Menghilangkan Kebiasaan Buruk dalam Organisasi

Judul : Breaking Bad Habits: Defy Industry Norms and

Reinvigorate Your Business

Pengarang : Freek Vermeulen

Penerbit : Harvard Business Review Press

Cetakan : Pertama, Februari, 2018

Tebal : vii + 251 halaman

Berorganisasi dengan baik merupakan kemampuan utama yang dimiliki mahkluk manusia. Kemampuan inilah yang menjadikan manusia bisa lebih unggul dibandingkan makhluk lain. Peran organisasi dalam segala aspek kehidupan manusia telah menjadi begitu dominan. Segala yang kita gunakan merupakan hasil kerja organisasi. Hampir tidak ada lagi sesuatu yang kita pakai sekarang merupakan produk seorang individu saja. Dengan berorganisasi, manusia telah mencapai dan menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa yang tak mungkin dicapai jika hal itu dilakukan seorang diri.

Namun, buku ini memberikan peringatan tegas bahwa dengan segala kehebatannya, tak menutup kemungkinan organisasi juga sarat berbagai praktik dan kebiasaan buruk, tidak efisien, atau terlalu birokratis. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa merusak atau mematikan organisasi itu sendiri. Kebiasaan buruk ini bisa diibaratkan sebagai suatu penyakit turun-menurun dalam suatu organisasi; sering sulit diidentifikasi karena telah mendarah daging selama bertahun-tahun. Bahkan, kita sendiri terkadang tak menyadari kehadiran dan keberadaannya. Seperti halnya sebuah virus, mereka sulit hilang dan secara pelan tetapi pasti menyebar ke seluruh bagian organisasi sampai organisasi itu akhirnya mati karena keberadaan virus tersebut di dalam tubuhnya. Ini membawa kesadaran bahwa apa yang dianggap baik bagi organisasi belum tentu baik bagi para anggotanya, atau sebaliknya. Organisasi telah berubah menjadi entitas tersendiri yang mampu berinteraksi satu sama lain, saling bertukar pengetahuan, inovasi, cara operasi, serta saling belajar dengan beragam cara. Apa yang telah diketahui kemudian ditularkan ke generasi berikut atau organisasi yang lain. Dengan cara seperti inilah manusia meraih kemajuan dan masyarakat menjadi semakin maju dan sejahtera.

Contoh utama yang secara detail dibahas dalam buku ini adalah praktik atau kebiasaan buruk yang terjadi di klinik kesuburan di Inggris yang tak disadari para anggotanya. Pada umumnya, tingkat keberhasilan klinik kesuburan diukur dari berapa persen pasangan yang datang ke klinik tersebut dan menghasilkan keturunan. Hal ini membuat beberapa klinik “memilih” pasien yang tingkat kesuburannya tinggi saja dan cenderung menolak atau membatasi pasien berusia lanjut karena potensi kesuburannya rendah. Karena hanya menangani pasien yang usianya subur, walaupun kinerjanya terlihat bagus, klinik tersebut sebenarnya tidak benar-benar ahli menangani masalah kesuburan. Tak mengherankan, klinik ini kemudian dianggap berkinerja baik, tetapi berdiri di atas fondasi yang rapuh. Kondisi ini menjadi kebiasaan yang berlangsung lama dan mulai ditiru klinik lain. Akibatnya, klinik-klinik yang ada tidak pernah belajar bagaimana menangani pasien yang sulit meskipun ukuran kinerjanya terlihat baik. Ini salah satu contoh kebiasaan buruk yang harus dihilangkan karena berpotensi merusak kinerja organisasi dalam jangka panjang dan tidak membuat organisasi itu berkembang menjadi lebih baik.

Banyak penelitian mengungkapkan, banyak organisasi cenderung meniru tindakan perusahaan atau organisasi lain yang dipandang telah berhasil. Kita sebagai manusia terkadang belum bisa lepas dari sifat-sifat kebinatangan. Binatang sering hanya meniru perilaku pendahulunya selama bertahun-tahun tanpa pernah tahu apa alasan sebenarnya melakukan hal itu. Padahal, peniruan ini belum tentu sesuai dengan situasi dan kondisi spesifik yang dihadapi organisasi saat ini.

Meniru apa yang dilakukan perusahaan lain tanpa memperhatikan situasi dan kondisi lokal yang dihadapi adalah awal terjadinya kebiasaan buruk yang seharusnya dapat dihindari. Terlebih, sering perusahaan meniru langkah perusahaan lain hanya untuk memecahkan masalah yang sifatnya jangka pendek. Itu terjadi karena organisasi kerap tak mampu melihat konsekuensi jangka panjang atas pilihannya. Dampak jangka panjang suatu proses organisasi biasanya bersifat abu-abu dan abstrak, sementara manfaat jangka pendek selalu kelihatan lebih jelas dan hasilnya dapat segera dirasakan. Ini godaan bagi organisasi untuk lebih mengedepankan solusi jangka pendek daripada jangka panjang. Hal-hal yang menyangkut masalah pembelajaran (learning), tacit knowledge, dan pola-pola komunikasi umumnya sulit dipahami, perlu proses dan waktu lama agar dapat diimplementasikan dengan baik. Ini kerap dinilai kurang praktis sehingga para manajer cenderung menghindarinya dan lebih suka hal-hal yang sifatnya jangka pendek karena hasilnya nyata dan dapat langsung dirasakan.

Penting disadari, langkah mengidentifikasi kemudian berupaya menghilangkan kebiasaan buruk dalam organisasi sehingga dapat menciptakan sumber-sumber inovasi baru. Manajer perlu menciptakan organisasi yang secara berkelanjutan mengevaluasi dan memperbarui diri sendiri, sehingga organisasi mampu menciptakan tanah yang subur bagi berkembangnya inovasi. Organisasi harus mampu menciptakan produk, proses, dan jenis layanan baru serta mendobrak kemapanan, dapat menciptakan obat untuk menangkal keengganan organisasi untuk berubah (inertia). Melakukan inovasi dengan mehilangkan segala kebiasan buruk lebih mudah dilakukan dan tanpa menimbulkan luka mendalam, efisien dan tidak mahal. Ini karena inovasi yang berasal dari dalam muncul setelah kita menyadari segala kesalahan akibat kebiasaan buruk yang mandarah daging dalam organisasi.

Di sini tidak ada satu cara mujarab untuk mendorong inovasi yang berkelanjutan. Namun, setidaknya penulis buku ini menawarkan empat hal yang bisa dilakukan untuk mendorong inovasi. Pertama, mendorong terjadinya perubahan, jangan menunggu terjadinya perubahan secara pasif. Jangan pula menunggu terjadinya suatu masalah atau penurunan kinerja, baru dilakukan suatu perubahan; harus secara aktif membuat perubahan.

Kedua, berani melakukan sesuatu yang baru, walau itu berarti meninggalkan zona nyaman. Kasus yang sulit jangan mudah dihindari atau ditinggalkan karena merupakan pembelajaran. Kehadiran suatu masalah justru pintu masuk bagi terjadinya inovasi. Hal yang rutin atau mudah, sesuatu yang berjalan sebagaimana mestinya, belum tentu baik. Kita cenderung tak pernah mempertanyakan hal-hal yang telah kita lakukan secara rutin.

Ketiga, harus menyeimbangkan antara kepentingan jangka panjang dan jangka pendek. Juga, harus memiliki keseimbangan antara mempertahankan keunggulan kompetitif yang telah dimiliki dan mencari hal-hal baru yang akan dapat digunakan sebagai dasar keunggulan kompetitif perusahaan di masa mendatang.

Keempat, untuk menciptakan berbagai cara dalam melakukan sesuatu, organisasi memerlukan berbagai variasi, baik dalam hal proses, orang, gagasan, maupun teknologi yang digunakan. Inovasi harus bersifat terbuka, yang membuka kemungkinan bagi pihak luar untuk turut serta mengembangkan inovasi yang ada.

Sebagai manusia, kita tentunya juga memiliki suatu kesadaran, akal sehat, dan kemampuan tertentu untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang mengganggu ini. Buku ini memberikan penekanan bahwa suatu inovasi tidak perlu merupakan sesuatu yang baru dan cemerlang, cukup jika kita berhasil menghentikan kebiasaan buruk yang terjadi di dalam organisasi selama ini, itu akan menghasilkan inovasi berharga yang akan membawa perkembangan organisasi ke arah yang lebih baik.

Eko Widodo

Dosen Program Studi Magister Administrasi Bisnis Unika Atma Jaya, Jakarta

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!