Pentingnya Identitas dalam Ekonomi

Judul : Identity Economics: How Our Identities Shape Work, Wages, and

Well-Being
Pengarang : George A. Akerlof & Rachel E. Kranton
Penerbit : Princeton University Press
Cetakan : Pertama, Januari 2010
Tebal : vi + 185 halaman

Buku ini mencoba memperkenalkan ekonomi identitas (identity economics) yang merupakan cara baru untuk memahami bagaimana seseorang mengambil keputusan di bidang ekonomi. Analisis yang dilakukan pengarang dimasukkan faktor identitas dan segala norma yang berkaitan dengannya ke dalam bidang kajian ekonomi. Dengan demikian, disiplin ilmu ekonomi tidak lagi hanya membatasi diri pada masalah konsumsi dan pendapatan, disiplin ilmu ekonomi dewasa ini dituntut juga mempertimbangkan masuknya berbagai faktor nonekonomi dalam analisis ekonomi. Salah satu faktor nonekonomi yang amat berpengaruh terhadap keputusan ekonomi adalah faktor identitas dan norma yang dianut para pelaku ekonomi. Karena manusia hidup dalam konteks sosial tertentu, maka dia akan memiliki identitas sosial tertentu yang menunjukkan siapa dia dan bagaimana dia seharusnya berperilaku, serta berinteraksi dengan orang lain dalam konteks sosial tertentu.

Fokus dari masalah identitas adalah terkait dengan persoalan yang berkaitan dengan: bagaimana seharusnya seseorang atau orang lain yang berhubungan dengannya berperilaku; bagaimana masyarakat mengajarkan mereka tentang berperilaku yang layak; dan bagaimana orang termotivasi oleh pandangan atau norma ini, sehingga perilakunya sangat dipengaruhi oleh berbagai pandangan yang dianutnya.

Pandangan ekonomi identitas ini masih berada di ranah disiplin ilmu ekonomi perilaku (behavioral economics) yang membahas pengaruh faktor psikologis dalam perilaku ekonomi seseorang. Namun, ekonomi identitas ini bergerak lebih dalam lagi dengan memasukkan juga faktor konteks sosial ke dalam analisisnya, tidak sekadar pada perilaku individu. Dengan demikian, konteks sosial tempat seseorang itu tumbuh dan berkembang akan turut menentukan perilaku ekonominya. Disiplin ilmu sosiologi dan antropologi akan semakin berperan dalam analisis ini.

Sebagai salah satu guru besar ekonomi di University of California Berkeley dan juga penerima Nobel di bidang ekonomi tahun 2001, penulis buku ini, George A. Akerlof, berpendapat bahwa identitas seseorang akan menentukan siapa dia, dan bagaimana dia harus berperilaku terhadap orang lain dalam konteks sosial tertentu. Identitasnya akan memengaruhi keputusan yang diambil, karena perbedaan norma perilaku selalu berkaitan dengan perbedaan kategori sosial tempat seseorang tumbuh dan berkembang dalam konteks sosial tertentu.

Selain itu, norma yang dipegang tergantung pula pada posisi seseorang di dalam konteks sosialnya. Dengan demikian, persepsi tentang keadilan (fairness) dalam mengalokasikan sumber ekonomi yang langka, yang sangat dominan dalam tindakan ekonomi, sangat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang berinteraksi dengan siapa dan dalam konteks sosial apa.

Ada tiga tahapan analisis identitas dalam ekonomi. Pertama, menentukan kategori sosial atau identitas seseorang dalam konteks sosial tertentu. Kedua, melihat norma yang dianut oleh masing-masing identitas sosial yang ada. Ketiga, melihat keuntungan dan kerugian yang akan terjadi ketika seseorang mengidentifikasi dirinya dengan identitas sosial tertentu. Sehingga, perilaku ekonomi seseorang dapat dikaitkan dengan identitas sosial yang disandangnya.

Salah satu contoh sederhana yang diberikan oleh buku ini dalam menjawab persoalan dengan sudut pandang analisis ekonomi identitas adalah mengenai tingginya tingkat konsumsi rokok di Amerika Serikat. Seperti diketahui rokok telah menjadi problem sosial dan ekonomi yang akut di AS. Produktivitas yang hilang akibat rokok diperhitungkan mencapai US$ 82 miliar per tahun. Analisis ekonomi tradisional biasanya hanya fokus pada tingkat permintaan rokok. Permintaan rokok meningkat karena memang orang menyukai rasanya, terdapat zat adiktif dalam rokok yang menyebabkan ketergantungan, adanya pengaruh iklan atau karena harga rokok relatif terjangkau. Analisis ini akan berujung pada suatu kebijakan bahwa untuk menurunkan tingkat konsumsi rokok guna menaikkan produktivitas, maka yang harus dilakukan adalah menurunkan tingkat permintaan rokok, salah satunya dengan menaikkan harga cukai atau pajak rokok.

Dalam persoalan rokok ini analisis ekonomi identitas memiliki sudut pandang yang berbeda. Peningkatan konsumsi rokok di AS terkait dengan perubahan norma kaum perempuan yang amat dramatis pada pertengahan abad ke-20. Pada awal abad ke-20, merokok merupakan tindakan yang tidak layak buat perempuan. Jumlah perokok wanita kalah jauh dibanding jumlah perokok pria. Namun mulai tahun 1950-an seiring maraknya gerakan liberalisasi perempuan (women's lib) yang menuntut kesetaraan peran antara pria dan wanita telah menyebabkan jumlah perempuan yang merokok meningkat pesat. Dalam hal ini, yang berubah identitasnya. Perubahan identitas diiringi perubahan perilaku, dalam hal ini perilaku merokok. Kasus peningkatan konsumsi rokok ini dengan jelas menunjukkan bahwa perubahan norma sosial perempuan merupakan alasan utama terjadinya peningkatan konsumsi rokok di AS. Teori ekonomi konvensional akan menganjurkan peningkatan pajak rokok untuk mengurangi konsumsi rokok ini.

Namun hal itu ternyata gagal, karena persoalannya bukan pada konsumsi atau pendapatan, melainkan identitas. Peningkatan konsumsi rokok karena perubahan identitas, maka untuk menguranginya harus pula dilakukan dengan mengubah identitas. Dalam hal ini, bisa dilakukan dengan menggunakan iklan atau tindakan politik tertentu yang mampu mengubah identitas seseorang.

Perubahan identitas sosial lewat tindakan politik, misalnya, dilakukan oleh Mahatma Gandhi di India yang melakukan long march untuk mengubah identitas bangsa India dari bangsa terjajah menjadi bangsa yang menginginkan kemerdekaan. Begitu identitas berubah, maka perilaku seseorang akan berubah pula, termasuk perilaku ekonominya.

Penelitian di bidang psikologi dan sekarang di bidang ekonomi menunjukkan bahwa perilaku individu tergantung pada bagaimana orang lain memandang dirinya. Di bidang organisasi, seseorang harus ditempatkan di posisi atau tempat yang sesuai dengan identitasnya agar dapat lebih produktif. Jika tidak sesuai, dia akan selalu merasa menjadi outsider yang akan sangat mengganggu pencapaian kinerjanya. Peningkatan produktivitas bukan semata pada besaran insentif yang diberikan, melainkan pula pada perasaan menjadi bagian dari organisasi. Harus selalu diupayakan agar para outsider ini bisa menjadi insider yang bersama-sama membangun organisasi. Maka, dalam pendidikan militer, biasanya dimulai dengan adanya proses inisiasi yang bertujuan mengubah identitas seseorang dari outsider menjadi bagian dari insider. Jika identitas ini sudah terbentuk, masalah imbalan atau gaji menjadi sesuatu yang kurang penting. Ini yang terkadang diabaikan oleh para manajer organisasi yang selalu menganggap bahwa persoalan produktivitas semata-mata berhubungan dengan masalah insentif atau gaji.

Buku ini memberikan penegasan yang sama dengan buku George A. Akerlof sebelumnya yang memberikan pandangan bahwa persoalan ekonomi tidak harus semata-mata disolusi dengan hanya melibatkan variabel ekonomi. Bidang kajian lain – yang dalam kajian ekonomi identitas ini melibatkan kajian psikologi, sosiologi dan antropologi – dapat memberi sudut pandang yang berarti dalam melihat, menganalisis dan mencari solusi atas persoalan ekonomi. Semakin banyak perangkat analisis yang bisa digunakan, semakin banyak pula alternatif solusi yang bisa diambil dalam menghadapi masalah. Kajian ekonomi identitas ini membuka mata bahwa semua persoalan tidak semata-mata bersumber pada masalah ekonomi. Persoalan nonekonomi pun perlu diperhatikan untuk menyolusi persoalan kehidupan manusia yang ada.

*Staf Pengajar Fakultas Administrasi Unika Atma Jaya Jakarta

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)