Pahami Dimensi Waktu agar Lebih Produktif dan Bahagia

Judul : When, The Scientific of Perfect Timing

Penulis : Daniel Pink

Penerbit : Riverhead Book, 2018

Tebal : 268 halaman

Oleh: Edison Lestari

Time isn’t the main thing. It’s the only thing.

(Miles Davis)

Timing is everything! Kita tahu, waktu yang tepat sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Masalahnya, kita tidak pernah mengetahui waktu yang tepat: kapan waktu untuk berganti pekerjaan, kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan berita buruk, kapan untuk menikah, dan kapan sebaiknya bercerai. Apakah masalah “kapan” ini adalah seni ataukah ada science untuk mempelajarinya secara ilmiah?

Buku ini menjawab pertanyaan “kapan waktu paling tepat” tersebut dengan menyodorkan hasil riset dan fakta ilmiah untuk memberikan panduan sehingga kita dapat hidup dengan lebih cerdas dan lebih baik.

Michael Macy dan Scott Golder, dua profesor dari Cornell, mempelajari 500 juta tweet yang di-posting oleh 2,4 juta pengguna dari 48 negara dalam kurun waktu dua tahun. Hasilnya? Tweet yang positif akan naik pada pagi hari, kemudian menurun hingga sore hari, dan kemudian naik lagi di malam hari. Singkat kata, mood manusia menyerupai kurva U.

Tiga profesor yang lain menganalisis 26.000 earnings call dari 2.100 perusahaan publik selama 6,5 tahun. Hasilnya sama: earnings call di pagi hari lebih positif, sedangkan yang di sore hari lebih negatif dan kurang menggairahkan. Hasil riset tersebut akhirnya menyarankan, komunikasi dengan investor serta keputusan manajemen dan negosiasi sebaiknya dilakukan pagi hari.

Kita juga harus menyadari inspiration paradox yang menyatakan bahwa inovasi dan kreativitas terbaik adalah saat kita tidak berada di titik terbaik kita. Dengan demikian, aktivitas yang membutuhkan insight, misalnya kelas seni dan kreativitas, akan lebih optimal dilakukan sore hari.

Anders Ericson, pakar yang mempelajari para maestro, menemukan bahwa violist terkemuka di dunia mulai berlatih sekitar pukul 9 pagi sampai produktivitasnya menurun di siang hari, beristirahat di siang hari, kemudian berlatih kembali di sore hari.

DeskTime, perusahaan software produktivitas, menemukan bahwa high-performer bekerja selama 52 menit, kemudian istirahat 17 menit. Produktivitas manusia biasanya akan menurun 7 jam sesudah bangun tidur. Inilah waktu yang paling tepat untuk tidur siang sejenak. Buku ini menyarankan meminum kopi, lalu tidur selama 10 menit. Duet kombo ini akan memberikan kita double booster. Saat bangun tidur siang kita akan merasa lebih segar dan kafein mulai masuk ke aliran darah. Daniel Pink menyebut ini sebagai nappuccino.

Science tentang timing menunjukkan, waktu kita memulai sesuatu memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita duga. Efek waktu kita memulai sesuatu akan bertahan sampai akhir. Situasi ekonomi saat kita memasuki dunia kerja sangat memengaruhi jumlah total gaji kita dalam hidup kita. Orang yang memasuki dunia kerja saat ekonomi lemah akan mendapatkan gaji 2,5% kurang dari orang yang memasuki dunia kerja di saat ekonomi kuat.

Mid-life crisis merupakan hal nyata yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Pada 2010, empat ilmuwan termasuk pemenang Nobel Angus Deaton melakukan survei terhadap 340.000 interviewer untuk melihat tingkat kebahagiaan manusia di berbagai umur. Hasilnya, kurva yang menyerupai huruf U: orang yang berumur 20-an merasa bahagia, kemudian kebahagiaannya menurun sampai tingkat terendah di umur 50, lalu naik kembali seiring dengan usia. Bukan hanya manusia, ternyata riset pada 2012 terhadap mood dan kebahagiaan simpanse juga menunjukkan hal yang sama, yakni titik terendah kebahagiaan adalah saat primata tersebut berumur 30 tahun dari rata-rata umur maksimal sekitar 50 tahun. Untuk menyikapi ini, Warren Buffett menyarankan kita fokus pada lima prioritas untuk sisa hidup kita.

Titik tengah memang selalu kritis bukan hanya dalam kehidupan tetapi juga di game. Riset Jonah Berger dan Devin Pope terhadap 18.000 data NBA selama 15 tahun perihal dampak nilai tim terhadap kemungkinan menang memberikan insight yang menarik. Tim yang unggul di atas 6 angka di pertengahan memiliki 80% kemungkinan untuk menang, tetapi tim yang ketinggalan 1 angka memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menang!

Di titik tengah, ada kalanya kita akan merasa “How can I continue?”. Adam Grant, penulis buku laris Originals dan Give and Take, memberikan kiat untuk menanyakan “How can I help” saat kita berada di titik tengah sehingga kita akan memiliki motivasi untuk lanjut.

Titik tengah merupakan fakta dalam kehidupan dan merupakan hukum alam. Manfaatkan titik tengah ini dengan maksimal. Pakai titik tengah ini sebagai wake up call dan bayangkan di titik tengah ini kita ketinggalan tetapi hanya sedikit sehingga kita akan memiliki motivasi dan semangat untuk menang.

Bagaimana kita mengakhiri sesuatu akan sangat memengaruhi kesan kita terhadap pengalaman tersebut. Ini yang disebut peak-end rule. Riset Daniel Kahneman menemukan, pasien colonoscopy yang mengalami operasi yang lebih pendek tetapi lebih sakit di akhir mengatakan bahwa pengalaman itu lebih buruk daripada pasien yang dioperasi lebih lama tetapi lebih tidak sakit di akhir. Kita tidak melihat seberapa lama itu berlangsung tetapi lebih melihat bagaimana itu berakhir.

Mengakhiri hari dengan menulis apa yang sudah kita capai di hari tersebut akan memberikan perasaan positif.

Film terkenal biasanya tidak akan berakhir dengan happy ending semata dalam arti tradisional. Sebaliknya, film tersebut akan berakhir ketika pemain utama akhirnya mengerti kebenaran kompleks yang emosional. Itulah rahasia di balik suksesnya film Up, Cars, dan Toy Story. Riset membuktikan bahwa meaningful endings adalah campuran antara kebahagiaan dan kesedihan. Menambahkan elemen kesedihan ke dalam momen bahagia di akhir akan meningkatkan momen tersebut, bukan menguranginya. Akhiran terbaik bukanlah yang memberikan kita rasa senang tetapi memberikan kita sesuatu yang lebih, yakni insight yang tidak diharapkan bahwa meninggalkan apa yang kita inginkan akan memberi kita apa yang kita inginkan. Akhiran membuka takbir tentang apa yang kita mau, yaitu pada akhirnya kita mencari makna.

Riset Melanie Rudd, Kathleen Vohs, dan Jennifer Aaker menemukan pengalaman yang luar biasa (experience of awe), misalnya melihat Grand Canyon ataupun kelahiran anak akan mengubah persepsi kita akan waktu. Di saat tersebut, kita akan merasakan waktu melambat. “Pengalaman tersebut akan membawa kita merasakan present moment di mana kita akan mampu mengubah persepsi waktu, memengaruhi keputusan, dan juga merasakan hidup lebih memuaskan. Singkat kata, jalan menuju hidup yang bermakna bukan hanya live in the present semata, tetapi mengintegrasikan perspektif kita akan waktu terhadap keseluruhan secara koheren sehingga membantu kita mengerti siapa kita dan mengapa kita ada.

Sungguh sebuah buku sangat menarik yang membuka wawasan kita tentang waktu. Gaya bahasanya mengalir sangat indah sebagai cerita walaupun penuh dengan hasil riset berkelas dunia.

Kita tidak seharusnya mengabaikan kurva biologis dan psikologis, sebaliknya memanfaatkannya. Titik tengah, baik dalam permainan maupun dalam kehidupan, merupakan hal yang kritis untuk mengerti perilaku manusia dan bagaimana dunia bekerja. Titik akhir tidak seharusnya bahagia semata, tetapi juga mengandung rasa sedih, sehingga meningkatkan pengalaman menjadi makna. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!