Mengembangkan Daya Tahan untuk Meraih Sukses

Judul               : Stronger: Develop the Resilience You Need to Succeed

Penulis             : George S. Everly Jr., Douglas A. Strouse, dan Dennis K. McCormack

Penerbit           : Amacom, 2015

Tebal               : 240 hlm.

 

Mengapa banyak orang – termasuk pengusaha, atlet dan mahasiswa – yang memiliki talenta luar biasa tetapi gagal mencapai prestasi terbesarnya karena terbentur performance anxiety, kecapekan ataupun di bawah tekanan? Pada saat bersamaan, mengapa banyak orang yang mengalami tekanan yang sama atau bahkan lebih besar bisa berhasil mengatasinya dan mencapai kemenangan di bibir kegagalan?Buku_Stronger

Buku ini mengatakan, faktor pembedanya adalah ketahanan pribadi (personal resilience). Mereka yang sukses di bawah tekanan memiliki dan memanfaatkan ketahanan pribadi sebagai keunggulan bersaing. Ketahanan pribadi didefinisikan sebagai kemampuan untuk kembali, secara berulang kali, sampai tujuan kita tercapai atau menemukan tujuan baru yang lebih produktif. Bukti ilmiah menunjukkan, manusia mampu bukan sekadar balik dari trauma dan kegagalan, tetapi juga tumbuh lebih baik. Berita baiknya, ketahanan pribadi dapat dipelajari siapa pun di usia berapa pun.

Buku ini ditulis berdasarkan analisis ilmiah, tinjauan sejarah dan observasi penulis buku ini dengan latar belakang klinis, bisnis dan tentara Navy Seal. Singkat kata, buku ini memberikan lima faktor untuk membentuk ketahanan pribadi: optimisme aktif, tindakan berani (decisive action), panduan moral, keuletan tanpa henti, dan dukungan antarpribadi (interpersonal support).

Optimisme terbagi menjadi dua, yaitu aktif dan pasif. Optimisme pasif hanya mengharapkan yang terbaik, tetapi optimisme aktif bertindak secara aktif untuk membentuk masa depan. Dengan perkataan lain, optimisme aktif berarti kepercayaan bahwa kita memiliki kemampuan untuk bertindak dengan cara yang berarti untuk membuat perubahan.

Ketahanan bukan sekadar faktor psikologi, tetapi juga faktor biologi. Faktor utama dalam mengembangkan ketahanan secara biologis adalah melatih tubuh untuk meregulasi fisiologi dan menerjemahkan pengalaman sehingga aktivasi akan meningkatkan kinerja. Rasa optimisme akan mengubah fisiologi tubuh karena meningkatkan hormon adrenalin, noradrenalin, asam gamma-aminobutirat, neuropeptide Y dan kortisol. Peningkatan hormon ini akan menaikkan tingkat toleransi kita terhadap rasa sakit dan meningkatkan kesadaran kita sehingga kita akan menjadi lebih tangguh.

Optimisme aktif dapat dilatih dengan beberapa cara. Dapatkan kesuksesan sedikit demi sedikit untuk membangun rasa percaya diri. Amati orang lain yang sukses dan yakin kalau mereka bisa, Anda juga pasti bisa. Dapatkan coaching dan dukungan. Miliki rasa kontrol diri (miliki rasa tenang, jauhi kesenangan sesaat, dan kontrol kebutuhan sesaat).

Rasa optimisme semata tidak akan menyelesaikan persoalan. Kita juga membutuhkan tindakan berani. Untuk kembali dari kegagalan, kita harus berani mengambil keputusan dan bertindak. Manusia menghargai tindakan berani. Rasa hormat ini akan membangun hallo effect: manusia cenderung bias secara positif terhadap mereka yang berani mengambil keputusan dengan berani.

Bertindak cepat dan berani sesudah mengalami kegagalan terbukti memberikan manfaat untuk mengurangi stres dan membantu bangkit kembali. Sesudah mengalami kegagalan, kita harus melawan rasa penolakan psikologis dan paralisis dengan mengambil tindakan dan mendapatkan kekuatan dengan mengidentifikasi dan secara aktif mengejar tujuan baru.

Bukti klinis menunjukkan bahwa semakin lama orang yang mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) mendapatkan penyembuhan, semakin sulit proses penyembuhannya.

Apa yang dikatakan filsuf Friedrich Nietzche “What does not kill me makes me stronger” ternyata benar adanya. Pertumbuhan transformatif atau pertumbuhan pascatraumatis merupakan frasa yang dipakai untuk menggambarkan tipe yang tidak hanya kembali ke garis belakang sebelumnya, tetapi juga peningkatan sesudah mengalami sebuah kemunduran.

Dari pengalaman mereka, terdapat tujuh hambatan untuk mengambil keputusan dan tanggung jawab: takut gagal, takau ditertawakan, penundaan, kegagalan dalam komunikasi, keinginan untuk menyenangkan semua orang, kebingungan karena besarnya tantangan dan data, serta kehilangan pandangan jangka panjang.

Al Neuharth berhasil membangun koran USA Today sesudah gagal membangun koran di Dakota Selatan. Walaupun pernah mengalami kegagalan dalam operasi kembar di Afrika Selatan pada 1994 dan pasiennya meninggal, Dr. Ben Carson tetap memiliki keberanian melakukan operasi kembar berikutnya yang lebih sulit. Dr. Ben Carson mengatakan bahwa rasa optimisme saja tidak cukup. Kita juga harus memiliki keberanian untuk bertindak.

Yang ketiga adalah kompas moral. Penulis buku ini mengatakan, kita akan lebih mudah bangkit dari kegagalan apabila kita memiliki kompas moral sebagai lampu penuntun. Dalam masa kegelapan, kita cenderung tergoda untuk membengkokkan aturan, memanfaatkan orang lain, atau bahkan menipu. Dengan demikian, kita harus memiliki kompas moral ketika gagal agar bisa kembali bangkit. Kompas moral yang harus kita miliki di masa gelap adalah kejujuran, integritas, kesetiaan dan etika.

Walaupun tidak dilihat oleh juri, Brian Davis mengakui kesalahannya dan meminta videonya diputar dalam pertandingan golf 18 April 2010 yang mengakibatkan kekalahannya dalam PGA Tour dengan hadiah US$ 1,02 juta. Sebaliknya, Lance Armstrong selalu berkilah dan mencari pembenaran dalam kasus doping-nya.

Dengan memiliki optimisme aktif, tindakan berani dan kompas moral, kita harus memiliki persistensi. Pada saat bersamaan, kita juga harus sadar kapan waktunya move on. Kita harus berani pindah haluan apabila usaha berkelanjutan tersebut telah menjadi liabilitas daripada aset atau ketika usaha dan sumber daya tersebut akan lebih baik bila dialokasikan ke tempat lain.

Yang terakhir adalah memiliki kelompok yang mendukung. Riset membuktikan, kelompok yang kohesif secara sosial dan suportif cenderung menjadi lebih kuat dan lebih berdaya tahan. Riset membuktikan bahwa keterkaitan personal memberikan perlindungan terhadap kematian, penyakit jantung, penurunan imun dan stres. Riset terhadap 308.000 pasien menunjukkan, orang dengan hubungan sosial yang lebih kuat memiliki kemungkinan 50% lebih besar untuk bertahan hidup daripada mereka yang memiliki hubungan sosial yang lemah. Interpersonal support memiliki kekuatan dua sampai tiga kali lipat lebih besar sebagai prediktor untuk keberlangsungan hidup daripada diet, olahraga ataupun berhenti merokok.

Penulis buku ini memakai pendekatan Abert Bandura tentang self-efficacy untuk menguasai lima faktor ketahanan di atas. Self-efficacy adalah kepercayaan seseorang pada kemampuannya untuk menyelesaikan tugas tertentu atau sukses dalam situasi tertentu. Self-efficacy dapat dilakukan dengan experience (melakukannya sehingga sukses memberikan rasa percaya diri), modelling (mengamati role model yang berdaya tahan), persuasi sosial (dukungan dari orang lain), dan kontrol diri (mempertahankannya dalam keadaan tertekan).

Buku ini sangat mudah dibaca dan memberikan inspirasi. Buku ini penuh dengan studi kasus. Dari studi kasus bisnis seperti BP Deepwater Horizon, atlet seperti Lance Amstrong, dokter seperti Dr. Ben Cohen, hingga pasukan elite Navy Seal.

Setiap bab juga dilengkapi dengan self-assessment yang bukan merupakan alat diagnosis klinis melainkan survei yang didesain untuk memotivasi kita untuk memikirkan sikap dan pendekatan kita.

Pepatah Amerika mengatakan “Hari esok adalah hari pertama dari sisa hidup Anda. Dan itu adalah hadiah”. Dengan ketahanan pribadi, kita pasti akan bisa mengatasi apa pun. Semoga buku ini memberikan inspirasi dan semangat sebagaimana etos Navy Seal, “Dalam situasi terburuk sekalipun, saya tidak akan gagal.”(*)

Oleh: Edison Lestari

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)