculnya ide baru.

Memiliki sumber daya manusia yang terampil, berpengetahuan, berpengalaman, dan berwawasan luas menjadi tidak berarti jika manusia tersebut takut, tidak mau, atau tidak bisa mengemukakan idenya dengan bebas. Orang takut mengemukakan pendapat biasanya karena takut salah atau takut menanggung risiko atas kesalahan yang terjadi.

Tanpa adanya rasa aman untuk mengemukakan pendapat, segala kelebihan yang dimilikinya tidak memberikan kontribusi apa pun bagi organisasi. Mereka sebenarnya bukannya tidak memiliki ide untuk memecahkan masalah yang dihadapi, melainkan takut atau enggan mengemukakan idenya itu. Sebagian besar karyawan cenderung main aman saja. Berbagi ide, pengalaman, dan pengetahuan tidak dapat dilakukan dengan leluasa di dalam organisasi yang lingkungannya dirasa tidak aman dan nyaman.

Dalam banyak kasus, ketakutan untuk menyampaikan ide bisa berujung pada terjadinya bencana. Banyak kegagalan atau bencana yang dapat dihindari jika banyak pihak dapat leluasa menyampaikan idenya dan pimpinan mau mendengar masukan atau ide yang bermunculan.

Inti yang dibahas dalam buku ini adalah bahwa di dalam organisasi harus dapat diciptakan keamanan psikologis (psychological safety) agar karyawan bisa bebas mengemukakan pendapat atau kritik dan pimpinan mau mendengar berbagai pendapat atau ide yang dilontarkan karyawan. Organisasi harus menjadi sebuah organisasi yang tidak mengenal rasa takut (fearless organization), dan meminimalkan ketakutan karyawan untuk berpendapat, sehingga kerja kreatif organisasi dapat dimaksimalkan.

Adanya keamanan psikologis mampu menjamin karyawan bahwa jika dia menyampaikan pendapat, tidak akan ada hukuman, baik dari atasan maupun dari sesama karyawan. Rasa takut akan membuat karyawan tidak bisa memberikan kontribusi yang optimal bagi perusahaan, tidak bisa belajar dan tumbuh, serta tidak bisa menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai pihak dalam organisasi tersebut.

Sepandai apa pun seorang karyawan, dia tidak akan dapat mengemukakan gagasan yang brilian jika di dalam dirinya masih diliputi berbagai rasa takut dan kekhawatiran. Karenanya, pimpinan saat ini harus mampu menghilangkan rasa takut di dalam organisasinya untuk dapat menciptakan kondisi yang kondusif bagi pembelajaran, inovasi, dan pertumbuhan yang sangat diperlukan saat ini.

Tanpa adanya keamanan psikologis, akan sangat sulit bagi suatu keahlian atau kecerdikan tertentu untuk dapat berkembang dengan baik. Ketika orang merasa secara psikologis aman untuk menyampaikan wawasan, pendapat, dan saran, pengetahuan yang berkembang di organisasi tersebut akan meningkat secara berlipat ganda. Ini karena pengamatan dan saran yang berasal dari berbagai individu yang berada di organisasi tersebut akan dapat memperkuat satu sama lain, memunculkan suatu hal yang baru dan menciptakan nilai baru, khususnya jika dibandingkan dengan ketika pendapat individu tersebut hanya disimpan di dalam diri atau kelompoknya.

Dalam praktiknya, masih banyak organisasi yang malah menebarkan rasa takut di antara karyawan. Di dunia yang semakin cepat berubah dan kompleks seperti saat ini, hal itu sudah tidak bisa dilakukan. Permasalahan telah sedemikian kompleksnya dan kait-mengait dengan banyak hal lain yang tidak bisa dilihat dengan jelas. Dalam kondisi seperti ini, organisasi harus mampu menyerap berbagai ide dari banyak pihak. Organisasi harus mampu belajar dan bekerjasama dengan banyak pihak lain untuk menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya.

Salah satu hal yang perlu dilakukan dalam tahap awal ialah menumbuhkan keyakinan dan keberanian bahwa apa yang akan disampaikan cukup penting bagi organisasi. Bahkan, bisa menentukan hidup-mati suatu organisasi. Ketika orang yakin bahwa apa yang akan disampaikannya merupakan hal penting bagi organisasi, pelanggan, ataupun diri mereka sendiri, mereka akan memiliki keberanian yang lebih besar untuk mengambil risiko dalam mengemukakan pendapat.

Pimpinan sering menganggap bahwa jika tidak ada kritik dari karyawan, berarti organisasi telah berjalan dengan baik. Padahal, yang terjadi sering tidak demikian. Tidak ada kritik karena orang takut menyampaikan kritik atau kabar buruk. Jika itu dibiarkan, organisasi bisa jatuh, karena kesalahan yang terjadi sudah berada pada tingkat yang tidak dapat diperbaiki lagi. Tidak ada yang berani melakukan koreksi ketika melihat sesuatu yang salah atau tidak biasa terjadi di dalam organisasi.

Banyak pimpinan perusahaan yang mengelola organisasi dengan menumbuhkan rasa takut dan melakukan intimidasi. Dengan cara ini, mungkin tujuan tercapai dengan cepat dan memang hal itu sering terlihat lebih efektif. Namun, hal itu tidaklah efektif untuk memastikan bahwa orang telah melakukan sesuatu yang membawa kreativitas, proses yang baik, dan kegairahan yang dibutuhkan untuk mewujudkan sesuatu.

Dalam banyak kasus, sesuatu yang baik sering harus dicapai melalui proses yang menemui kegagalan berkali-kali. Jika orang takut gagal, dikhawatirkan mereka tidak akan mencapai tujuan yang diharapkan dengan baik. Ketakutan ini menyebabkan terjadinya kekakuan (inertia) bagi organisasi untuk berubah. Takut menghadapi perubahan dan takut membuat perubahan. Organisasi menjadi tidak fleksibel dan adaptif lagi dengan tuntutan perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Organisasi harus dapat menciptakan dan memelihara rasa aman secara psikologis di dalam dirinya. Ini untuk memastikan bahwa semua sumber daya di dalam organisasi dapat digunakan untuk belajar, berinovasi, dan tumbuh.

Keamanan psikologis tidak dapat tumbuh dengan sendirinya dalam organisasi. Ini merupakan sesuatu yang harus dihadirkan dan dipelihara oleh pimpinan organisasi agar tidak lekas hilang. Jangan takut gagal, karena kegagalan merupakan guru terbaik bagi kita, asal kita bersedia belajar dari kegagalan yang telah terjadi. Unit yang berhasil bukanlah unit yang tidak pernah mengalami kegagalan, melainkan unit yang mampu belajar dari kegagalan yang terjadi, mampu memperbaiki kesalahan yang telah menciptakan kegagalan.

Keamanan psikologis merupakan dasar pembelajaran organisasi. Organisasi harus selalu berusaha untuk dapat terus relevan lewat pembelajaran yang berkelanjutan dan mampu mengeksekusi keputusan dengan cerdas. Ini dapat terjadi dengan menciptakan lingkungan organisasi yang tanpa ketakutan dan mendorong para pihak untuk mengemukakan segala pikiran, kritik, dan pendapatnya dengan baik.

Penelitian menunjukkan bahwa keamanan psikologis berada dalam tingkatan rendah di negara yang jarak kekuasaannya (power distance) tinggi seperti di Indonesia. Hierarki antara pimpinan dan bawahan relatif tinggi. Dalam lingkungan seperti ini, orang cenderung sungkan untuk mengemukakan pendapat atau mengkritik atasan.

Budaya seperti ini bisa menghambat terjadinya penyampaian pendapat yang bebas. Budaya kolektif cenderung membuat segala ide, pendapat, atau kritik tidak dapat keluar dengan cepat dan mudah. Ini merupakan tantangan yang harus kita hadapi bersama agar organisasi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di tengah gelombang perubahan yang tidak bisa dihentikan saat ini.

Eko Widodo

*) Peresensi adalah Staf Pengajar Program Studi Magister Administrasi Bisnis, Unika Atma Jaya, Jakarta.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)