Model Bisnis Baru di Dunia Digital

New Business Model in Digital Age adalah buku baru karya Sawidji Widoatmodjo, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara Jakarta. Sebelumnya, dosen yang juga berprofesi sebagai wartawan dan periset tersebut berhasil menulis buku best seller bertajuk Professional Investing dan Cara Gampang Cari Duit dari Rumah.

"Mengapa saya menulis buku ini? Ketika tahun 90 an, saya terkesima dengan pertumbuhan AS saat itu, tumbuh dengan pesat, namun tanpa disertai inflasi. Saat itu yang saya tahu, namanya pertumbuhan ekonomi pasti diikuti dengan inflasi. Ternyata saya salah. Pertumbuhan ekonomi bisa tidak disertai inflasi jika disertai dengan produktivitas pasar yang tinggi," ujar Sawidji yang memaparkan mengenai alasannya di balik penulisan buku ini, di Jakarta (2/5).

New Business Model in Digital Age

Sawidji juga mengaku bahwa sebagian besar materi dari buku yang ditulisnya itu bersumber dari editorial yang dia tulis untuk sebuah majalah bisnis. Editorial yang terbit setiap minggu itu lalu digabungkan dengan literatur-literatur lain yang tersebar di berbagai media. Khas akademisi, tulisan-tulisan tersebut lantas ia kaji dengan perspektif teori maka lahirlah buku menarik ini.

Buku ini secara garis besar membahas berubahnya perilaku masyarakat dunia modern dan bagaimana kalangan wirausaha dan pebisnis seharusnya bereaksi terhadap kondisi ini.

"Tentunya  10 tahun yang lalu belum terbayangkan oleh kita untuk dapat mengatur perjalanan bisnis ke luar negeri hanya melalui smartphone. Kemajuan seperti ini tidak hanya terjadi di sektor trip saja, kita bisa juga menemukan fenomena serupa di bidang jasa pengantaran barang maupun jasa antar-jemput. Apa yang menyebabkan perubahan drastis seperti ini? Internet," jelas Sawidji.

Salah satu saran menarik yang Sawidji tuliskan dalam bukunya adalah bagaimana seharusnya para insan yang memiliki niat berwirausaha dewasa ini bisa memanfaatkan internet untuk pengumpulan modal.

Ya, Sawidji berpendapat bahwa karena semakin banyak orang terkoneksi melalui internet, model bisnis crowdfunding bisa dilaksanakan dengan lebih efektif. "Model permodalan ini bisa menyediakan modal dalam bentuk saham, utang, atau malah sumbangan," jelasnya. Sedangkan untuk mendapatkan supply chain yang lebih efisien serta ide-ide segar, seorang wirausahawan atau perusahaan bisa memanfaatkan model bisnis crowdsourcing. Salah satu contoh adalah situs Threadless.com.

Bisnis online dari situs tersebut melakukan crowdsourcing atas proses desain t-shirt yang mereka produksi. Desain terbaik ditentukan oleh komunitas yang mereka produksi. Cara seperti ini memungkinkan Threadless.com tidak kehabisan ide untuk produksi barang-barang baru. Masih banyak model bisnis lain yang dibahas dalam buku ini dan bisa memberi inspirasi bagi pembacanya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)